RSS

Surah Al-Mulk Ayat 11-20

29 Mar

فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ
11. Maka, mereka mengakui dosa-dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi para penghuni nerakayang menyala-nyala.
“Maka, mereka mengakui dosa-dosa mereka.” Kata i’tarafu berasal dari ‘arafa, yang berarti mengetahui; i’tarafa berarti mengakui atau memberi pengakuan. Pada waktu hukuman, harus ada pengakuan atas dosa-dosa. Orang-orang yang dihukum akan mengaku bahwa mereka telah menghindari risalah yang dibawa oleh para nabi, pengikutnya, dan para Imam kepada umat manusia. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran dan, karena itu, bisa mengetahui bahwa ia memiliki pengetahuan yang asli. Akan tetapi, manusia menyembunyikan dan mengingkarinya karena kebodohan dan kejahilannya, yang dibangun di atas kesombongan, rasa takut, dan keterikatan.
Bal al-insân ‘alâ nafsihi bashîrah: “Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri” (Q.S. 75:14). Dalam dirinya sendiri, setiap orang memiliki kesadaran lebih tinggi yang mampu menerangi kesadarannya. Jika kesadarannya tidak bersih dan tak mumi, maka kesadaran lebih tingginya ini bisa memahami bahwa kesadarannya bersemayam dalam sesuatu yang “tidak menjadi.” Sekalipun demikian, manusia masih bisa mengingkari refleksi kesadarannya yang lebih tinggi itu. Pada waktu kematian, ketika kemampuan untuk campur tangan dengan nasib seseorang berhenti, segala sesuatunya menjadi jelas, karena waktu telah berhenti.
“Maka, kebinasaanlah bagi para penghuni neraka yang menyala-nyala.” Kata sahaqa berarti menghancurkan, meremukkan, memusnahkan. Para penghuni neraka adalah orang-orang yang dihancurkan karena tidak mau mengakui adanya satu Wujud hakiki—Allah. Bagaimana mereka bisa tetap utuh? Jika seseorang tidak mengakui kekuasaan seorang raja biasa, maka ia akan dihancurkan. Oleh karena itu, lebih penting lagi untuk mengakui Tuhan Yang Mahakuasa, Zat yang kerajaan-Nya diliputi oleh-Nya. Karena rahmat-Nya, Dia memberi manusia kesempatan tak terhitung jumlahnya sepanjang hidupnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari api neraka.
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tak terlihat oleh mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar.
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tak teriihat oleh mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar.” Ghayb adalah Yang tak terlihat. Orang-orang yang telah menerima fakta bahwa ada satu Pencipta, satu Tuhan Yang Mahabenar, tanpa bukti langsung—tanpa melihatnya—berkesimpulan bahwa tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. Mereka telah mengalami secara langsung bahwa ada hukum-hukum yang mengatur kehidupan ini dan bahwa alam semesta tidaklah berada dalam kekacauan. Mereka ingin mengetahui berbagai hukum-Nya—mereka takut kepada Tuhan mereka dan takut melanggar hukum-hukum-Nya, batas-batas-Nya. Bagi mereka inilah disediakan ampunan dan pahala yang besar, pahala terus-menerus yang dimulai di dunia ini dan berlanjut di akhirat.
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
13. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Kata asirru berasal dari kata asarra, yang berarti merahasiakan, menyembunyikan atau menutupi sesuatu. Apakah seseorang berbicara tentangnya atau tidak, menyembunyikannya atau tidak, mengungkapkan yang ada dalam hatinya atau tidak, Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati. Kata shadr berarti dada atau hati. Tuhan Yang Mahabenar mengetahui apa yang diletakkan oleh manusia di hadapannya, apa yang disimpan dalam hadnya. Bahkan, dalam kehidupan ini, sudah tidak ada lagi tempat bersembunyi. Manusia pasti bisa diketahui.
Sang pencipta pastilah mengetahui sifat-sifat ciptaannya. Orang yang membangun sebuah rumah mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Ia mengetahui bahan-bahan apa yang digunakan untuk membangunnya, apa yang ada di dinding dan apa yang ada di balik dinding. Sang Pencipta Yang Maha Pengasih menciptakan dengan kesempurnaan. Dia tidak menggunakan bahan berkualitas buruk di balik dinding. Di balik dinding dada manusia, Dia menempatkan hati. Di dalam hati manusia sajalah Dia bersemayam.
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
14. Apakah Tuhan yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu tampakkan dan sembunyikan), padahal Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?
“Padahal Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” Kelembutan bersifat serba meliputi. Seluruh makhluk diberi kehidupan melalui segenap kekuatan lembut dan halus dari sang Pencipta. Mesin listrik biasanya harus disambungkan ke saklarnya. Akan tetapi, saklar Allah adalah seluruh angkasa di bumi ini. Ketika manusia bergerak, secara spontan ia bersambung dengan sang Sumber. Bagaimana bisa seseorang mengingkari keberadaan sang Pencipta dan bahwa semua orang berada dalam di bawah naungan rahmat-Nya? Allah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memutuskan siapa yang tetap berada dalam sistem penyokong kehidupan dan siapa yang harus terkubur di dalam tanah.
Kehidupan ini laksana sebuah laboratorium di mana sang Pencipta menguji kesetiaan segenap makhluk-Nya. Tuhan bereksperimen dengan mereka, membiarkan mereka melakukan pelanggaran, dan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena telah mengacaukan hidup mereka, mereka diizinkan untuk mencuci bersih diri mereka dari berbagai dosa dalam tindakan mereka. Ada banyak hadis yang menyebut-nyebut berbagai ibadah tertentu, seperti haji yang, bila dilakukan dengan benar, akan menjadi seperti suatu kelahiran kembali. Doa-doa seorang muslim, bila dipanjatkan dengan benar, membuat sang hamba Allah menjadi kembali segar. Tidak ada unsur negatif masa lalu yang akan mempengaruhinya, dan seluruh pengalamannya, kebijakan sepanjang hidup, akan selalu ada di dalam dirinya.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَاوَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka, berjalanlah di segenap penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan hanya kepada-Nya sajalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
16. Apakah kamu merasa aman dari Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu sehingga tiba-tiba bumi berguncang?
أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
17. Atau apakah kamu merasa aman dari Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat dari mendustakan) peringatan-Ku.
وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ
18. Dan sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul-Nya). Maka, alangkah dahsyatnya kemurkaan-Ku.
Agar manusia memiliki kesempatan untuk mengungkapkan dan menghayati keimanan dan ketulusannya, bumi pun dibuat menjadi dzalul (rata, mudah, halus). Di muka bumi, manusia bisa mencari kebijakan dana rezeki.
“Dan hanya kepada-Nya sajalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Kata nusyûr (kebangkitan) berasal dari nasyara, yang berarti mengumumkan, menyebarkan, dan membangkitkan, kembali dari kematian. Nasyir adalah pemberi maklumat. Allah adalah sang pemberi maklumat agung, yang mempermaklumkan ciptaan-Nya. Bumi, berikut gunung-gunung yang ada di atasnya, direndahkan dan ditundukkan. Allah menjadikan bumi rata agar bisa dihuni dan digarap oleh manusia, dengan menunjukkan bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Manâkib adalah bahu, sisi atau dataran tinggi—sesuatu yang sulit digarap. Akan tetapi, Allah membuat manusia mampu berjalan di atas “bahu” bumi. Ini adalah dorongan bagi manusia dalam mencari sarana untuk mengagungkan Allah, dengan mencari rezeki dan bekal di tanah yang luas dan kaya ini.
Bagaimana bisa seseorang merasa aman dari-Nya, sang Penguasa langit dan Raja Diraja? Tidak ada jaminan bahwa bumi akan tetap ada dan tidak akan mengalami gempa bumi. Bisakah kita yakin bahwa bumi akan selalu kukuh? Seorang mukmin senantiasa sadar dan waspada karena mengetahui bahwa jika ia membiarkan dirinya merasa aman dari perubahan, maka ia telah tersesat. Ia percaya bahwa Allah akan membimbingnya dirinya melalui berbagai perubahan dan cobaan yang datang menghampirinya. Allah berfirman dalam Alquran: fa-lâ ya’manu makrallâh illâ al-qawm al-khâsirun, “Tiada yang merasa aman dari siksaan Allah, kecuali orang-orang yang merugi” (QS 7:99).
Bumi adalah laboratorium Allah, di mana keberhasilan manusia diukur sesuai dengan komitmennya. Tidaklah adil bila seseorang tiba-tiba diberi suatu pengetahuan yang ia sendiri tidak siap menerimanya. Ini akan menjadi sangat tidak wajar. Oleh karena itu, ada tanggung jawab yang lebih besar dengan ilmu dan pengetahuan tambahan.
Hubungan antara pengetahuan, tanggung jawab, dan Allah, sang Pemberi ilmu, bisa disamakan dengan hubungan antara ayah dan anaknya. Karena cintanya kepada anak, sang ayah mengukur tingkat kemauan si anak untuk menerima tanggung jawab dengan mengujinya. Sang ayah tidak ingin melukai si anak. Hanya saja, ia mengetahui bahwa semakin banyak pengetahuan sang anak, semakin berat pula beban yang ditanggungnya. Umpamanya saja, mengetahui penderitaan orang lain membuat seseorang tergerak untuk membantu meringankan dan mengatasinya. Jika seseorang bertahan dalam keimanan dan keyakinannya sewaktu diuji, maka ia akan diberi keimanan, keyakinan, dan kebebasan tambahan. Seekor burung menguji anaknya untuk mengetahui ihwal apakah anaknya sudah bisa terbang dari sarangnya. Sang ibu tidak langsung mendorong anaknya dari tubir ketinggian, melainkan mendorongnya untuk berani mengepakkan sayapnya agar bisa tumbuh dengan kuat. Si burung muda menyadari bahwa ia pun bebas sewaktu ia mampu terbang dari sarangnya.
Dalam kenyataannya, manusia terbebas dari segala sesuatu selain Allah. Allah tidak terbatas. Karena itu, manusia bebas tanpa batas, tetapi ia tidak mengetahui hal ini karena ia tidak menggunakan sayap iman dan ketawakalan penuh kepada Allah.
Ketidakpastian berbagai peristiwa merangsang kita merenung agar bisa mencapai kepasrahan sejati—sadar dan hidup dalam kekinian, detik demi detik. Dalam cinta-Nya kepada manusia, Allah mengetatkan tali-Nya atas diri manusia barang sebentar. Tali itu mengingatkannya pada Allah saat itu juga, tetapi Allah sesungguhnya selalu hadir setiap saat. Jika manusia merasa sebagai seorang budak, jika ia mengakui kemuliaan Penciptanya, maka ia adalah makhluk yang mulia. Seekor kuda bangsawan tidak harus selalu ditarik-tarik dan dipukul kepalanya. Secara spontan ia sudah tahu bahwa ia memiliki majikan. Sama juga halnya, jika manusia disentak setiap saat, maka hal itu disebabkan ia sudah menyimpang—inilah bukti cinta Allah.
Seseorang tak akan pernah bisa merasa yakin akan seperangkat hukum yang harus dipatuhinya. Hanya manusia sajalah, dengan segenap tindakan dan niatnya, yang menyatukan dirinya dengan seperangkat hukum tertentu. Jika tindakannya tulus dan ikhlas, memancar dari sumber yang mumi, maka ia akan berada dalam sebuah sungai yang hasil akhir dan tujuannya jemih. Sebaliknya, disebabkan oleh situasi manusia, tingkat kekafiran dan ketercerabutannya, ia akan diseret dalam arus sungai yang bakal mengombang-ambingkan dan menghancurkannya.
Perjalanan seseorang dalam kehidupan ini laksana berada dalam suatu pesawat yang melintasi ratusan sungai, yang merupakan hukum-hukum takdir. Sang penumpang, sesuai dengan niatnya, akan menjejakkan kakinya di sebuah sungai atau sungai lainnya. Pilihan ada di tangannya. Jika ia menjejakkan kakinya di sungai yang kotor dan berbahaya karena kebodohan dan kejahilannya, maka yang hanya bisa dilakukannya adalah berusaha keluar darinya, kembali masuk ke kendaraannya, dan pindah ke sungai lain. Hukum-hukum ini, sungai-sungai ini, mengatur takdir. Terserah kepada setiap individu untuk memilih berakhir di sungai yang alirannya tenang dan bisa dapat benar-benar mencerminkan kebenaran Tuhan Yang Maha Pengasih di baliknya.
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ
19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.
أَمَّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ
20. Atau siapakah ia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari Tuhan Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tak lain hanyalab tertipu belaka.

 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: