RSS

Kisah Nabi Zakaria AS

19 Dec

Ketenangan menyelubungi segala sesuatu, hingga hembusan angin sepoi musim semi juga terdengar. Cahaya redup sebuah lampu yang lemah menerangi kegelapan. Keredupannya lembut menenangkan jiwa. Tempat itu memiliki kemuliaan, wibawa, dan kesucian di dalam hati. Tempat itu adalah MIHRAB seorang Nabi tukang kayu bernama ZAKARIYA alaihissalam.

Di tengah cahaya redup itu tampak bayangan seorang wanita yang sedang beribadah, sujud, dan ruku’ kepada Tuhan-Nya. Seolah-olah cahaya dalam mihrab itu berasal darinya. Seandainya khusyu’ itu adalah seorang manusia, maka dialah si khusyu’ itu. Dialah MARYAM putra Imran, seorang wanita yang dia memeliharanya pada hari di mana pena-pena ditinggikan dengan perintah dari Allah azza wa jalla.

Terdengar langkah-langkah renta lelaki tua berjalan perlahan-lahan ke mihrab itu. Zakariya terkejut karena di mihrabnya telah tersaji buah-buahan dan makanan lezat. Ia heran dan berkata kepada Maryam, “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” (QS. Ali Imran (3): 37).

Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (QS. Ali Imran (3): 37)

Zakariya yang renta termakan usia telah kering air maninya. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Namun keberadaan makanan di mihrab itu membangkitkan harapannya. Ia masuk ke dalam mihrabnya dan diapun sujud dengan khusyu’ sambil memohon kepada Tuhannya dengan pengharapan yang teramat sangat,
“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!”

Seolah-olah dia menghampiri Tuhannya, dengan suara lembut penuh ketundukan ia mengadu kepada Tuhannya, bermunajat dengan rasa malu karena meminta kebutuhan duniawi kepada-Nya.

Ia berkata pelan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku mandul. Maka anugerahkanlah aku dari Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (QS. Maryam (19): 3-6)

Lalu ia memperkuat permohonannya dengan berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Zakariya tersungkur dalam khusyu’nya di mihrab itu. Ia menangis ditemani cahaya redup menenangkan jiwa. Lalu datanglah malaikat yang mulia (Jibril) menyampaikan firman Allah kepadanya dengan suara yang lembut. Malikat itu berkata,
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya YAHYA, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam (19): 7)

Malaikat memanggil Zakariya yang tengah berdiri shalat di mihrabnya, “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shaleh” (QS. Ali Imran (3): 39)

Zakariyya terkejut, dan sangat gembira dan senang. Namun ia bertanya heran:
“Bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sudah tua” (QS. Maryam (19): 8 – juga didalam QS. Ali Imran (3): 40)

Malaikat menjawab kepada Zakariya, “Demikianlah, Dia berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal kamu (diwaktu itu) belum ada sama sekali. (QS. Maryam (19): 9) Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Ali Imran (3): 40)

Maka Zakariya menghendaki suatu tanda atau dalil untuk meraih apa yang dijanjikan Allah kepadanya dari kehamilan istrinya. Diapun berkata, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”
Tuhannya menjawab dengan berfirman:
“Tanda bagimu ialah kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Setelah diberi khabar gembira kepadanya, diapun keluar kepada kaumnya dengan perasaan gembira. Hatinya diselimuti kebahagiaan dan ia memberi isyarat kepada kaumnya agar mereka bertasbih pada pagi dan petang. Dan agar banyak berdzikir di waktu siang dan malam hari.

Semangat hidup kembali tumbuh dari jiwa seorang tua renta dan wanita tua yang mandul. Yahya lahir kemuka bumi guna menghidupkan suasana gembira antara kedua ibu bapaknya sebagai tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai bukti tanda kekuasaan Allah azza wa jalla.

HIKMAH KISAH

Ada banyak hikmah dalam kisah ini.
Diantaranya bahwa setiap mukmin tidak boleh berputus asa dalam rahmat dan karunia Allah. Bahwasanya Allah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita diperintahkan untuk bermunajat dan memohon hanya kepada-Nya.

Firman Allah SWT:
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min (40) : 60)

Dalam kisah ini juga dicontohkan adab bermunajat kepada Allah dengan memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan sungguh-sungguh sambil merendahkan suara.

Dan Allah mengabadikan do’a Nabi Zakariya (dan juga Nabi Ibrahim as) sebagai contoh do’a yang patut diucapkan oleh seluruh orang tua.
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Dari kisah ini juga terdapat perintah Allah kepada Zakariya as untuk bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Sesungguhnya perintah ini tidak hanya diperuntukkan kepada Nabi Zakariya alaihissalam saja. Tapi diperintahkan Allah kepada seluruh kaum muslimin:

Firman Allah:
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. Al-Insaan (76): 25)

“Maka bersabarlah kamu, karena janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (QS. Al-Mukmin (40): 55)

Seorang ulama besar bernama Hasan al-Banna rahimahullah menyusun sebuah kumpulan dzikir pagi dan petang yang lazim (matsur) dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dzikir dan do’a pagi dan petang “al-Matsurat Sughra” bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. (Terlalu panjang bila harus dijabarkan di sini, Insya Allah akan kita bahas dilain kesempatan bila Allah memampukan hamba)

Dzikir pagi dan petang ini masuk dalam salah satu keutamaan Shalat Subuh dan Shalat Ashar disbanding shalat fardhu yang lainnya. Dimana, al-Matsurat Sughra ini ditutup dengan sebuah do’a yang sangat indah dan sungguh dalam maknanya. Sebuah permohonan seorang hamba untuk sahabat-sahabat dan saudara-saudara seiman baik yang kita kenal baik atau tidak.

Berikut saya kutip do’a penutup dzikir pagi dan petang al-Matsurat Sughra (yang artinya):

Ya Allah…
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta-Mu
Telah berjumpa dalam ta’at kepada-Mu
Telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu
Telah berpadu dalam syari’at-Mu

Teguhkanlah, ya Allah… ikatannya
Kekalkanlah cinta kasihnya
Tunjukilah jalan-jalanya
Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang
Lapangkanlah dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu
Dan indahnya bertawakkal kepada-Mu
Hidupkanlah hati ini dengan makrifah kepada-Mu
Matikanlah ia syahid dijalan-Mu

Sungguh Engkau sebaik-baik Penolong.
Ya Allah kabulkanlah..

Sampaikan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad
Kepada keluarga, sahabat-sahabatnya
Dan juga sampaikanlah salam
Amiin…

Demikianlah, sepenggal Kisah Nabi Zakariya alaihissalam yang bermunajat kepada Sang Penciptanya.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya untuk selalu beriman dan bermunajat hanya kepada Allah SWT.

Sesungguhnya dalam Kisah-kisah orang terdahulu terdapat hikmah dan pengajaran bagi orang yang berfikir.

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf (12) : 111)

Dan sebaik-baik Kisah adalah Kisah yang diabadikan Allah dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Dan ilmu yang terbaik juga ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: