RSS

Monthly Archives: December 2011

Kisah Tujuh Malaikat Penjaga Pintu-pintu Langit

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.

Ibnu Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma,dan bin Jabal RA.”Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut. Hadits manakah yang yang menurut pendapatmu paling penting ? Mu’adz menjawab. “Baiklah akan kuceritakan. Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur,”Hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau. Dia melanjutkan, suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Beliau menuggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa ” Puji syukur ke hadirat Allah, yang Maha berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, ” Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang, apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak dihadapan Allah SWT.”

Amal yang Tertolak.

“Hai Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya. Maka, malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia, yang menganggap amal orang tersebut itu banyak, mamuji amal-amal orang itu. Tapi sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah, ” Tamparkanlah amal ini kewajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, akau diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain, jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.” Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang cahayanya berkilauan, ia juga memuji lantaran begitu banyaknya amal tersebut. Namun malaikat langit kedua mengatakan. “Berhentilah, dan tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal ini, jangan sampai lewat hingga langit berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, penuh amal sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai dilangit ketiga, berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga, ” Tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. Allah memerintahkan untuk tidak menerima orang sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan diri di tengah-tengah orang lain.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah. Tapi ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah. ” Berhentilah, jangan dilanjutkan. Tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub (membangga-banggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untu mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub.”

Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud (dengki,iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya.” Kemudian ada lagi mal;aikat hafazhah dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat di langit keenam, malaikat ini mengatakan, “Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila orang lain yang mendapat musibah. ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pintu berikutnya.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara’an. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan kilat. Namun tatkala sampai di langit ke tujuh, malaikat penjaga langit ke tujuh mengatakan, ” Aku ini penjaga sum’at (ingin terkenal). Sesunguhnya orang ini ingin dikenal dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul di saat berkumpul, dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkanku agar amal itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah lillahi Ta’ala, itulah yang disebut riya’. Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya’.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba : shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlaq yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ke tujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah SWT. Namun Allah befirman, ” Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. Yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak di ikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian (para malaikat hafazhah). Tapi Aku tak’kan tertipu olehnya. Aku ini Yang Paling Tahu akan ha-hal yang ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. Tidak akan tersenbunyi bagi-Ku seetiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terduhulu sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apa pun yang lebih samar daripada rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk, yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.”Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali. “Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya. ” Maka semua yang ada di langit pun mengatakan. ” Tetaplah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.”

“Tahanlah Mulutmu”

Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata. ” Ya Rasulullah, bagaimana aku selamat dari apa yang baru Engkau ceritakan itu?” Rasulullah SAW menjawab. ” Wahai Mu’adz , ikutilah nabimu dalam hal keyakinan !” Mu’adz berkata lagi. ” Wahai Tuan, Engkau adalah Rasulullah. Sedangkan aku ini si Mua’adz bin jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut ?” Rasulullah SAW bersabda. ” Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahan mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekna orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekan orang lain. Jangan mengangkat diri sendiri dengan menekan orang lain. Jangan riya’ dengan amalmu agar diketahui orang lain. Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak brbisik. Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu. Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing -anjing neraka jahanam, sebagaimana firman Allah. ” Wannaasyithaati nasythaa.”(Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya). Aku(mu’adz) berkata.” Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini ?” Jawab Rasulullah SAW, ” Wahai Mu’adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah SWT. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri. dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu. Apabila seperti itu, engkau akan selamat, terhindar dari penderitaan itu .” Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan hadits itu dari Mu’adz RA) mengatakan, “Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana ia seringnya membaca Al’Quran, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al’Quran dalam majelisnya.” Arikel ini Dikutip dari “Alkisah”

http://rudhidayat.wordpress.com/2011/11/26/kisah-tujuh-malaikat-penjaga-pintu-pintu-langit/

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Alam Jabarut merupakan kelanjutan dari alam Malakut.

Kedua alam ini sama-sama di dalam alam gaib mutlak. Namun, alam Jabarut berada di atas lagi. Tidak semua penghuni alam Malakut dapat mengakses alam tersebut. Hal ini membuktikan, sesama penghuni alam Malakut tidak memiliki kapasitas yang sama di mata Allah SWT. Alam Malakut memiliki penghuni tetap, yaitu para malaikat utama, seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan lain-lain. Alam ini lebih dekat dengan “Maqam Puncak”, yang biasa disebut Haramil Qudsiyyah. Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.
Tingkatan itu adalah Maqam Ahdah yang mencakup alam Lahut dan Martabat Dzat; Maqam Wahdah mencakup alam Jabarut dan Martabat Sifat; Maqam Wahidiyah mencakup Alam Wahidiyah dan Martabat al-Asma”; Maqam Roh yang mencakup alam Malakut dan Martabat Afal; Maqam Mitsal; dan Maqam Insan dan alam syahadah.
Kalau alam Malakut merupakan tahap atau maqam ruhaniah dan taman jiwa yang hakiki serta senantiasa mempertahankan kesuciannya, alam Jabarut sudah masuk dalam wilayah Lahut atau berada dalam hamparan Marifatullah, tempat seluruh elemen dan yang banyak menjadi satu.
Alam Jabarut sudah masuk di dalam dunia rahasia Ilahi, tetapi masih tetap wilayah alam dalam arti alam gaib mutlak. Alam Jabarut sebagai bagian dari alam gaibmutlak agak sulit dijelaskan secara skema-tis karena sudah masuk wilayah antara alam dan Maqam Qudsiyah.
Alam ini berada di antara wilayah aktual dan wilayah potensial yang lazim disebut dengan al-Ayan al-Tsabitah (akan dibahas dalam artikel mendatang). Penghuni Jabarut adalah sesuatu yang bukan Tuhan dalam level Ahadiyyah, melainkan derivasinya dalam level Wahidiyat.
Dalam buku-buku tasawuf, di alam Jabarut ini berlangsung apa yang disebut sebagai Nafakh al-Ruh (peniupan roh suci Allah) yang kemudian mampu manghidup-kan jasad. Itulah sebabnya alam Jabarut biasa juga disebut dengan alam roh. Di alam ini, kita juga mengenal adanya realitas kesamaran antara “sesuatu” dan “bukan sesuatu”.
Juga kesamaran antara “alam” dan “bukan alam” serta antara “sifat” dan “asma”. Di dalam alam Jabarut terjadi proses suatu keberadaan dari keberadaan potensial ke keberadaan aktual. Alam Jabarut adalah suatu alam yang tidak umum dijangkau oleh alam-alam sebelumnya, termasuk alam Malakut.
Ini sebagai bukti, bukan hanya alam Syahadah yang mengalami tingkatan-tingkatan, tetapi alam gaib juga bertingkat-tingkat. Sesama penghuni alam gaib tidak semuanya bisa mengakses alam Jabarut, berkenalan dengan para penghuninya, dan memahami seluk-beluk peristiwa yang terjadi di dalamnya.
Bangsa jin tidak bisa mengenal seluruh perilaku malaikat, meskipun sama-sama sebagai penghuni Malakut. Sesama malaikatpun tidak saling memahami rahasia satu sama lain. Para malaikat adalah makhluk profesional yang mengerjakan tugasnya masing-masing dan tidak saling mengganggu serta mengintervensi sebagaimana diamanatkan Allah.
Di antara para malaikat, ada malaikat utama dan keutamaannya dilihat dari perspektif manusia yang memilah fungsi-fungsi para malaikat. Sementara itu, alam Jabarut merupakan alam paling tinggi karena di atasnya sudah tidak bisa lagi disebut dengan alam dalam arti ma siwa Allah.
Di atasnya, sudah bukan lagi alam, tetapi sudah masuk dalam wilayah Qudsiyyah. Sebagai alam paling tinggi, tentu menjadi objek cita-cita dan harapan manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak dituntut secara mutlak untuk memasuki alam-alam itu, namun juga tidak dilarang berupaya untuk itu.
Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan martabat-martabat kehidupan spiritual manusia dan menantang manusia untuk menaiki jenjang derajat yang lebih tinggi. Alquran mencela manusia yang cenderung sef back ke jenjang derajat lebih rendah (asfala safilin).
Kalau manusia dah berupaya menaikkan status ke alam yang lebih tinggi, namun tidak bisa menembus batas-batas alam tersebut, tidak perlu khawatir dan tak perlu dipermasalahkan. Tugas manusia hanya sebagai hamba dan khalifah. Bagaimana menjadi hamba yang lebih baik dan bagaimana menjadi khalifah lebih sukses di muka bumi ini.
Urusan menembus batas atau menying-kap tabir/hijab lalu memasuki alam dan maqam lebih tinggi itu adalah urusan dan hak prerogatif Allah. Apakah Allah mau memberi petunjuk dan siapa yang akan diberi petunjuk untuk itu, semuanya merupakan rahasia Allah.
Upaya manusia meningkatkan martabat spiritual ke jenjang lebih tinggi ditempuh para sufi dan pengamal tarekat. Namun, substansi pendekatan mereka mempunyai benang merah yang sama, yaitu manusia selalu harus melakukan pembersihan diri (tadzkiyah al-nafs) melalui berbagai “exercise” (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah).
Dalam Kitab Manhalus Shafi disebutkan langkah-langkah konkret yang dilakukan para salik untuk mencapai tujuan spiritu-alnya. Kitab ini memperkenalkan apa yang disebut dengan ilmu martabat tujuh atau ilmu tahqiq.
Ketujuh martabat itu ialah Hadratul Qudsi (puncak dari tempat penyucian diri), Unsi (tempat untuk bermesraan dengan Tuhan), Mufatahah (tempat untuk membuka rahasia Ilahi), Muwajahah (tempat untuk membuka hijab zu.lma.ni lalu menggunakan energi nuraniyah), Mujalasah (sarana untuk memisahkan dan membersihkan diri dari segala macam kemusyrikan), Muhadasah (tempat untuk menyingkap rahasia melalui Dirinya), Mxisyahadah (menyaksikan “wajah” Tuhan melalui seluruh alam ciptaan-Nya), dan Muthalaah (menghayati keberadaan Tuhan melalui hidayah-Nya).
Bagi para salik yang akan menyingkap hijab dan seterusnya melaju ke alam lebih tinggi, menurut buku ini, sangat dimungkinkan. Jika seseorang mampu melewati maqam-maqam tersebut dengan baik, dipersepsikan manusia bisa mengakses alam manapun yang ia kehendaki.
Tentu saja tidak gampang mengakses maqam demi maqam yang berlapis-lapis itu. Peningkatan dari satu maqam ke maqam berikutnya terkadang ditempuh bertahun-tahun. Namun, tidak perlu berkecil hati karena jika Allah menghendaki, tentu tidak ada rintangan berarti bagi yang bersangkutan.
Memang dalam hadis tasawuf sering diungkap bahwa ada sekitar 10 ribu hijab yang menghijab manusia sehingga sulit mencapai mukasyafah (penyingkapan). Namun, tidak perlu takut dan berkecil hati, karena 100 ribu hijab pun dapat ditembus jika Allah menghendaki.
Seorang sufi mempunyai keuletan karena mempunyai tujuan bukan untuk menembus hijab itu tersingkap, tetapi bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, tanpa target lain. Jika ada kalangan sufi memiliki tujuan membuka hijab atau memperoleh karamah dalam pencahariannya, boleh jadi dua-duanya tidak diperoleh. Tuhannya tidak didapat dan karamahnya pun hilang.
Para sufi dan salik tidak jarang terkecoh karena terdekonsentras oleh hal-hal yang tidak substansi. Mereka terkecoh oleh sesuatu yang bersifat sekunder lalu meninggalkan urusan primer. Yang primer itu adalah Tuhan yang sekunder itu adalah kelezatan dalam beribadah, kepemilikan karamah di depan jamaah, dan semacamnya.
Mari kita mencari yang substansi dan yang primer tanpa harus terkecoh dengan yang nonsubstansi dan yang bersifat sekunder, agar mikraj kita berhasil.

http://bataviase.co.id/node/624142

 
10 Comments

Posted by on 22 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Wasiat Nasehat Syekh Abdul Qadir Al-Jailany

Ikutilah Sunnah rasul dengan penuh keimanan, jangan mengerjakan bid’ah, patuhlah selalu kepada Allah swt dan Rasulnya, janganlah melanggar. Junjung tinggi tauhid, jangan menyekutukan Allah swt, selalu sucikan Allah swt, dan jangan berburuk sangka kepadanya. Pertahankanlah kebenarannya, jangan ragu sedikitpun. Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidak sabaran. Beristiqomahlah dengan berharap kepadanya; bekerja samalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam.
• Tabir penutup kalbumu tak akan tersibak selama engkau belum lepas dari alam ciptaan; tidak berpaling darinya dalam keadaan hidup selama hawa nafsumu belum pupus; selama engkau melepaskan diri dari kemaujudan dunia dan akhirat; selama jiwamu belum bersatu dengan kehendak Allah swt dan cahayanya. Jika jiwamu bersatu dengan kehendak Allah swt dan mencapai kedekatan denganNya lewat pertolonganNya. Makna hakiki bersatu dengan Allah swt ialah berlepas diri dari makhluq dan kedirian; serta sesuai dengan kehendaknya tanpa gerakmu; yang ada hanya kehendaknya. Inilah keadaan fana dirimu; dan dalam keadaan itulah engkau bersatu denganNya; bukan dengan bersatu dengan ciptaannya. Sesuai Firman Allah swt :”Tak ada sesuatupun yang serupa dengannnya. Dan dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”
• Anakku! Pertama-tama nasihatilah dirimu, kemudian nasihatilah orang lain. Perhatikanlah dirimu, jangan mengurusi orang lain, jangan mengurusi orang lain selama dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sungguh celaka, engkau mengaku tahu cara menyelamatkan orang lain! Engkau buta, bagaimana dapat menuntun orang lain? Hanya yang memiliki penglihatan tajamlah yang mampu menuntun umat manusia. Hanya seorang perenang handallah yang mampu menyelamatkan mereka dari samudera ganas. Hanya orang yang mengenal Allah swt lah yang dapat mengembalikan manusia ke jalan-Nya. Seseorang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana dapat menuntun manusia ke jalan-Nya?
• Hai orang-orang yang lalai! Secara terang-terangan engkau menentang Allah swt. yang Maha Benar dengan bermaksiat kepada-Nya tetapi merasa aman dari siksa-Nya? Ketahuilah tak lama lagi rasa aman itu akan berubah menjadi ketakutan, masa luangmu menjadi kesempitan, kesehatanmu menjadi sakit, kemuliaanmu menjadi kehinaan, kedudukanmu menjadi rendah, kekayaanmu menjadi kemiskinan. Ketahuilah! Rasa aman dari siksa Allah ‘Azza wa jalla yang akan kau peroleh di hari kiamat sesuai dengan rasa takutmu kepada-Nya di dunia ini. Sebaliknya, ketakutanmu di hari kiamat, sesuai dengan rasa amanmu (dari siksa Allah swt ) di dunia.
Sayangnya! Engkau tenggelam di dunia dan terperosok ke lembah kelalaian, sehingga cara hidupmu seperti hewan. Yang kalian ketahui hanya makan, minum, menikah dan tidur. Keadaan kalian ini tampak nyata bagi orang-orang yang berhati suci.
Rasa rakus terhadap dunia, keinginan untuk mencari dan menumpuk-numpuk harta telah memalingkan kalian dari jalan Allah ‘Azza wa jalla dan pintu-Nya.
Hai yang ternoda karena ketamakannya, andaikata kau bersama penghuni bumi bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang bukan bagianmu, maka kalian semua tidak akan mampu mendatangkannya. Oleh karena itu tinggalkanlah rasa tamak untuk mencari sesuatu ( rezeki ) yang telah ditetapkan untukmu, maupun yang tidak ditetapkan untukmu. Apakah pantas bagi seorang yang berakal untuk menghabiskan waktunya memikirkan sesuatu yang telah selesai pembagiannya….?
• Empat hal berikut menghapus agama kalian :
1. Kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui.
2. Kalian mengamalkan apa yang tidak kalian ketahui.
3. Kalian tidak mau mempelajari apa yang tidak kalian ketahui, maka selamanya kalian bodoh.
4. Kalian mencegah orang lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.
• Kalian menghadiri majelis ilmu hanya untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan duniawi kalian, bukan untuk mengobati penyakit hati. Kalian tidak mendengarkan nasihat para penceramah, tetapi meneliti kesalahan mereka, kemudian menghina dan mentertawakannya, kalian juga bermain-main dalam majelis. Sesungguhnya kalian sedang mempertaruhkan diri kalian kepada Allah swt yang Maha Agung dan Maha Mulia. Segeralah bertobat, jamgan mencontoh musuh-musuh Allah ‘Azza wa jalla. Berusahalah untuk mengambil manfaat dari apa yang kalian dengar.
• Berpuasalah! Tetapi ketika berbuka jangan lupakan faqir miskin. Berilah mereka sedikit makanan yang kau gunakan untuk berbuka. Jangan makan sendiri, sebab orang yang makan sendiri dan tidak memberi makan orang lain, dikhawatirkan kelak akan menjadi miskin dan hidup susah.
Perut kalian kenyang, tetangga kalian kelaparan, tetapi kalian mengaku sebagai Mukmin. Iman kalian tidaklah sah, jika kalian memiliki banyak makanan sisa, keluarga kalian telah makan, tetapi kalian tolak seorang peminta yang berdiri di depan pintu kalian, sehingga ia pergi dengan tangan hampa.
Jika ini kalian lakukan, ketahuilah, tak lama lagi kalian akan mengetahui berita kalian, kalian akan menjadi sepertinya, kalian akan diusir sebagaimana kalian mengusir peminta itu ketika kalian mampu memberinya.
Sungguh celaka dirimu, mengapa engkau tidak segera bangun dan memberikan sesuatu yang kau miliki dengan tanganmu sendiri. Andaikata kalian mau bangun dan memberinya sesuatu, maka kalian telah melakukan dua kebaikan, yaitu merendahkan diri kepada sang peminta dan berderma kepadanya. Lihatlah Nabi kita Muhammad saw, beliau berderma kepada peminta, memerah susu onta dan menjahit pakaian beliau dengan kedua tangan beliau sendiri. Bagaimana kalian berani mengaku sebagai pengikut beliau saw, perbuatan beliau saw. Kalian hanya pandai mengaku, tetapi tidak memiliki bukti….!

• Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu: “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”
Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu):
“Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu): “Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu):
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2011/03/normal-0-false-false-false.html

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Kisah Nabi Zakaria AS

Ketenangan menyelubungi segala sesuatu, hingga hembusan angin sepoi musim semi juga terdengar. Cahaya redup sebuah lampu yang lemah menerangi kegelapan. Keredupannya lembut menenangkan jiwa. Tempat itu memiliki kemuliaan, wibawa, dan kesucian di dalam hati. Tempat itu adalah MIHRAB seorang Nabi tukang kayu bernama ZAKARIYA alaihissalam.

Di tengah cahaya redup itu tampak bayangan seorang wanita yang sedang beribadah, sujud, dan ruku’ kepada Tuhan-Nya. Seolah-olah cahaya dalam mihrab itu berasal darinya. Seandainya khusyu’ itu adalah seorang manusia, maka dialah si khusyu’ itu. Dialah MARYAM putra Imran, seorang wanita yang dia memeliharanya pada hari di mana pena-pena ditinggikan dengan perintah dari Allah azza wa jalla.

Terdengar langkah-langkah renta lelaki tua berjalan perlahan-lahan ke mihrab itu. Zakariya terkejut karena di mihrabnya telah tersaji buah-buahan dan makanan lezat. Ia heran dan berkata kepada Maryam, “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” (QS. Ali Imran (3): 37).

Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (QS. Ali Imran (3): 37)

Zakariya yang renta termakan usia telah kering air maninya. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Namun keberadaan makanan di mihrab itu membangkitkan harapannya. Ia masuk ke dalam mihrabnya dan diapun sujud dengan khusyu’ sambil memohon kepada Tuhannya dengan pengharapan yang teramat sangat,
“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!”

Seolah-olah dia menghampiri Tuhannya, dengan suara lembut penuh ketundukan ia mengadu kepada Tuhannya, bermunajat dengan rasa malu karena meminta kebutuhan duniawi kepada-Nya.

Ia berkata pelan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku mandul. Maka anugerahkanlah aku dari Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (QS. Maryam (19): 3-6)

Lalu ia memperkuat permohonannya dengan berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Zakariya tersungkur dalam khusyu’nya di mihrab itu. Ia menangis ditemani cahaya redup menenangkan jiwa. Lalu datanglah malaikat yang mulia (Jibril) menyampaikan firman Allah kepadanya dengan suara yang lembut. Malikat itu berkata,
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya YAHYA, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam (19): 7)

Malaikat memanggil Zakariya yang tengah berdiri shalat di mihrabnya, “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shaleh” (QS. Ali Imran (3): 39)

Zakariyya terkejut, dan sangat gembira dan senang. Namun ia bertanya heran:
“Bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sudah tua” (QS. Maryam (19): 8 – juga didalam QS. Ali Imran (3): 40)

Malaikat menjawab kepada Zakariya, “Demikianlah, Dia berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal kamu (diwaktu itu) belum ada sama sekali. (QS. Maryam (19): 9) Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Ali Imran (3): 40)

Maka Zakariya menghendaki suatu tanda atau dalil untuk meraih apa yang dijanjikan Allah kepadanya dari kehamilan istrinya. Diapun berkata, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”
Tuhannya menjawab dengan berfirman:
“Tanda bagimu ialah kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Setelah diberi khabar gembira kepadanya, diapun keluar kepada kaumnya dengan perasaan gembira. Hatinya diselimuti kebahagiaan dan ia memberi isyarat kepada kaumnya agar mereka bertasbih pada pagi dan petang. Dan agar banyak berdzikir di waktu siang dan malam hari.

Semangat hidup kembali tumbuh dari jiwa seorang tua renta dan wanita tua yang mandul. Yahya lahir kemuka bumi guna menghidupkan suasana gembira antara kedua ibu bapaknya sebagai tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai bukti tanda kekuasaan Allah azza wa jalla.

HIKMAH KISAH

Ada banyak hikmah dalam kisah ini.
Diantaranya bahwa setiap mukmin tidak boleh berputus asa dalam rahmat dan karunia Allah. Bahwasanya Allah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita diperintahkan untuk bermunajat dan memohon hanya kepada-Nya.

Firman Allah SWT:
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min (40) : 60)

Dalam kisah ini juga dicontohkan adab bermunajat kepada Allah dengan memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan sungguh-sungguh sambil merendahkan suara.

Dan Allah mengabadikan do’a Nabi Zakariya (dan juga Nabi Ibrahim as) sebagai contoh do’a yang patut diucapkan oleh seluruh orang tua.
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Dari kisah ini juga terdapat perintah Allah kepada Zakariya as untuk bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Sesungguhnya perintah ini tidak hanya diperuntukkan kepada Nabi Zakariya alaihissalam saja. Tapi diperintahkan Allah kepada seluruh kaum muslimin:

Firman Allah:
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. Al-Insaan (76): 25)

“Maka bersabarlah kamu, karena janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (QS. Al-Mukmin (40): 55)

Seorang ulama besar bernama Hasan al-Banna rahimahullah menyusun sebuah kumpulan dzikir pagi dan petang yang lazim (matsur) dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dzikir dan do’a pagi dan petang “al-Matsurat Sughra” bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. (Terlalu panjang bila harus dijabarkan di sini, Insya Allah akan kita bahas dilain kesempatan bila Allah memampukan hamba)

Dzikir pagi dan petang ini masuk dalam salah satu keutamaan Shalat Subuh dan Shalat Ashar disbanding shalat fardhu yang lainnya. Dimana, al-Matsurat Sughra ini ditutup dengan sebuah do’a yang sangat indah dan sungguh dalam maknanya. Sebuah permohonan seorang hamba untuk sahabat-sahabat dan saudara-saudara seiman baik yang kita kenal baik atau tidak.

Berikut saya kutip do’a penutup dzikir pagi dan petang al-Matsurat Sughra (yang artinya):

Ya Allah…
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta-Mu
Telah berjumpa dalam ta’at kepada-Mu
Telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu
Telah berpadu dalam syari’at-Mu

Teguhkanlah, ya Allah… ikatannya
Kekalkanlah cinta kasihnya
Tunjukilah jalan-jalanya
Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang
Lapangkanlah dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu
Dan indahnya bertawakkal kepada-Mu
Hidupkanlah hati ini dengan makrifah kepada-Mu
Matikanlah ia syahid dijalan-Mu

Sungguh Engkau sebaik-baik Penolong.
Ya Allah kabulkanlah..

Sampaikan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad
Kepada keluarga, sahabat-sahabatnya
Dan juga sampaikanlah salam
Amiin…

Demikianlah, sepenggal Kisah Nabi Zakariya alaihissalam yang bermunajat kepada Sang Penciptanya.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya untuk selalu beriman dan bermunajat hanya kepada Allah SWT.

Sesungguhnya dalam Kisah-kisah orang terdahulu terdapat hikmah dan pengajaran bagi orang yang berfikir.

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf (12) : 111)

Dan sebaik-baik Kisah adalah Kisah yang diabadikan Allah dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Dan ilmu yang terbaik juga ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Doa Nabi Sulaiman

Doa Nabi Sulaiman as Untuk Kerajaan Tiada Banding

Nabi Sulaiman dan nabi Daud termasuk nabi-nabi Ilahi yang Allah swt sebutkan dengan baik di dalam al-Qur’an. Karena nabi Sulaiman as memiliki ketertarikan luar biasa kepada kuda, tentara beliau mengatur pertandingan balapan kuda untuk mempersiapkan diri berperang menghadapi musuh dan nabi Sulaiman as menyaksikan pertunjukan tersebut. Pertandingan berjalan lama sementara waktu utama shalat telah berlalu. Allah swt yang hendak menguji nabi Sulaiman as memaparkan sebuah jenazah di hadapan beliau as. Nabi Sulaiman as menghadapkan wajah ke hadirat Ilahi dan mengangkat tangan berdoa dan berkata:

رَبِّ اغْفِرْ لى‏ وَهَبْ لى‏ مُلْكاً لا يَنْبَغى‏ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدى‏ إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”[1]

Allah swt pun mewujudkan keinginan beliau dan menganugerahkan sebuah kerajaan tiada banding kepada beliau as. Setelah ribuan tahun berlalu kisah kerajaan nabi Sulaiman masih tetap dibicarakan dan kebesaran dan keagungannya selalu diingat.
Doa Nabi Sulaiman as Untuk Taufik Mensyukuri Nikmat-nikmat Ilahi

Pada doa sebelumnya telah kita katakan bahwa Allah swt memberikan sebuah kerajaan tiada banding kepada nabi Sulaiman as. Meskipun mayoritas manusia ketika mencapai kekuasaan dan kekayaan melalaikan Allah swt Sang Pemberi nikmat, akan tetapi setiapkali nabi Sulaiman as melihat kenikmatan-kenikmatan material dan spiritual yang dianugerahkan oleh Allah swt kepada beliau as dan sebelumnya kepada ayahanda beliau, nabi Daud as, beliau berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”[2]

Suatu hari nabi Sulaiman as bersama bala tentara melewati suatu wilayah dan beliau as mendengar bahwa pemimpin para semut berkata kepada semut-semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Nabi Sulaiman as yang memahami bahasa seluruh makhluk hidup ketika mendengar ucapan ini tersenyum dengan tertawa dan mengangkat tangan berdoa seraya mengucapkan demikian:

رَبِّ أَوْزِعْنى‏ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الّتى‏ أَنْعَمْتَ عَلَىّ وَعَلى‏ والِدَىَّ وَأَنْ اَعْمَلَ صالِحاً تَرْضيهُ وَأَدْخِلْنى‏ بِرَحْمَتِكَ فى‏ عِبادِكَ الصَّالِحينَ

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”[3]

Nabi Daud Dan Sulaiman Ber-“Hamd” Kepada Allah swt

Ber-“hamd” (memuji) dan bersyukur kepada yang membantu dan menolong adalah sebuah perbuatan yang terpuji dan harus. Dan siapakah yang seperti Allah swt memberikan anugerah, pemaafan dan kebaikan! Apa pun kenikmatan, kemampuan dan kesempurnaan yang kita miliki adalah dari Dia. Allah swt menganugerahkan berbagai kenikmatan kepada dua nabi-Nya, Daud dan Sualaiman as dan memberikan sebagian kenikmatan kepada keduanya yang tidak diberikan kepada yang lain. Allah swt memberikan ilmu tentang hukum dan pengadilan dan membuat tembaga menjadi lembut di tangan beliau as dan menganugerahkan kepada nabi Sulaiman as pengetahuan tentang bahasa burung dan binatang-binatang, penguasaan jin, pengendaraan udara dan kerajaan tiada banding. Namun kedua pemimpin kaum muwahhid memuji dan bersyukur kepada Allah swt dan mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذى‏ فَضَّلَنا عَلى‏ كَثيرٍ مِنْ عِبادِهِ الْمُؤْمِنينَ

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”[4]

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

MABUK DALAM CINTA TERHADAP ALLAH

Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali bahwa pada suatu hari Nabi Isa a.s berjalan di hadapan seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Bila pemuda yang sedang menyiram air itu melihat kepada Nabi Isa a.s berada di hadapannya maka dia pun berkata, “Wahai Nabi Isa a.s, kamu mintalah dari Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku seberat semut Jarrah cintaku kepada-Nya.”
Berkata Nabi Isa a.s, “Wahai saudaraku, kamu tidak akan terdaya untuk seberat Jarrah itu.”
Berkata pemuda itu lagi, “Wahai Isa a.s, kalau aku tidak terdaya untuk satu Jarrah, maka kamu mintalah untukku setengah berat Jarrah.”
Oleh kerana keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa a.s pun berdoa, “Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah berat Jarrah cintanya kepada-Mu.” Setelah Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun berlalu dari situ.
Selang beberapa lama Nabi Isa a.s datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa a.s tidak dapat berjumpa dengan pemuda itu. Maka Nabi Isa a.s pun bertanya kepada orang yang lalu-lalang di tempat tersebut, dan berkata kepada salah seorang yang berada di situ bahwa pemuda itu telah gila dan kini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa a.s mendengat penjelasan orang-orang itu maka beliau pun berdoa kepada Allah S.W.T, “Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu.” Selesai saja Nabi Isa a.s berdoa maka beliau pun dapat melihat pemuda itu yang berada di antara gunung-ganang dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa a.s pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa a.s, lalu Nabi Isa berkata, “Aku ini Isa a.s.”Kemudian Allah S.W.T menurunkan wahyu yang berbunyi, “Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah berat Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, kalau engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak mengetahuinya.”
Barangsiapa yang mengakui tiga perkara tetapi tidak menyucikan diri dari tiga perkara yang lain maka dia adalah orang yang tertipu.
1. Orang yang mengaku kemanisan berzikir kepada Allah, tetapi dia mencintai dunia.
2. Orang yang mengaku cinta ikhlas di dalam beramal, tetapi dia inginmendapat sanjungan dari manusia.
3. Orang yang mengaku cinta kepada Tuhan yang menciptakannya, tetapi tidak berani merendahkan dirinya.

Rasulullah S.A.W telah bersabda, “Akan datang waktunya umatku akan mencintai lima lupa kepada yang lima :
1. Mereka cinta kepada dunia. Tetapi mereka lupa kepada akhirat.
2. Mereka cinta kepada harta benda. Tetapi mereka lupa kepada hisab.
3. Mereka cinta kepada makhluk. Tetapi mereka lupa kepada al-Khaliq.
4. Mereka cinta kepada dosa. Tetapi mereka lupa untuk bertaubat.
5. Mereka cinta kepada gedung-gedung mewah. Tetapi mereka lupa kepada kubur.”

http://heniputra.com/mabuk-dalam-cinta-terhadap-allah.html/

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

BERPUASA PADA 10 MUHARRAM DAN PERISTIWA-PERISTIWA YANG BERLAKU PADA HARI TERSEBUT

Dari Ibnu Abbas r.a berkata Rasulullah S.A.W bersabda : ” Sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka Allah S.W.T akan memberi kepadanya pahala 10,000 malaikat dan sesiapa yang berpuasa pada hari Aasyura (10 Muharram) maka akan diberi pahala 10,000 orang berhaji dan berumrah, dan 10,000 pahala orang mati syahid, dan barang siapa yang mengusap kepala anak-anak yatim pada hari tersebut maka Allah S.W.T akan menaikkan dengan setiap rambut satu darjat. Dan sesiapa yang memberi makan kepada orang yang berbuka puasa pada orang mukmin pada hari Aasyura, maka seolah-olah dia memberi makan pada seluruh ummat Rasulullah S.A.W yang berbuka puasa dan mengenyangkan perut mereka.”
Lalu para sahabat bertanya Rasulullah S.A.W : ” Ya Rasulullah S.A.W, adakah Allah telah melebihkan hari Aasyura daripada hari-hari lain?”. Maka berkata Rasulullah S.A.W : ” Ya, memang benar, Allah Taala menjadikan langit dan bumi pada hari Aasyura, menjadikan laut pada hari Aasyura, menjadikan bukit-bukit pada hari Aasyura, menjadikan Nabi Adam dan juga Hawa pada hari Aasyura, lahirnya Nabi Ibrahim juga pada hari Aasyura, dan Allah S.W.T menyelamatkan Nabi Ibrahim dari api juga pada hari Aasyura, Allah S.W.T menenggelamkan Fir’aun pada hari Aasyura, menyembuhkan penyakit Nabi Ayyub a.s pada hari Aasyura, Allah S.W.T menerima taubat Nabi Adam pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengampunkan dosa Nabi Daud pada hari Aasyura, Allah S.W.T mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman juga pada hari Aasyura, dan akan terjadi hari kiamat itu juga pada hari Aasyura !”.

http://heniputra.com/berpuasa-pada-10-muharram-dan-peristiwa-peristiwa-yang-berlaku-pada-hari-tersebut.html/

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan