RSS

Daily Archives: 7 December 2011

Benarkah Benua Atlantis Yang Hilang Berada di Indonesia?

Tak perlu terlalu serius membaca tulisan ini, anggaplah sebagai suatu fiksi kalau anda tidak suka. Tapi, kalau anda mau serius dan sedikit membuka pikiran terhadap berbagai kemungkinan, ya, silahkan saja.”

Setelah berkonsultasi dengan “pakar” soal Atlantis dari Indonesia, saya dapat jawaban sebagai berikut: “Ada banyak versi tentang Atlantis, E. Cayce bilang bahwa Lemuria itu nama benuanya, dan Atlantis itu nama negaranya (diperkirakan eksis 24.000 – 10.000 SM.)

“Negara Atlantis itu terbagi dalam beberapa daerah atau pulau atau kalau sekarang istilahnya mungkin provinsi atau negara bagian. Daerah kekuasaan Atlantis terbentang dari sebelah barat Amerika sekarang sampai ke Indonesia. Atlantis menurut para ahli terkena bencana alam besar paling sedikit 3 kali sehingga menenggelamkan negara itu.

“Jadi, kemungkinan besar Atlantis itu tenggelam tidak sekaligus, tetapi perlahan-lahan, dan terakhir yang meluluh lantakkan negara itu terjadi sekitar tahun 12.000 – 10.000 SM. Pada masa itu es di kutub mencair dan menenggelamkan negara itu. Terjadi banjir besar yang dahsyat, dan penduduk Atlantis pun mengungsi ke dataran-dataran yang lebih tinggi yang tidak tenggelam oleh bencana tersebut. Itulah sebabnya di beberapa kebudayaan mulai dari timur sampai barat, terdapat mitos-mitos yang sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh. Kenapa bisa ada berbagai mitos sejenis dengan kisah perahu Nabi Nuh pada berbagai peradaban di dunia pada masa lalu? Kemungkinan besar karena memang mitos itu berasal satu “kejadian yang sama” dari satu kebudayaan dan tempat yang sama.

“Setelah negeri Atlantis tenggelam, maka penduduk Atlantis itu pun mengungsi ke daerah yang lebih tinggi yang sekarang kita kenal dengan Amerika, India, Eropa, Australia, Cina, dan Timur Tengah. Mereka membawa ilmu pengetahuan-teknologi dan kebudayaan Atlantis ke daerah yang baru.”

Di kalangan para Spiritualis, termasuk Madame Blavitszki — pendiri Teosofi — yang mengklaim bahwa ajarannya berasal dari seorang “bijak” dari benua Lemuria di India. Di dalam kebudayaan Lemuria, spiritualitasnya didasari oleh sifat feminin, atau mereka lebih memuja para dewi sebagai simbol energi feminin, ketimbang memuja para dewa sebagai simbol energi maskulin.

Hal ini cocok dengan spiritualitas di Indonesia yang pada dasarnya memuja dewi atau energi feminin, seperti Dwi Sri dan Nyi Roro Kidul (di Jawa) atau Bunda Kanduang (di Sumatera Barat, Bunda Kanduang dianggap sebagai simbol dari nilai-nilai moral dan Ketuhanan). Bahkan di Aceh pada masa lalu yang dikenal sebagai Serambi Mekkah pernah dipimpin 5 kali oleh Sultana (raja perempuan) sebelum masuk pengaruh kebudayaan dari Arab yang sangat maskulin. Sebelum itu di kerajaan Kalingga, di daerah Jawa Barat/Jawa Tengah sekarang, pernah dipimpin oleh Ratu Sima yang terkenal sangat bijak dan adil. Di dalam kebudayaan lain, kita sangat jarang mendengar bahwa penguasa tertinggi (baik spiritual atau politik adalah perempuan), kecuali di daerah yang sekarang disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah masa Atlantis (Lemuria) ada 5 ras yang berkuasa, yaitu: kulit kuning, merah, coklat, hitam, dan pucat. Pada masa itu kebudayaan yang menonjol adalah kulit merah, jadi kemungkinan besar kebudayaan Indian/Aztec/Maya juga berasal dari Atlantis. Tetapi, kemudian kebudayaan itu mengalami kemunduran dan selanjutnya kebudayaan kulit hitam/coklat di India yang mulai menguasai dunia. Inilah kemungkinan besar jaman kejayaan yang kemudian dikenal menjadi Epos Ramayana (7000 tahun lalu) dan Epos Mahabarata (5000 tahun lalu). Tetapi, kemudian kebudayaan ini pun hancur setelah terjadi perang Baratayuda yang amat dahsyat itu, kemungkinan perang itu menggunakan teknologi laser dan nuklir (sisa radiasi nuklir di daerah yang diduga sebagai padang Kurusetra sampai saat ini masih bisa dideteksi cukup kuat).

Selanjutnya, kebudayaan itu mulai menyebar ke Mesir, Mesopotamia (Timur Tengah), Cina, hingga ke masa sekarang. Kemungkinan besar setelah perang Baratayuda yang meluluhlantakkan peradaban dunia waktu itu, ilmu pengetahuan dan teknologi (baik spiritual maupun material) tak lagi disebarkan secara luas, tetapi tersimpan hanya pada sebagian kecil kelompok esoteris yang ada di Mesir, India Selatan, Tibet, Cina, Indonesia (khususnya Jawa) dan Timur Tengah. Ilmu Rahasia ini sering disebut sebagai “Alkimia”, yaitu ilmu yang bisa mengubah tembaga menjadi emas (ini hanyalah simbol yang hendak mengungkapkan betapa berharganya ilmu ini, namun juga sangat berbahaya jika manusia tidak mengimbanginya dengan kebijakan spiritual)

Kelompok-kelompok esoteris ini mulai menyadari bahwa mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi saja, tanpa mengembangkan kebajikan spiritual, akan sangat berbahaya bagi peradaban dunia. Itulah sebabnya kelompok-kelompok esoteris ini memulai kerjanya dengan mengembangkan ilmu spiritual seperti tantra, yoga, dan meditasi (tentu saja dengan berbagai versi) untuk meningkatkan Kesadaran dan menumbuhkan Kasih dalam diri manusia. Ajaran-ajaran spiritual inilah yang kemudian menjadi dasar dari berbagai agama di dunia. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi disimpan dahulu dan hanya diajarkan kepada orang-orang yang dianggap telah mampu mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam dirinya.

Tetapi, manusia memang mahluk paling ironik dari berbagai spesies yang ada di bumi. Berabad kemudian, ilmu spiritual ini justru berkembang menjadi agama formal yang bahkan menjadi kekuatan politik. Agama justru berkembang menjadi pusat konflik dan pertikaian di mana-mana. Sungguh ironik, ilmu yang tadinya dimaksudkan untuk mencegah konflik, justru menjadi pusat konflik selama berabad-abad. Tetapi, itu bukan salah agama, melainkan para pengikut ajaran agama itulah yang tidak siap memasuki inti agama: spiritualitas.

Pada abad pertengahan di Eropa, masa Aufklarung dan Renaissance, kelompok-kelompok esoteris ini mulai bergerak lagi. Kali ini mereka mulai menggunakan media yang satunya lagi — ilmu pengetahuan dan teknologi — untuk mengantisipasi perkembangan agama yang sudah cenderung menjadi alat politis dan sumber konflik antar bangsa dan peradaban. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang selama ini disimpan mulai diajarkan secara lebih luas. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Leonardo Da Vinci, Dante Alegheri, Copernicus, Galelio Galilae, Bruno, Leibniz, Honore de Balzac, Descartes, Charles Darwin bahkan sampai ke Albert Einstein, T.S. Elliot, dan Carl Gustave Jung adalah tokoh-tokoh ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni modern yang berhubungan — kalau tidak bisa dikatakan dididik — oleh kelompok-kelompok esoteris ini.

Tetapi, sejarah ironik kembali berkembang, kebudayaan dunia saat ini menjadi sangat materialistis. Ilmu pengetahuan dan teknologi yang seharusnya digunakan untuk “menyamankan” kehidupan sehari-hari manusia, sehingga manusia punya lebih banyak waktu untuk mengembangkan potensi spiritualitas di dalam dirinya, justru menjadi sumber pertikaian dan alat politik. Konflik terjadi di mana-mana. Ribuan senjata nuklir yang kekuatannya 10 – 100 kali lebih kuat dari bom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki pada tahun 1945, kini ada di bumi, dan dalam hitungan detik siap meluluhlantakkan spesies di bumi.

Belum lagi eksploitasi secara membabi buta terhadap alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan dan pemanasan global di mana-mana. Menurut para ahli, hutan di bumi saat ini dalam jangka seratus tahun telah berkurang secara drastis tinggal 15%. Ini punya dampak pada peningkatan efek rumah kaca yang menimbulkan pemanasan global, diperkirakan kalau manusia tidak secara bijak bertindak mengatasi kerusakan lingkungan ini, maka 30 sampai 50 tahun lagi, sebagian besar kota-kota di dunia akan tenggelam, termasuk New York City, Tokyo, Rio De Jenero, dan Jakarta. Dan sejarah tenggelamnya negeri Atlantis akan terulang kembali.

Jaman ini adalah jaman penentuan bagi kebudayaan “Lemuria” atau “Atlantis” yang ada di bumi. Pada saat ini dua akar konflik, yaitu “agama” dan “materialisme” telah bersekutu dan saling memanfaatkan satu sama lain serta menyebarkan konflik di muka bumi. Agama menjadi cenderung dogmatik, formalistik, fanatik, dan anti-human persis seperti perkembangan agama di Eropa dan timur tengah sebelum masa Aufklarung. Esensi agama, yaitu spiritualitas yang bertujuan untuk mengembangkan Kesadaran dan Kasih dalam diri manusia, malah dihujat sebagai ajaran sesat, bid’ah, syirik, dll. Agama justru bersekutu kembali dengan pusat-pusat kekuasaan politik, terbukti pada saat ini begitu banyak “partai-partai agama” yang berkuasa di berbagai negara, baik di negara berkembang maupun di negara maju. Di sisi lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlandaskan pada paham materialisme juga sudah terlanjur menguasai dunia. Persekutuan antara kaum agama dan materialisme, atau “agama-materialistik” ini mulai menggejala di mana-mana, berwujud dalam bentuk-bentuk teror yang mengancam dunia.

Sudah saatnya, para spiritualis di “Lemuria” mulai bersatu kembali. Segala pertikaian remeh-temeh tentang materialisme-spiritualistik atau spiritualisme-materialistik harus diselesaikan sekarang. Tugas yang sangat penting tengah menanti, bukan tugas profetik, tetapi tugas yang benar-benar menyangkut keberlangsungan eksistensi seluruh spesies di “Lemuria”, di bumi yang amat indah ini. Tugas ini tidak bisa dikerjakan oleh satu dua orang Buddha atau Nabi atau Wali atau Resi atau Avatar seperti pada masa lalu. Tetapi, seluruh “manusia-biasa” juga harus terlibat di dalam tugas ini.

Jika hipotesis Prof. Santos*) memang benar, bahwa Atlantis pada masa lalu itu berada di Indonesia, maka hal itu berarti kita yang tinggal di sini punya tugas yang penting. Ini bukan suatu kebetulan. Kita yang tinggal di Indonesia harus bangkit kembali, bangkit Kesadarannya, bangkit Kasihnya, bangkit sains dan teknologinya untuk mengubah jalannya sejarah Lemuria yang selama ini sudah salah arah.

Kejayaan masa lalu bukan hanya untuk dikenang, atau dibanggakan, tetapi harus menjadi “energi-penggerak” kita untuk mengambil tanggung jawab dan tugas demi kejayaan Indonesia dan keberlanjutan peradaban Lemuria beserta seluruh spesies yang ada di bumi ini. Seperti kata Bapak Anand Krishna, dalam bukunya yang bertajuk Indonesia Jaya, “Masa depanmu jauh lebih indah dan jaya daripada masa lalumu, wahai putra-putri Indonesia!”

Indonesia Jaya!
ahmad yulden erwin

CATATAN:
*) Prof. Arysio Nunes Santos is a Nuclear Physicist with a Ph. D. in Nuclear Physics and a Free-Docency in Physical-Chemistry. In the course of his protracted professional career as a scientist, Prof. Santos also worked as a geologist and climatologist, disciplines he came to master, making substantial contributions to Ice Age Theory, particularly in what concerns Catastrophism and the reality of the Flood, the cataclysm which ultimately led to the demise of Atlantis-Eden.

Prof. Santos also wrote several other books and articles on Science and Engineering, as well as on arcane subjects such as Symbolism, Alchemy, the Holy Grail, Comparative Mythology and Religion, etc.. Pursuing these studies with a multi-disciplinary approach based on both the Exact and the Human Sciences, as well as the more traditional disciplines, the author finally managed to discover Atlantis’ true location; to prove its identity with Eden and the other traditional Paradises, and to reconstruct in detail the secret history of the Lost Continent described by Plato and several other ancient sages.

A gifted amateur linguist, Prof. Santos masters several tongues, including Greek, Latin, Sanskrit and Dravida, which are essential for the understanding of the ancient myths on Paradise and its destruction by the Universal Flood. This knowledge has enabled him to decipher Etruscan and Pelasgian, the languages of the predecessors of the Greeks and the Romans in the Mediterranean region. Prof. Santos traced these languages back to Sanskrit and Dravida, establishing an ineluctable connection with the East Indies, the true site of Atlantis.

Sumber: http://atlantis-lemuria-indonesia.blogspot.com/

Benua Altlantis yang hilang menurut Prof. Santos dari Brasil.
Cover buku Prof. Santos yang menghebohkan tentang kemungkinan bahwa Benua Atlantis yang hilang itu justru berada di Indonesia.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 7 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Candi Borobudur adalah simbol dari kerajaan Air Nusantara

Candi Borobudur adalah simbol dari kerajaan Air Nusantara

Dan sesungguhnya kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan kami jadikan keturunan keduanya kenabian dan Al-kitab.
(QS. Al –Hadid; 26)

Fahmi basya mencoba mengungkap rahasia Nuh dan Nun dengan matematika Al-Qur’an. Menurutnya rahasia Nuh dan Nun itu di antaranya terletak pada bentuk Nun yang menyerupai kapal. Negeri-negeri di atas bumi ini telah diberikan bentuknya yang khas,bila di lihat di atlas bumi negeri jepang dikenal dengan negeri naga karena bentuk negerinya seperti ular naga dan italia disebut negeri sepatu bot karena negerinya seperti sepatu boot. Indonesia adalah negeri kepulauan yang berbentuk kapal layar, pulau sumatera seperti sebuah haluan kapal, pulau jawa lambungnya, papua sebagai buritannya, Kalimantan dan Sulawesi seperti layarnya.

Umat Wasath adalah umat yang diberi kitab yang berimbang, agama yang mengajarkan keadilan. Mempelajari semua agama dan kitab-kitab sucinya maka Islam dan Al-Qur’an adalah agama dan kitab yang adil dan seimbang. Islam mengajarkan keadilan dan keseimbangan, mengatur hubungan manusia dan tuhan, alam dan sesame manusia, dunia dan akhirat, ilmu dan iman, hati dan akal secara berimbang.

DR. Abdul Razaq Naufal dalam bukunya berjudul ‘ Al’Ijaz Al’Adadiy Fi Al-Qur’an Al Karim” membuktikan bahwa Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam adalah kitab yang seimbang, beliau menulis beberapa tema-tema menyangkut keseimbangan kata-kata di Al-Qur’an yang tidak bisa dibantah oleh kitab-kitab lain dan berikut ini adalah sejumlah perhitungan yang benar-benar merupakan Mukjizat, dari jumlah kata dalam Al-Qur’an sebanyak 51.900, Jumlah Juz 30, Jumlah Surat 112.

Negeri manakah di dunia ini yang paling banyak penduduknya mewarisi kitab yang seimbang itu. Telusuri semua bangsa-bangsa di muka bumi. Indonesia yang berada di tengah-tengah ini telah mewarisi kitab yang seimbang. Indonesia kini telah menjadi Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia mewariskan sebuah kitab yang seimbang (Al-Qur’an), raksasa di dunia muslim yang jumlah penduduk muslimnya tidak bisa ditandingi kecuali seluruh penduduk Negara-negara arab bersatu.

Kerajaan-kerajaan air di nusantara, The Empire of Water ini diungkap Basya dengan menggunakan bangunan piramida 286 dengan 3 bagian dan surah Nuh sehingga ditemukan balok tersembunyi = 160. Melalui perhitungan Matematika Al-Qur’an, Basya menunjuk candi Borobudur sebagai bangunan yang mencerminkan kerajaan-kerajaan air. Candi Borobudur di pulau jawa memiliki 160 balok tersembunyi. Pada bagian atas disebut A Rupa Dhatu memiliki fenomena yang sama dengan 3 pada piramida 286. Itulah sebabnya ada satu stupa kosong dari 72 stupa pada A Rupa Dhatu karena 72 – 1 = 71, kode air.

71 merupakan kode air karena 71 persen permukaan bumi ini adalah lautan dan 29 persen daratan. Di dalam Al-Qur’an pun perbandingan kata lautan dan daratan adalah 71 persen lautan dan 29 persen daratan. Massa jenis hydrogen pun 0,0071 g/m3. Unsure air di dalam tubuh manusia juga 71 persen.

Transformasi keseimbangan global bentuk M itu kemudian menjelma menjadi suatu bangunan yang tinggi sebagai wujud surat 10 (jumlah ayat = 109) seperti dikatakan basya: ” jika sisi lain juga membentuk keseimbangan dengan jarak 22 surat (2 kode keseimbangan) maka titik tengahnya berupa pilar yang dibentuk oleh surat ke 10 ( surat Yunus;kisah manusia yang berada di atas kapal), yang tingginya juga 9 karena surat ke 10 ayatnya 109”.dan tingginya 9 (angka tertinggi).

Fahmi Basya secara gemilang mengungkap misteri bangunan ka’bah, bangunan Y dan kepala. Dengan formula (23, 3, 7 Kepala) dengan usahanya menghubungkan ruas tulang manusia, kota Al-Qur’an dan rukun haji ditemukan kesamaan tiga buah pola sebagai berikut;

Pola (23, 3, 7, Kepala) terdapat pada diri manusia
Pola (23, 3, 7, bangunan Y) terdapat pada Al-Qur’an
Pola (n, 3, 7, Ka’bah) terdapat pada manasik haji

Selain ketiga pola di atas memiliki relasi bilangan matematika, Ketiga pola di atas juga memiliki relasi lain yaitu relasi yang menunjuk negeri adidaya. Kepala adalah imam atau pemimpin, ka’bah adalah bangunan yang menunjukkan letak suatu negeri kelahiran pemimpin dunia (Nabi Muhammad) dan bangsanya pernah memimpin peradaban dunia.

Mari kita yakinkan dengan penjelasan matematika Basya; Basya menjelaskan bahwa pola (23, 3, 7, Kepala) ternyata melahirkan kode susu dengan bilangan 233. Kode susu itu terungkap dalam Al-Qur’an di surat sapi betina, surat Al-Baqarah ayatnya adalah 233, berbunyi sebagai berikut:

Dan ibu-ibu itu menyusukan anak-anak mereka dua tahun sempurna…
(QS. Al-Baqarah; 233)

Dalam surat yang sama (Al-Baqarah) terdapat dua bilangan yang sangat menarik tentang negeri yang memimpin dunia yaitu kode susu yang termuat dalam ayat 233 dan umat pilihan dalam ayat 143.

Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang di tengah-tengah yakni umat pilihan, agar kamu menjadi saksi-saksi atas manusia.
(QS. Al-Baqarah; 143)

Apabila bilangan 233 dikurangi 143 maka akan menghasilkan bilangan 90. 9 bilangan tertinggi dan 0 tidak ada yang menandingi. Lihatlah dalam Al-Qur’an surat ke 90, anda pun akan terkejut bahwa surat itu berjudul Al-Balad yang artinya negeri, bukan negeri biasa tapi negeri adidaya yang ditopang angka 9 tertinggi dan 0 tidak ada yang menandingi. Bacalah isi surat itu apakah benar tentang negeri yang dulu memimpin dunia. Tentu ini sebuah perencanaan yang matang dan sistematis dari Tuhan tentang kelahiran peradaban baru dari suatu negeri dengan pola (23, 3, 7) tersebut.

Masih belum yakin?, Angka 2 menurut DR. Abdul Razaq Naufal adalah kode keseimbangan seperti hitam-putih, panas-dingin, siang-malam, pria-wanita, langit-bumi dll. Sedangkan angka 9 adalah kode kedigdayaan (tak tertandingi). Dengan memakai kode keseimbangan yaitu angka 2 maka akan didapat fenomena kedigdayaan di dalam candi Borobudur yaitu bilangan 9. Perhatikanlah Candi itu mempunyai 9 tingkat, yaitu : 6 tingkat di bawah,: “tiap sisinya agak menonjol berliku-liku, sehingga memberi kesan bersudut banyak. 3 tingkat diatasnya:” berbentuk lingkaran. Dan yang paling atas yang disebut sebagai tingkat ke-10 adalah stupa besar ukuran diameternya 9,90 m, tinggi 7 m. Jumlah stupa di A rupha Dhatu ada 3 lapisan yaitu lapisan atas berjumlah 16, lapisan tengah berjumlah 24 dan lapisan bawah berjumlah 32 (1 stupa tidak selesai) bila dibagi dengan bilangan 2 (kode keseimbangan) sebanyak 3 kali maka akan di raih angka 36, 18 dan 9.
Angka 72, 36, 18 dan 9 kesemuanya adalah angka kelipatan 9, angka kedigdayaan.

Di dalam candi borobudur selain terdapat tanda-tanda kedigdayaan dan juga kode air 71. Cobalah buka Al-Qur’an surat ke 71, itu adalah surat Nuh. Dalam konteks ini sulit bagi siapa pun untuk membantah bahwa memang ada fenomena Nuh dan kedigdayaan di negeri ini. Lahirnya penguasa dunia dari keturunan Nuh seperti diungkapkan Al-Qur’an terbukti ada di candi borobudur:

Lalu mereka mendustakan Nuh, maka kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan kami jadikan mereka itu pemegang kekuasaan Kami.
(QS. Yunus; 73)

Kemudian jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 16, 24, 32 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 2:3:4, dan semuanya habis dibagi 8. Bilangan 8 ini adalah kode dari oksigen salah satu unsure dalam molekul air H2O, oksigen nomor atomnya=8, artinya terdiri dari 8 proton pada inti, 8 elektron pada kulit, 8 neutron pada inti yang tidak bermuatan.

Dan pada hari itu 8 malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.
(QS. Al-Haaqah; 17)

Fenomena ini memperkuat salah satu ayat di dalam Al-Qur’an tentang sebuah kerajaan air yaitu surat Al-Huud; 7 yang berbunyi SinggasanaNya di atas Air. Oleh sebab itu memang tidak mengherankan bahwa Indonesia memang kerajaan air,

Selanjutnya tentang bilangan sayap 2, 3 dan 4 dijelaskan pula dalam Al-Qur’an sebagai berikut:

Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang memiliki sayap masing-masing 2, 3 dan 4.
(QS. Faathir; 1)

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa 2, 3 dan 4 adalah bangunan sayap terlihat pada 3 lapisan di Arupha Dhatu. Karena bangunan Y berhubungan dengan kabah yang merupakan sumbu pusat karena ada thawaf disana maka kalau Y juga kita putar setelah penggabungan dan pemasangan itu, akan terjadi benda putar.

Bilangan 2, 3, dan 4 juga terlihat di tata surya kita, jika planet-planet sebagai sayap maka 9 planet di tata surya kita dapat memperlihatkan bilangan 2, 3 dan 4.

2 = Pluto dan Neptunus
3= Uranus, saturnus dan Yupiter
4=Mars, Bumi, Venus dan Mercury

Di tengahnya bangunan Y adalah matahari, karena ada relasi antara bangunan Y dan kabah maka bangunan kabah juga mewakili matahari dan orang yang thawaf mewakili bumi. Hal yang sama juga ditemukan di candi borobudur. Stupa terbesar yang berada di tengah memiliki pola yang sama dengan bangunan Y, di sekitarnya ada 3 lapisan dengan bilangan 2, 3 dan 4 seperti planet, mereka berputar mengelilingi stupa terbesar yang di kalangan umat budha disebut Pradaksima. Pradaksima yaitu suatu upacara di mana umat Buddha melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan mirip dengan thawaf. Pradaksima dan thawaf pun memiliki kemiripan ritual yaitu manusia yang berkeliling itu sama-sama menggunakan pakaian yang hampir sama seperti ihram, pelaku pradaksima menggunakan warna coklat bata sedangkan pelaku Thawaf menggunakan warna putih dan sama-sama bercukur, pradaksima bercukur habis hingga gundul sedangkan thawaf bercukur sebagian.

Akhirnya di stupa induk paling atas, dahulunya terdapat pula sebuah patung Sang Adhi Buddha, yaitu Buddha tertinggi dalam agama Buddha Mahaya. Maka jumlah seluruhnya adalah 3 x 92 buah jumlah 432 + 64 + 1 = 505 buah. Jadi Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1(bilangan syahadat atau kode keesaan Allah)

Menyangkut angka 505 dalam Borobudur dan bilangan syahadat dapat dijelaskan dalam Al-Qur’an. Pada kisah nuh dalam Al-Qur’an ada rahasia bilangan 50;

Dan sungguh kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya maka ia tinggal di antara mereka 1000 tahun kurang 50.
(QS. Al-Ankabuut; 14)

padahal lambang bilangan 50 itu dulunya adalah hurufnya Nun, dan surat Al-Qalam yang dibuka dengan huruf Nun pada nomor 68. Dan surat yang dibuka dengan huruf tidak pernah lebih dari 50 nomor suratnya kecuali 68 ini seolah huruf Nun itu pindah dari 50 ke 68. Sehingga Bobot huruf Nun 50
pada kalimat Syahadat “ Aku bersaksi tidak ada tuhan melainkan Allah”
kata melainkan = Illa ini kamusnya ada pada surat Al-Ankabuut ayat 14 di atas dengan sebutan Illa Khamsin=kecuali 50 atau kurang 50 jadi dalam bahasa matematika Illa = kurang, bagaimana bila kata Illa = kurang diterapkan dalam kalimat syahadat

laa = tidak ada = 0
tidak ada tuhan; 0 = Tuhan
tidak ada Tuhan melainkan Allah; 0 = Tuhan – Allah
0 = 1 – Allah
Allah = 1

Ini mirip dengan 505 arca, bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1 menjadi bilangan syahadat. Itulah sebabnya Sang Adhi Buddha dalam agama Buddha Mahaya tidak saja dianggap sebagai Buddha tertinggi, tetapi juga dianggap sebagai Allah S.W.T Asal dari segala Asal, dan juga asal dari keenam Dhyani Buddha, karenanya ia disebut sebagai “Yang Maha Esa”.

 
Leave a comment

Posted by on 7 December 2011 in Nyata dan Keyakinan