RSS

Beberapa variasi asma-ul-husna dari versi orang yg meriwayatkannya :

11 Apr

99 ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI BUKHARI TURMUDZI

1. ar-Rohman Maha Pengasih
2. ar-Rohim Maha Penyayang
3. al-Malik Maha Merajai
4. al-Quddus Maha Suci
5. as-Salam Maha Penyelamat
6. al-Mukmin Maha Mengamankan
7. al-Muhaimin Maha Pembela
8. al-Aziz Maha Mulia
9. al-Jabbar Maha Pemaksa
10. al-Mutakabbir Maha Besar
11. al-Khaliq Maha Pencipta
12. al-Mushawwir Maha Pembentuk
13. al-Ghaffar Maha Pengampun
14. al-Qahir Maha Keras
15. al-Wahhab Maha Pemberi
16. ar-Razzaq Maha Penganugerah
17. al-Fattah Maha Pembuka
18. al-Alim Maha Mengetahui
19. al-Qabidh Maha Memegang
20. al-Basith Maha Menghamparkan
21. al-Khafidh Maha Memudahkan
22. ar-Rafi’ Maha Mengangkat
23. al-Mu’iz Maha Memuliakan
24. al-Muzil Maha Merendahkan
25. as-Sami’ Maha Mendengar
26. al-Bashir Maha Melihat
27. al-Hakam Maha Bijaksana
28. al-Adlu Maha Adil
29. al-Latif Maha Halus
30. al-Khabir Maha Selidik
31. al-Halim Maha Penyantun
32. al-Azhim Maha Agung
33. al-Ghafur Maha Pengampun
34. as-Syakur Maha Mensyukuri
35. al-Aliyya Maha Tinggi
36. al-Kabir Maha Besar
37. al-Hafizh Maha Melindungi
38. al-Muqith Maha Menentukan
39. al-Hasib Maha Memperhitungkan
40. al-Jalil Maha Utama
41. al-Karim Maha Mulia
42. al-Raqib Maha Pengawas
43. al-Mujib Maha Memperkenankan
44. al-Wasi’ Maha Luas
45. al-Hakim Maha Bijaksana
46. al-Wadud Maha Cinta
47. al-Majid Maha Jaya
48. al-Ba’its Maha Pembangkit
49. as-Syahid Maha Menyaksikan
50. al-Haq Maha Hak
51. al-Wakil Maha Mengatasi
52. al-Qawiyyu Maha Kuat
53. al-Matin Maha Teguh
54. al-Waliyyu Maha Setia
55. al-Hamid Maha Terpuji
56. al-Muhshi Maha Menghitung
57. al-Mubdi’u Maha Memulai
58. al-Mu’id Maha Mengembalikan
59. al-Muhyi Maha Menghidupkan
60. al-Mumit Maha Mematikan
61. al-Hayyu Maha Hidup
62. al-Qayyim Maha Tegak
63. al-Wajid Maha Mengadakan
64. al-Maajid Maha Mulia
65. al-Wahid Maha Esa
66. al-Ahad Maha Esa
67. as-Shamad Maha Pergantungan
68. al-Qadir Maha Kuasa
69. al-Muqtadir Maha Pemberi Kuasa
70. al-Muqaddim Maha Mendahulukan
71. al-Muakhir Maha Mengakhirkan
72. al-Awwal Maha Permulaan
73. al-Akhir Maha Kemudian
74. az-Zhahir Maha Zhahir
75. al-Bathin Maha Bathin
76. al-Wali Maha Melindungi
77. al-Muta’alli Maha Meninggikan
78. al-Barr Maha Penyantun
79. at-Tawwabu Maha Penerima Tobat
80. al-Muna’am Maha Pemberi ni’mat
81. al-Muntiqam Maha Pembela
82. al-Afuwwu Maha Pemaaf
83. ar-Ra’uf Maha Belas Kasih
84. Malikul-Muluk Maha Raja di raja
85. Zul Jalali Wal Ikram Maha Luhur dan Mulia
86. al-Muqsith Maha Menimbang
87. al-Jami’ Maha Mengumpulkan
88. al-Ghani Maha Kaya
89. al-Mughni Maha Mengkayakan
90. al-Mani Maha Menghalangi
91. ad-Dharr Maha Memudharatkan
92. an-Nafi’ Maha Pemaaf
93. an-Nur Maha Cahaya
94. al-Hadi Maha Menunjuki
95. al-Badi Maha Pencipta yg baru
96. al-Baqi Maha Kekal
97. al-Warits Maha Pewaris
98. ar-Rasyid Maha Cendikiawan
99. as-Shabur Maha Penyabar

NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU MAJAH DARI AL-ARAJ :

1. al-Bari’ Maha Pemelihara
2. al-Rasyid Maha Cendikiawan
3. al-Burhan Maha Pembukti
4. as-Syadid Maha Keras
5. al-Waqi Maha Pemelihara
6. al-Qaim Maha Berdidi
7. al-Hafiz Maha Menjaga
8. an-Nazhir Maha Melihat
9. as-Sami’ Maha Mendengar
10. al-Mu’thi Maha Pemberi
11. al-Abad Maha Abadi
12. al-Munir Maha Menerangi
13. at-Taam Maha Sempurna
14. al-Qadim Maha Kekal
15. al-Witru Maha Esa

NAMA-NAMA TAMBAHAN DAN URUTAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI THABRANI :

1. ar-Raab Maha Memelihara
2. al-Ilah ilahi
3. al-Hanan Maha Kasih
4. al-Manan Maha Pemberi Anugerah
5. al-Bari’ Maha Menjadikan
6. al-Qaimul Fard Maha Berdiri Sendiri
7. al-Qadir Maha Menentukan
8. al-Farad Maha Sendiri
9. al-Mughits Maha Membantu
10. ad-Da’im Maha Kekal
11. al-Hamid Maha Terpuji
12. al-Jamil Maha Indah
13. as-Shadiq Maha Benar
14. al-Muwalli Maha Memimpin
15. an-Nashir Maha Penolong
16. al-Qadim Maha Dahulu
17. al-Witru Maha Esa
18. al-Fathir Maha Pencipta
19. al-Allam Maha Mengetahui
20. al-Malik Maha Raja
21. al-Ikram Maha Mulia
22. al-Mudabbir Maha Mengatur
23. al-Maalik Maha Memiliki
24. as-Syakur Maha Mensyukuri
25. ar-Rafi’ Maha Tinggi
26. Zul Thawil Maha Mempunyai Kekuasaan
27. Zul Ma’arij Maha Mempunyai Jenjang/ tahapan
28. Zul Fadhlil Khalaq Maha Mempunyai Kelebihan Makhluk
29. al-Mun’im Maha Pemberi Nikmat
30. al-Mutafadhal Maha Utama
31. as-Sari’ Maha Cepat

NAMA-NAMA TAMBAHAN ASMA-UL-HUSNA MENURUT VERSI IBNU HAZMI :

1. al-Khafi Maha Tersembunyi 2. al-Ghallab Maha Menang 3. al-Musta’an Maha Penolong

Wassalam

Copyright

sumber : file chm kajian islam

Apakah Nama-Nama Allah Itu Terbatas?

Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin
Sunday, 10 February 2008

Jawaban:

Nama-nama Allah tidak terbatas pada sejumlah nama tertentu. Dalil dari pernyataan ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dalam sebuah hadits shahih, “Sesungguhnya kami adalah hamba-Mu dan anak umat-Mu.” Hingga bersabda, “Kami memohon kepada-Mu dengan segala nama-Mu, yang Engkau namakan Diri-mu dengannya atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhluk-Mu atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.” (Diriwayatkan Ahmad).

Nama-nama Allah yang disembunyikan dalam ilmu ghaib-Nya tidak mungkin diketahui dan sesuatu yang tidak diketahui berarti tidak terbatas.

Sedangkan sabda Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa menghitungnya (berdzikir dengannya) dia akan masuk surga.” (Ditakhrij oleh Al-Bukhari dalam kitab Asy-Syuruth, bab, “Ma Yajuzu min Asy-Syuruth…”, (2736) dan Muslim dalam kitab Az- Zikr wa Ad-Du’a bab “Fi Asmaillahi Ta’ala fa Fadhlu Man Ahshaaha”, (2677).

Bukan berarti bahwa Allah hanya mempunyai nama-nama tersebut tetapi maknanya bahwa siapa yang berdzikir dengan nama-nama-Nya yang berjumlah sembilan puluh sembilan ini, dia akan masuk surga. Sabda beliau, “Siapa yang menghitungnya” untuk menyempurnakan kalimat pertama, bukan berdiri sendiri.

Perkataan semacam ini sama dengan perkataan orang Arab lainnya, “Saya punya seratus kuda yang saya persiapkan untuk berjihad di jalan Allah.” Ini bukan berarti bahwa dia hanya mempunyai seratus kuda saja, tetapi hanya seratus itulah yang dipersiapkan untuk perang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu telah menukil kesepakatan ahli ilmu mengenai hadits tersebut bahwa Nabi tidak membatasi jumlah nama-nama tersebut.

Menurut saya pernyataan Syaikhul Islam rahimahullah itu benar-benar dengan dalil adanya perbedaan yang besar di dalamnya. Barangsiapa yang berusaha menshohihkan hadits ini akan berkata bahwa ini adalah masalah besar, karena dapat mengantarkan seseorang ke surga, maka tidak mungkin jika para sahabat tidak mempertanyakan tentang kejalasan nama-nama itu. Hal itu menunjukkan bahwa kejelasan nama-nama itu, sebelumnya telah diketahui para sahabat. Tetapi argumen ini dijawab bahwa tidak harus demikian, karena jika seperti itu pasti nama-nama Allah yang berjumlah sembilan puluh sembilan itu, telah diketahui secara jelas dari yang lebih jelas dari pengetahuan tentang matahari dan tentu sudah dinukil dari kitab Shahihain dan lainnya; karena dia dibutuhkan dan perlu dihafal, tetapi mengapa periwayatannya hanya dilakukan dengan cara yang meragukan dan dalam bentuk yang bermacam-macam?

Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam tidak menjelaskannya secara rinci dengan tujuan untuk kebijaksanaan tertentu, yaitu supaya manusia berusaha mencarinya dalam kitabullah dan sunah rasul-Nya, hingga jelaslah mana di antara mereka yang semangat dan mana yang tidak bersemangat.”

Makna menghitungnya bukan berarti ditulis di kertas kemudian dihafal secara berulang-ulang, tetapi maknanya adalah:

Pertama, untuk membatasi lafalnya.

Kedua, untuk memahaminya secara maknawi.

Ketiga, untuk beribadah kepada Allah dengan segala konsekuensinya. Hal ini diperlukan dua tindakan:

Tindakan pertama, berdoa kepada Allah dengannya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Maka memohonlah kepada Allah dengan menyebut nama-nama Allah itu.” (Al-A’raf: 180).

Jadikanlah nama-nama itu sebagai wasilah untuk mendapatkan apa yang Anda minta, maka pilihlah nama yang sesuai dengan permintaan Anda. Ketika Anda ingin meminta ampunan, katakanlah, “Ya Ghafur ampunilah kami.”Dan tidak cocok bila Anda mengatakan, “Wahai Dzat yang Pedih Adzab-Nya, ampunilah aku, bahkan itu bisa dianggap meledek, tetapi nama itu akan cocok bila diikuti dengan perkataan, “selamatkan aku dari adzab-Mu.”

Tindakan kedua, bacalah nama-nama itu tatkala Anda beribadah dengan menyebut konsekuensinya dari nama Ar-Rahiim adalah kasih sayang. Lalu berbuatlah amal shaleh yang dapat menghasilan rahmat Allah itu. Itulah makna menghitungnya. Jika demikian maka nama-nama itu pantas dijadikan sebagai tiket masuk surga.

Fatawa arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm 73 — 75.

 
Leave a comment

Posted by on 11 April 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: