RSS

Monthly Archives: March 2010

Surah Al-Mulk Ayat 11-20

فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ فَسُحْقًا لِّأَصْحَابِ السَّعِيرِ
11. Maka, mereka mengakui dosa-dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi para penghuni nerakayang menyala-nyala.
“Maka, mereka mengakui dosa-dosa mereka.” Kata i’tarafu berasal dari ‘arafa, yang berarti mengetahui; i’tarafa berarti mengakui atau memberi pengakuan. Pada waktu hukuman, harus ada pengakuan atas dosa-dosa. Orang-orang yang dihukum akan mengaku bahwa mereka telah menghindari risalah yang dibawa oleh para nabi, pengikutnya, dan para Imam kepada umat manusia. Setiap orang memiliki kemampuan untuk memahami kebenaran dan, karena itu, bisa mengetahui bahwa ia memiliki pengetahuan yang asli. Akan tetapi, manusia menyembunyikan dan mengingkarinya karena kebodohan dan kejahilannya, yang dibangun di atas kesombongan, rasa takut, dan keterikatan.
Bal al-insân ‘alâ nafsihi bashîrah: “Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri” (Q.S. 75:14). Dalam dirinya sendiri, setiap orang memiliki kesadaran lebih tinggi yang mampu menerangi kesadarannya. Jika kesadarannya tidak bersih dan tak mumi, maka kesadaran lebih tingginya ini bisa memahami bahwa kesadarannya bersemayam dalam sesuatu yang “tidak menjadi.” Sekalipun demikian, manusia masih bisa mengingkari refleksi kesadarannya yang lebih tinggi itu. Pada waktu kematian, ketika kemampuan untuk campur tangan dengan nasib seseorang berhenti, segala sesuatunya menjadi jelas, karena waktu telah berhenti.
“Maka, kebinasaanlah bagi para penghuni neraka yang menyala-nyala.” Kata sahaqa berarti menghancurkan, meremukkan, memusnahkan. Para penghuni neraka adalah orang-orang yang dihancurkan karena tidak mau mengakui adanya satu Wujud hakiki—Allah. Bagaimana mereka bisa tetap utuh? Jika seseorang tidak mengakui kekuasaan seorang raja biasa, maka ia akan dihancurkan. Oleh karena itu, lebih penting lagi untuk mengakui Tuhan Yang Mahakuasa, Zat yang kerajaan-Nya diliputi oleh-Nya. Karena rahmat-Nya, Dia memberi manusia kesempatan tak terhitung jumlahnya sepanjang hidupnya untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari api neraka.
إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ
12. Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tak terlihat oleh mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar.
“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka dalam keadaan tak teriihat oleh mereka beroleh ampunan dan pahala yang besar.” Ghayb adalah Yang tak terlihat. Orang-orang yang telah menerima fakta bahwa ada satu Pencipta, satu Tuhan Yang Mahabenar, tanpa bukti langsung—tanpa melihatnya—berkesimpulan bahwa tidak mungkin ada akibat tanpa sebab. Mereka telah mengalami secara langsung bahwa ada hukum-hukum yang mengatur kehidupan ini dan bahwa alam semesta tidaklah berada dalam kekacauan. Mereka ingin mengetahui berbagai hukum-Nya—mereka takut kepada Tuhan mereka dan takut melanggar hukum-hukum-Nya, batas-batas-Nya. Bagi mereka inilah disediakan ampunan dan pahala yang besar, pahala terus-menerus yang dimulai di dunia ini dan berlanjut di akhirat.
وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
13. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.
Kata asirru berasal dari kata asarra, yang berarti merahasiakan, menyembunyikan atau menutupi sesuatu. Apakah seseorang berbicara tentangnya atau tidak, menyembunyikannya atau tidak, mengungkapkan yang ada dalam hatinya atau tidak, Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di dalam hati. Kata shadr berarti dada atau hati. Tuhan Yang Mahabenar mengetahui apa yang diletakkan oleh manusia di hadapannya, apa yang disimpan dalam hadnya. Bahkan, dalam kehidupan ini, sudah tidak ada lagi tempat bersembunyi. Manusia pasti bisa diketahui.
Sang pencipta pastilah mengetahui sifat-sifat ciptaannya. Orang yang membangun sebuah rumah mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Ia mengetahui bahan-bahan apa yang digunakan untuk membangunnya, apa yang ada di dinding dan apa yang ada di balik dinding. Sang Pencipta Yang Maha Pengasih menciptakan dengan kesempurnaan. Dia tidak menggunakan bahan berkualitas buruk di balik dinding. Di balik dinding dada manusia, Dia menempatkan hati. Di dalam hati manusia sajalah Dia bersemayam.
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
14. Apakah Tuhan yang menciptakan itu tidak mengetahui (apa yang kamu tampakkan dan sembunyikan), padahal Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui?
“Padahal Dia Mahalembut lagi Maha Mengetahui.” Kelembutan bersifat serba meliputi. Seluruh makhluk diberi kehidupan melalui segenap kekuatan lembut dan halus dari sang Pencipta. Mesin listrik biasanya harus disambungkan ke saklarnya. Akan tetapi, saklar Allah adalah seluruh angkasa di bumi ini. Ketika manusia bergerak, secara spontan ia bersambung dengan sang Sumber. Bagaimana bisa seseorang mengingkari keberadaan sang Pencipta dan bahwa semua orang berada dalam di bawah naungan rahmat-Nya? Allah memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memutuskan siapa yang tetap berada dalam sistem penyokong kehidupan dan siapa yang harus terkubur di dalam tanah.
Kehidupan ini laksana sebuah laboratorium di mana sang Pencipta menguji kesetiaan segenap makhluk-Nya. Tuhan bereksperimen dengan mereka, membiarkan mereka melakukan pelanggaran, dan memberi mereka kesempatan untuk memperbaiki diri. Karena telah mengacaukan hidup mereka, mereka diizinkan untuk mencuci bersih diri mereka dari berbagai dosa dalam tindakan mereka. Ada banyak hadis yang menyebut-nyebut berbagai ibadah tertentu, seperti haji yang, bila dilakukan dengan benar, akan menjadi seperti suatu kelahiran kembali. Doa-doa seorang muslim, bila dipanjatkan dengan benar, membuat sang hamba Allah menjadi kembali segar. Tidak ada unsur negatif masa lalu yang akan mempengaruhinya, dan seluruh pengalamannya, kebijakan sepanjang hidup, akan selalu ada di dalam dirinya.
هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَاوَكُلُوا مِن رِّزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
15. Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka, berjalanlah di segenap penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan hanya kepada-Nya sajalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.
أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ
16. Apakah kamu merasa aman dari Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu sehingga tiba-tiba bumi berguncang?
أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاء أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ
17. Atau apakah kamu merasa aman dari Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat dari mendustakan) peringatan-Ku.
وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ
18. Dan sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul-Nya). Maka, alangkah dahsyatnya kemurkaan-Ku.
Agar manusia memiliki kesempatan untuk mengungkapkan dan menghayati keimanan dan ketulusannya, bumi pun dibuat menjadi dzalul (rata, mudah, halus). Di muka bumi, manusia bisa mencari kebijakan dana rezeki.
“Dan hanya kepada-Nya sajalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” Kata nusyûr (kebangkitan) berasal dari nasyara, yang berarti mengumumkan, menyebarkan, dan membangkitkan, kembali dari kematian. Nasyir adalah pemberi maklumat. Allah adalah sang pemberi maklumat agung, yang mempermaklumkan ciptaan-Nya. Bumi, berikut gunung-gunung yang ada di atasnya, direndahkan dan ditundukkan. Allah menjadikan bumi rata agar bisa dihuni dan digarap oleh manusia, dengan menunjukkan bahwa di balik kesulitan selalu ada kemudahan. Manâkib adalah bahu, sisi atau dataran tinggi—sesuatu yang sulit digarap. Akan tetapi, Allah membuat manusia mampu berjalan di atas “bahu” bumi. Ini adalah dorongan bagi manusia dalam mencari sarana untuk mengagungkan Allah, dengan mencari rezeki dan bekal di tanah yang luas dan kaya ini.
Bagaimana bisa seseorang merasa aman dari-Nya, sang Penguasa langit dan Raja Diraja? Tidak ada jaminan bahwa bumi akan tetap ada dan tidak akan mengalami gempa bumi. Bisakah kita yakin bahwa bumi akan selalu kukuh? Seorang mukmin senantiasa sadar dan waspada karena mengetahui bahwa jika ia membiarkan dirinya merasa aman dari perubahan, maka ia telah tersesat. Ia percaya bahwa Allah akan membimbingnya dirinya melalui berbagai perubahan dan cobaan yang datang menghampirinya. Allah berfirman dalam Alquran: fa-lâ ya’manu makrallâh illâ al-qawm al-khâsirun, “Tiada yang merasa aman dari siksaan Allah, kecuali orang-orang yang merugi” (QS 7:99).
Bumi adalah laboratorium Allah, di mana keberhasilan manusia diukur sesuai dengan komitmennya. Tidaklah adil bila seseorang tiba-tiba diberi suatu pengetahuan yang ia sendiri tidak siap menerimanya. Ini akan menjadi sangat tidak wajar. Oleh karena itu, ada tanggung jawab yang lebih besar dengan ilmu dan pengetahuan tambahan.
Hubungan antara pengetahuan, tanggung jawab, dan Allah, sang Pemberi ilmu, bisa disamakan dengan hubungan antara ayah dan anaknya. Karena cintanya kepada anak, sang ayah mengukur tingkat kemauan si anak untuk menerima tanggung jawab dengan mengujinya. Sang ayah tidak ingin melukai si anak. Hanya saja, ia mengetahui bahwa semakin banyak pengetahuan sang anak, semakin berat pula beban yang ditanggungnya. Umpamanya saja, mengetahui penderitaan orang lain membuat seseorang tergerak untuk membantu meringankan dan mengatasinya. Jika seseorang bertahan dalam keimanan dan keyakinannya sewaktu diuji, maka ia akan diberi keimanan, keyakinan, dan kebebasan tambahan. Seekor burung menguji anaknya untuk mengetahui ihwal apakah anaknya sudah bisa terbang dari sarangnya. Sang ibu tidak langsung mendorong anaknya dari tubir ketinggian, melainkan mendorongnya untuk berani mengepakkan sayapnya agar bisa tumbuh dengan kuat. Si burung muda menyadari bahwa ia pun bebas sewaktu ia mampu terbang dari sarangnya.
Dalam kenyataannya, manusia terbebas dari segala sesuatu selain Allah. Allah tidak terbatas. Karena itu, manusia bebas tanpa batas, tetapi ia tidak mengetahui hal ini karena ia tidak menggunakan sayap iman dan ketawakalan penuh kepada Allah.
Ketidakpastian berbagai peristiwa merangsang kita merenung agar bisa mencapai kepasrahan sejati—sadar dan hidup dalam kekinian, detik demi detik. Dalam cinta-Nya kepada manusia, Allah mengetatkan tali-Nya atas diri manusia barang sebentar. Tali itu mengingatkannya pada Allah saat itu juga, tetapi Allah sesungguhnya selalu hadir setiap saat. Jika manusia merasa sebagai seorang budak, jika ia mengakui kemuliaan Penciptanya, maka ia adalah makhluk yang mulia. Seekor kuda bangsawan tidak harus selalu ditarik-tarik dan dipukul kepalanya. Secara spontan ia sudah tahu bahwa ia memiliki majikan. Sama juga halnya, jika manusia disentak setiap saat, maka hal itu disebabkan ia sudah menyimpang—inilah bukti cinta Allah.
Seseorang tak akan pernah bisa merasa yakin akan seperangkat hukum yang harus dipatuhinya. Hanya manusia sajalah, dengan segenap tindakan dan niatnya, yang menyatukan dirinya dengan seperangkat hukum tertentu. Jika tindakannya tulus dan ikhlas, memancar dari sumber yang mumi, maka ia akan berada dalam sebuah sungai yang hasil akhir dan tujuannya jemih. Sebaliknya, disebabkan oleh situasi manusia, tingkat kekafiran dan ketercerabutannya, ia akan diseret dalam arus sungai yang bakal mengombang-ambingkan dan menghancurkannya.
Perjalanan seseorang dalam kehidupan ini laksana berada dalam suatu pesawat yang melintasi ratusan sungai, yang merupakan hukum-hukum takdir. Sang penumpang, sesuai dengan niatnya, akan menjejakkan kakinya di sebuah sungai atau sungai lainnya. Pilihan ada di tangannya. Jika ia menjejakkan kakinya di sungai yang kotor dan berbahaya karena kebodohan dan kejahilannya, maka yang hanya bisa dilakukannya adalah berusaha keluar darinya, kembali masuk ke kendaraannya, dan pindah ke sungai lain. Hukum-hukum ini, sungai-sungai ini, mengatur takdir. Terserah kepada setiap individu untuk memilih berakhir di sungai yang alirannya tenang dan bisa dapat benar-benar mencerminkan kebenaran Tuhan Yang Maha Pengasih di baliknya.
أَوَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صَافَّاتٍ وَيَقْبِضْنَ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلَّا الرَّحْمَنُ إِنَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ بَصِيرٌ
19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Tuhan Yang Maha Pengasih. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.
أَمَّنْ هَذَا الَّذِي هُوَ جُندٌ لَّكُمْ يَنصُرُكُم مِّن دُونِ الرَّحْمَنِ إِنِ الْكَافِرُونَ إِلَّا فِي غُرُورٍ
20. Atau siapakah ia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari Tuhan Yang Maha Pengasih? Orang-orang kafir itu tak lain hanyalab tertipu belaka.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 29 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

TAWAKKALNA ALALLAH

Termasuk di antara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Insya Allah kita akan membicarakan hal ini melalui tiga hal :

Pertama, yang dimaksud bertawakkal kepada Allah.
Kedua, dalil syar’i bahwa bertawakkal kepada Allah termasuk diantara kunci-kunci rizki.
Ketiga, apakah tawakkal itu berarti meninggalkan usaha ?
Pertama, Yang Dimaksud Bertawakkal Kepada Allah Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal. Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata”.[Ihya’ Ulumid Din, 4/259]
Al-Allamah Al-Manawi berkata :”Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali”[Faidhul Qadir, 5/311].
Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata : “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. [Murqatul Mafatih, 9/156]

Kedua, Dalil Syar’i Bahwa Bertawakkal Kepada Allah Termasuk Kunci Rizki Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Artinya : Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”. [1] Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki.
Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepadaNya, niscaya Allah akan mencukupinya.
Allah berfirman. “Artinya : Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki0Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. [Ath-Thalaq : 3]
Menafsirkan ayat tersebut, Ar-Rabi’ bin Khutsaim mengatakan : “(Mencukupkan) dari setiap yang membuat sempit manusia” [Syarhus Sunnah, 14/298]

Ketiga, Apakah Tawakkal Itu Berarti Meninggalkan Usaha?
Sebagian orang mungkin ada yang berkata :”Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalas-malasan, lalu rizki kita datang dari langit ?”
Perkataan itu sungguh menunjukkan kebodohan orang yang mengucapkannya tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Mahaesa dan Yang kepadanya tempat bergantung.
Dan sungguh para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan- telah memperingatkan masalah ini. Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata : “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam bepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui bahwa kebaikan (rizki) itu di TanganNya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut”.[Dinukil dari Tuhfatul Ahwadzi, 7/8]
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau di masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, ‘Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. “Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku” Dan beliau bersabda. “Artinya : Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah meberimu rizki sebagaimana yang diberikanNya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”. Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki. Selanjutnya Imam Ahmad berkata, ‘Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita. [Dinukil dari Fathul Bari, 11/305-306]
Syaikh Abu Hamid berkata :”Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkaan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari’at. Sedangkan sya’riat memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin suatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula.? Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, ‘Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya”.
Imam Abul Qasim Al-Qusyairi :”Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah maka hali itu tida bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena takdirNya, dan terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dariNya” [Dinukil dari Murqatul Mafatih, 5/157].
Diantara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Artinya : Seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ikatlah kemudian bertawakkallah” [2] Dan dalam riwayat Imam Al-Qudha’i disebutkan. “Artinya : Amr bin Umayah Radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah !!, Apakah aku ikat dhulu unta (tunggangan)-ku lalu aku bertawakkal kepada Allah, atau aku lepaskan begitu saja lalu aku bertawakkal ? ‘Beliau menjawab, ‘Ikatlah kendaraan (unta)-mu lalu bertawakkallah”. [Musnad Asy-Syihab, Qayyidha wa Tawakkal, no. 633, 1/368]
Kesimpulan dari pembahasan ini adalah bahwa tawakkal tidaklah berarti meninggalkan usaha. Dan sungguh setiap muslim wajib berpayah-payah, bersungguh-sungguh dan berusaha untuk mendapatkan penghidupan. Hanya saja ia tidak boleh menyandarkan diri pada kelelahan, kerja keras dan usahanya, tetapi ia harus meyakini bahwa segala urusan adalah milik Allah, dan bahwa rizki itu hanyalah dari Dia semata.

Disalin dari buku Mafatihur Rizq fi Dhau’il Kitab was Sunnah oleh Syaikh Dr Fadhl Ilahi, dengan edisi Indonesia Kunci-kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan As-Sunah hal. 28 – 35 terbitan Darul haq, penerjemah Ainul Haris Arifin Lc

 
Leave a comment

Posted by on 23 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Ketika Langit di Gulung dengan Tangan Kanan-Nya

Sungguh akan tiba masanya bagi seluruh manusia untuk menyaksikan bagaimana bumi digenggam-Nya dan langit pun akan digulung dengan tangan kanan-Nya.
Moment itu terjadi pada hari kiamat dimana pada hari itulah segala amal hamba-hamba-Nya akan dihisab dan pada hari itu pulalah Allah akan menunjukkan kekuasaan-Nya dan kebesaran-Nya. Nah, mari kita baca lebih seksama lagi tentang peristiwa ini yaitu ketika Allah menggenggam bumi dan menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas berikut penjelasan tentang Arsy-Nya…Berangkat dari firman Allah dalam surat Az-Zumar ayat 62 yang berbunyi:

”Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Allah dan Maha tinggi Dia dari apa yg mereka persekutukan (7)”

Imam ibnu Katsir’ dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa:

Ayat ini berkenaan dengan sifat Allah kita mengimani bahwa bumi itu benar-benar digenggam dengan Tangan Allah sebagaimana yang tertulis dalam
ayat tersebut dan langit itu benar-benar digulung dengan Tangan Kanan-Nya.Dan Allah menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas
sebagaimana termaktub dalam surat Al-Anbiyaa ayat 104 yang berbunyi:
”Yaitu pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas”

Kemudian beliau melanjutkan dengan ayat berikutnya:

Allah Ta’ala berfirman , “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya” maksudnya, orang-orang musyrik tidak
mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ketika mereka menyembah Allah, mereka menyembah pula kepada yang lain-Nya . Padahal
Allah adalah Maha besar yang tidak ada yang lebih besar daripada-Nya. Yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Yang memiliki segala sesuatu. Semuanya
berada dibawah ketentuan dan kekuasaan-Nya. Ibnu Abbas berkata, “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya” mereka
adalah orang-orang kafir yang tidak beriman kepada qudrat Allah atas mereka.Maka barangsiapa yang beriman bahwa Allah itu Maha kuasa terhadap
segala sesuatu, dia telah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya.Dan, barangsiapa yang tidak beriman terhadap hal itu sesungguhnya dia tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang
sebenarnya.(tafsir Ibnu Katsir 4/129-130) Banyak sekali hadits-hadits yang berkaitan dengan ayat mulia ini. Diantaranya yaitu;

Hadits pertama :

Ibnu Mas’ud berkata ,”salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasulullah SAW dan berkata :Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai dalam kitab suci kami bahwa Allah akan meletakkan langit diatas satu jari, air diatas satu jari, tanah diatas satu jari, dan seluruh makhluk diatas satu jari , maka Allah berfirman:Akulah penguasa! Tatkala mendengarnya, tertawalah Rasulullah sehingga tampak gigi-gigi beliau,
karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu, kemudian beliau membacakan firman Allah ;Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari
kiamat…. dstnya”(mutafaq alaih)

Hadits ini menunjukkan bahwa Allah mempunyai jari-jari sebagaimana Allah mempunyai kedua tangan.Allah juga memiliki jari-jari tetapi jari tangan
Allah tidaklah sama dengan jari tangan makhluk-Nya sebagaimana firman-Nya: “Tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya dan Dia adalah Maha mendengar
lagi Maha melihat” surat Assyuura (42) ayat 11.

Hadits kedua :

Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim :

“…gunung-gunung dan pohon-pohon diatas satu jari, kemudian digoncangkan-Nya dan berfirman:Akulah penguasa, Akulah Allah “

Hadits ketiga :

Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Bukhari :

“…meletakkan semua langit diatas satu jari, air serta tanah diatas satu jari, dan seluruh makhluk diatas satu jari…”(HR.Bukhari & Muslim)

Hadits keempat :

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda :

“Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya dan berfirman : Akulah Penguasa, mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?
Kemudian Allah menggulung ketujuh lapis bumi lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman:Akulah Penguasa mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong “ (Hadits Marfu’)

Hadits kelima :

Hadits riwayat Abu Dzar hadits ini merupakan hadits Shahih beliau bertanya kepada Rasulullah:

“Ya, Rasulullah ayat apa yang paling besar dan paling agung didalam Al-Qur’an ? Rasulullah menjawab :Ayat kursi , perbandingan 7 langit dengan kursi seperti satu gelang yang dilemparkan ditengah-tengah bumi ini dan
perumpamaan keutamaan arsy Allah dengan kursi seperti perumpamaan bumi ini dengan gelang besi itu “

(lihat surat Al-Baqarah ayat 255) yang dimaksud dengan kursi menurut penafsiran yang shahih dari Ibnu Abbas bahwa kursi itu adalah tempat kedua
Kaki Allah/tempat Allah meletakkan kedua Kaki-Nya dan Arsy(tempat Allah bersemayam) tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah sendiri. (lihat Alqaulul mufid alaa kitabit tauhid ; 3/378 cetakan Darul Ashimah ,Riyadh; Syaikh Shalih Ibnu Utsaimin)

Hadits keenam:

Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah dari ‘Ashim dari Zirr dari Abdullah bin Mas’ud beliau berkata :

“Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan antara setiap langit jaraknya 500 tahun, antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun sedangkan Arsy’ berada diatas samudra air itu, dan Allah berada diatas Arsy tersebut tidak tersembunyi bagi Allah suatu
apapun dari perbuatan kamu sekalian “

dan diriwayatkan dengan lafadzh seperti ini oleh Al-Mas’udi dari “ashim dari Abu Wa’il dari Abdullah bin Mas’ud demikian dinyatakan oleh Imam Adz-Dzahabi lalu katanya ;”atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan “ dan beliau menshahihkan hadits ini begitu pula Ibnu Qayyim dalam kitabnya(ijtima’ aljuyus Alislamiyah hal 100) dan Alhaitsami (1/65) dan Imam Thabrani beliau berkata :Bahwa rijal yang meriwayatkannya shahih/terpercaya (ibid, hal 379)

hadits ketujuh:

Ibnu Hatim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda:

“Aku diidzinkan untuk memberitahukan kepada kamu tentang malaikat yang memikul Arsy’ bahwa jarak antara daun telinga dan lehernya adalah sejauh
700 tahun perjalanan burung terbang”(hadits shahih riwayat Imam Abu Dawud dan Syaikh Nashiruddin Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih Abu
Dawud dan Silisilah Hadits Shahih di juz pertama)

Hadits ini menunjukkan bahwa Arsy merupakan makhluk Allah yang terbesardimana Arsy ini akan dijunjung oleh beberapa malaikat sebagaimana yang
dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika beliau menafsirkan surat Al Haaqqah ayat 17;

“Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung Arsy Rabbmu diatas mereka”

Diriwayatkan dari sa’ad bin Jubair bahwa jumlah malaikat pemikul Arsy adalah delapan shaf demikian pula berita yang diterima dari Ibnu Abbas.
Dan dalam satu shaf tidak terkira jumlahnya. (Tafsir Ibnu Katsir 4/796)

Dan hanya Allah Ta’ala yang Maha Mengetahui. Segala puji hanya milik Allah Rabb sekalian alam.Dengan demikian setelah kita membaca ayat diatas
berikut tafsir dan keterangan hadits yang memuat tentang kebesaran dan keagungan Allah ini maka akan membuat diri kita semakin kecil dan hina dihadapan-Nya dan akan berusaha memacu jiwa kita agar jangan sampai menjadi hamba-Nya yang durhaka.Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita dan mengampuni dosa-dosa kita ini, dan semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Allah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wassalam kepada keluarga dan para sahabatnya. Amin.

 
Leave a comment

Posted by on 23 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Allah Ta’ala dan Letak ‘Arsy

October 5, 2007, 7:48 am
Filed under: Aqidah, Bulletin
Keagungan-Kekuasaan Allah Ta’ala* dan Letak ‘Arsy (Tempat Alloh bersemayam / istiwa’)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

*) Dalam bab terakhir ini, Syaikh menyebutkan beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keagungan dan kekuasaan Alloh Ta’ala, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya Alloh saja Tuhan yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia dan hanya milik Alloh segala sifat kesempurnaan dan kemuliaan.

Firman Alloh Ta’ala (artinya):

“Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Alloh dari segala perbuatan syirik mereka.” (Az-Zumar: 67)

‘Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan: “Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam dan berkata:

“Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami) bahwa Alloh akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Alloh berfirman: “Aku-lah Penguasa.” Tatkala mendengarnya, tersenyumlah Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu; kemudian beliau membacakan firman Alloh:

“Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat…” dst.

Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim:

“…gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian digoncangkan-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa, Aku-lah Alloh“.”

Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Al-Bukhari:

“…meletakkan semua langit di atas satu jari, serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari…” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Alloh akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat lalu diambil dengan Tangan Kanan-Nya, dan berfirman: Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?” Kemudian Alloh menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan Tangan Kiri-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?”.”

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RadhiyAllohu ‘anhuma, ia berkata:

“Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Alloh Ar-Rahman, tiada lain hanyalah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu.”

Ibnu Jarir berkata: “Yunus menuturkan kepadaku, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia menuturkan: Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai.”

Ibnu Jarir berkata pula: “Dan Abu Dzar RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan: Aku mendengar Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam:

“Kursi itu berada di ‘Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.”

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia menuturkan:

“Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan diantara setiap langit jaraknya 500 tahun; antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun; dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun; sedang ‘Arsy berada di atas samudra air itu; dan Alloh berada di atas ‘Arsy tersebut, tidak tersembunyi bagi Alloh sesuatu apapun dari perbuatan kamu sekalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud)

Dan diriwayatkan dengan lafadz seperti ini oleh Al-Mas’udi dari ‘Ashim dari Abu Wa’il dari ‘Abdullah, demikian dinyatakan Adz-Dzahaby Rahimahullah Ta’ala; lalu katanya: “Atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan.”

Al-’Abbas bin ‘Abdul Muthallib RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dengan bumi?” Kami menjawab: “Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Antara langit dan bumi jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya perjalanan 500 tahun, sedang ketebalan masing-masing langit adalah perjalanan 500 tahun. Antara langit yang ketujuh dengan ‘Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi. Alloh Ta’ala di atas itu semua dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam.” (HR Abu Dawud dan Ahli Hadits lainnya)

Kandungan tulisan ini:

Tafsiran ayat tersebut di atas. Ayat ini menunjukkan keagungan dan kebesaran Alloh Ta’ala dan kecilnya seluruh makhluk dibandingkan dengan-Nya; menunjukkan pula bahwa siapa yang berbuat syirik, berarti tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.

Pengetahuan-pengetahuan tentang sifat Alloh Ta’ala, sebagaimana terkandung dalam hadits pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam. Mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan tafsiran yang menyimpang dari kebenaran.

Ketika pendeta Yahudi itu menyebutkan pengetahuan tersebut kepada Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, beliau membenarkannya dan turunlah ayat Al-Qur’an menegaskannya.

Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam tersenyum tatkala mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.

Disebutkan dengan tegas dalam hadits adanya dua tangan bagi Alloh, dan bahwa seluruh langit diletakkan di tangan kanan dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat nanti.

Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain itu disebut tangan kiri.

Disebutkan keadaan orang-orang yang berlaku lalim dan berlaku sombong pada hari Kiamat.

Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Alloh bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang.

Besarnya (luasnya) kursi dibanding dengan langit.

Besarnya (luasnya) ‘Arsy dibandingkan dengan kursi.

‘Arsy bukanlah kursi, dan bukanlah samudra.

Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain perjalanan 500 tahun.

Jarak antara langit yang ke tujuh dengan kursi perjalanan 500 tahun.

Dan jarak antara kursi dengan samudra perjalanan 500 tahun.

‘Arsy, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, berada di atas samudra tersebut.

Alloh ‘Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy.

Jarak antara langit dan bumi ini perjalanan 500 tahun.

Masing-masing langit tebalnya perjalanan 500 tahun.

Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dan permukaannya, jauhnya perjalanan 500 tahun. Dan hanya Alloh Ta’ala yang Maha Mengetahui.

Segala puji hanya milik Alloh Rabb sekalian alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Alloh kepada junjungan kita Nabi Muhammad ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.

Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

 
Leave a comment

Posted by on 15 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Bulan pernah terbelah…pada zaman Nabi Muhammad SAW


BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM

SUBHANALLAH…………..
MAHA BESAR ALLAH SWT ATAS SEMUA KEJADIAN…

MISTERI TERBELAHNYA BULAN

Allah SWT berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)”

Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :

Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.

Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: “Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu
memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah SAW membelah bulan. Kisah itu adalah di masa sebelum hijrah dari Mekah Al-Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?” Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab: “Coba belahlah bulan …” Maka Rasulullah SAW pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya. Maka Allah SWT memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar,
“Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!”.

Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Mereka lantas menunggu-nunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”. Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!”.

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap …..” sampai akhir surat Al-Qamar.

“Ini adalah kisah nyata”, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?” Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar jawab: “silahkan dengan senang hati.”

Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…….” Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa. Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?” Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!” Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”. Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!””.

Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … (aku pun bergumam), “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Al-Islamu ya’lu wala yu’la alaih..
Artinya: Islam itu tinggi, tiada yang lebih tinggi diatasnya. (Hadist)

 
Leave a comment

Posted by on 13 March 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Al-Qur’an Dan Penciptaan Alam Semesta

Al-Qur’an Dan Penciptaan Alam Semesta

Sepanjang zaman manusia selalu ingin tahu bagaimana alam semesta tak bertepi ini berawal, kemana ia menuju bagaimana hukum yang menjaga tatanan dan keseimbangannya bekerja. Selama ratusan tahun para ilmuwan dan pemikir telah melakukan banyak penelitian tentang hal ini dan memunculkan sedikit sekali teori.
Gagasan yang umum di abad ke XIX adalah alam semesta merupakan kumpulan materi dengan ukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya.
Selain menetapkan dasar berpijak bagi faham materialis, pandangan ini menolak keberadaan pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta adalah tidak berawal dan tidak berakhir, penganut faham materialis adalah Karl Maks, Vladimir I. Lenin, Friedrich Engels, Leon Trotsky dll. Materialisme adalah faham yang meyakini materi sebagai satu satunya keberadaan mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani kuno dan mendapat penerimaan yang luas pada abad ke XIX, faham ini menjadi terkenal dalam bentuk faham materialisme dialektika Karl Maks.
Para penganut faham materialisme meyakini bahwa alam semesta tak hingga sebagai landasan berpijak bagi faham atheis mereka, misalnya dalam buku PRINCIPES FONDAMENTAUX DE PHILOSOPHIE filosof materialis Georges Politzer menyatakan : “Alam semesta bukanlah suatu hal yang diciptakan, jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan”
Ketika Pulitzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad XIX yang menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan dirinya, namun ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pada abad XX akhirnya melumpuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini. Telah ditemukan bahwa alam semesta tidaklah tetap seperti dugaan faham materialisme, tetapi malah sebaliknya, ia terus mengembang. Selain berbagai pengamatan dan perhitungan telah membuktikan bahwa alam semesta memiliki permulaan dan ia diciptakan dari ketiadaan melalui ledakan raksasa. Kini fakta ini telah diterima diseluruh dunia ilmu pengetahuan.
Pada tahun 1929 ahli astronomi berkebangsaan Amerika Hubble melalui pengamatan-pengamatannya pada galaksi-galaksi yang tersebar di langit, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya, ini berarti bahwa bintang-bintang tersebut bergerak menjauihi kita, sebab menurut hukum fisika yang berlaku, spectrum cahaya berwarna yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung berwarna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung berwarna merah. Selama proses pengamatan spectrum cahaya bintang-bintang yang diamati cenderung berwarna merah, ini berarti bintang-bintang tersebut cenderung bergerak menjauhi kita (warna spektrum cahaya : merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila-ungu). Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lainnya, bintang dan galaksi tidak hanya bergerak menjauhi kita tetapi juga saling menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta dimana satu sama lain bergerak saling menjauhi adalah ia secara terus menerus mengembang.
Agar mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di luar angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang. Pada tahun 1917 Einstein telah merumuskan persamaan matematis yang diharapkan dapat melukiskan sifat dan kelakuan alam semesta. Karena terpengaruh faham alam semesta statis, Einstein mencari penyelesaian persamaan tersebut yang dapat melukiskan alam semesta yang bersifat statis. Tahun 1917 Friedman menunjukkan bahwa persamaan Einstain yang asli (sebelum dilakukan perubahan sehingga sesuai dengan faham alam semesta statis) melukiskan bahwa alam semesta tidaklah statis, melainkan berkembang. Dikemudian hari Einstein menyadari bahwa tindakannya itu adalah sebagai kesalahan terbesar dari kariernya sebagai ilmuwan.
Apa arti dari mengembangnya alam semesta?. Mengembangnya alam semesta berarti jika alam semesta bisa bergerak mundur ke masa lampau maka ia akan terhenti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan titik tunggal ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah mempunyai volume nol dan mempunyai kepadatan tak hingga. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini. Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini disebut dengan Big Bang, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut.
Perlu diketahui bahwa volume nol merupakan pernyataan teoritis yang dipakai untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep ketiadaan yang berada diluar batas pemahaman manusia hanya dengan menyatakannya sebagai titik bervolume nol. Sebenarnya bahwa titik tak bervolume berarti ketiadaan.

Demikianlah, alam semesta muncul dari ketiadaan, dengan kata lain ia telah diciptakan.
Fakta ini yang baru ditemukan fisika modern abad XX telah dinyatakan dala Al Quran empat belas abad yang lampau, :”Dia pencipta langit dan bumi” (QS Al An’am 101).
Teori Big Bang menunjukkan semua benda alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Kenyataan ini yang dikemukan teori Big Bang, sekali lagi telah dinyatakan dalam Al Quran empat belas abad yang lalu saat manusia memiliki kemampuan terbatas tentang alam semesta : “Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya pada langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya” (QS Al Anbiyaa’ 30).
Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain. Mengembangnya alam semesta adalah salah satu bukti terpenting yang ditunjukkan alam semesta yang diciptakan dari ketiadaan.
Meski tak ditemukan oleh ilmu pengetahuan hingga abad XX, Allah telah memberi tahu kita akan kenyataan ini dalam Al Quran yang diturunkan empat belas abad yang lalu : “Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan/kekuatan Kami (dentuman besar) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya” (QS Adz Dzariyat 47).
Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah diciptakan dari ketiadaan, dengan kata lain ia telah diciptakan Allah. Inilah alasan mengapa para astronom yang menganut faham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan ini mengemuka dalam pernyataan A.S. Eddington, salah satu fisikawan materialis yang sanagat terkenal : “Secara filosofis gagasan tentang permulaan tiba-tiba dan tatanan alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya”.
Bilamana maha ledakan itu terjadi? Dari pengetahuan kita mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta diperkirakan peristiwa terjadi antara sepuluh sampai lima belas milyar tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kosmos melebihi seratus juta-juta-juta-juta-juta derajat. Karena kerapatan materi yang sangat tinggi dan suhu yang sangat tinggi pula, orang tidak dapat menamakan keadaan alam semesta pada waktu itu.
Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk zat padat; kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas. Tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi ilmuan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai “sop-kosmos”; suatu fluida.
Istilah sop kosmos; suatu fluida barulah diketahui setelah berkembangnya ilmu fisika moderen, tetapi Al-Quran telah mengisyaratkannya dalam ayat 7 Surah Hud “Dan Dialah yang telah menciptakan alam semesta dalam enam masa, adapun ‘ArsyNya telah tegak diatas air…….
Kata-kata ArsyNya telah tegak diatas air (sebelum alam semesta diciptakan) mengandungg arti bahwa kekuasaaNya telah ditegakkan sebelum alam semesta tercipta. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah; dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu.
Kemaha perkasaan Allah dalam mengatur proses penciptaan alam semesta dilkukiskan dalam Surah Al-Fushilat ayat 11 : “Dalam pada itu Dia mengarah pada penciptaan langit (sama) dan langit (sama) itu berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan bumi, “Datanglah kamu berdua dengan patuh atau terpaksa”; keduanya berkata “Kami datang dengan patuh”.
Jadi pada saat penciptaan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai sunnatullah. Dengan berlakunya hukum-hukum alam ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom, molekul, partikel, dan seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari, bumi, bintang, galaksi, dan sebagainya berjalan sepanjang waktu sesuai dengan panggarisan hukum-hukum tersebut. Tida ada satupun yang menyimpang kecuali dengan izin Allah.
Seorang materialist lain, astronom terkemuka asal Inggris, Fred Hoyle, adalah termasuk yang paling terganggu oleh teori Big Bang. Dipertengahan abad ke XX, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut Steady State yang mirip dengan teori alam semesta tetap abad ke XIX. Teori Steady State menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan faham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang yang menyatakan bahwa alam semesta ini memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady state telah lama menentang teori Big Bang, namun ilmu pengetahuan justru melumpuhkan pandangan mereka. Pada tahun 1948, George Gamow muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan setelah pembentukan alam semesta dari ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang seharusnya ada ini pada akhirnya diketemukan.
Pada tahun 1965 Penzias dan Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini disebut dengan radiasi latar kosmis, tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah diketahui bahwa sisa radiasi ini adalah peninggalan dari tahap awal peristiwa Big Bang.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian radiasi latar kosmis. Hanya perlu delapan menit bagi satelit tersebut untuk membuktikan hasil penelitian/perhitungan Penzias dan Wilson. Satelit Nasa tersebut telah menemukan sisa ledakan raksasa pada awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan penemuan teori Big Bang. Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang diterima seluruh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta.
Dengan kemenangan Big Bang, mitos materi kekal yang menjadi dasar berpijak faham materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum Big Bang dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi ada dengan ledakan raksasa in saat alam tersebut tidak ada? Filosof atheis terkenal Anthony Flew berkata : “Sayangnya pengakuan adalah baik bagi jiwa. Karenanya, saya akan memulai dengan pengakuan bahwa kaum Atheis Stratonesian terpaksa dipermalukan oleh kesepakatan kosmologi zaman ini. Sebab tampaknya para ahli kosmologi tengah memberikan bukti ilmiah bahwa alam semesta memiliki permulaan”.
Banyak ilmuwan yang secara tidak buta menempatkan dirinya sebagai atheis telah mengakui peranan pencipta yang maha perkasa dalam penciptaan alam semesta, mereka adalah : Newton, Keppler, Koppernik, Hubble, Einstein. Pencipta ini haruslah zat yang telah mencipta materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya.
Ahli astro fisika terkenal Hugh Ross mengatakan :”Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta itu sendiri. Tuhan tidak pula berada di alam semesta”.
Kesimpulan ini memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, dan Tuhan tidak pula berada di alam semesta !!. Begitulah materi diciptakan oleh sang maha pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah penguasa langit dan bumi.
Sebenarnya Big Bang telah menimbulkan masalah yang lebih besar bagi kaum materialis dari pada pengakuan filosof atheis Anthony Flew, sebab Big Bang tak hanya membuktikan bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, tetapi ia juga diciptakan secara terencana, tersusun rapi dan teratur.
Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini muncullah keseimbangan yang sangat luar biasa yang meliputi berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan dan benda angkasa lainnya. Hukum alampun terbentuk, yang kemudian disebut hukum fisika yang seragam di seluruh penjuru alam semesta dan tidak berubah. Hukum fisika yang muncul secara bersamaan dengan Big Bang tak berubah sama sekali selama lebih dari lima belas milyard tahun !!. Selain itu hukum ini didasarkan atas perhitungan yang sangat teliti, sehingga penyimpangan satu milimeter saja dari angka yang ada sekarang akan berakibat kehancuran dari seluruh bangunan dan tatanan alam semesta. Semua ini menunjukkan bahwa suatu tatanan sempurna muncul setelah Big Bang. Namun ledakan tidak mungkin memunculkan suatu tatanan sempurna. Semua ledakan yang diketahui cenderung berbahaya, menghancurkan, dan merusak apa yang ada.
Jika kita diberitahu tentang tatanan yang sangat sempurna setelah ledakan, kita dapat menyimpulkan ada campur tangan cerdas dibalik ledakan ini dan segala serpihan yang berhamburan akibat ledakan ini telah digerakkan secara sangat terkendali, informasi ini telah disebutkan dalam Al-Quran 15 abad yang lalu dalam Surah Al-Qamar ayat 49 :”Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan ukuran”
Pernyataan Fred Hoyle yang telah bertahun-tahun menentangnya mengungkapkan dengan jelas :”Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari ledakan tunggal. Tapi sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan meteri berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius menghasilkan dampak yang berlawanan, yakni misteri yang saling bergabung membentuk galaksi-galaksi”.
Tidak ada keraguan jika suatu tatanan sempurna muncul melalui suatu ledakan, maka harus diakui bahwa campur tangan pencipta berperan disetiap saat dalam ledakan ini. Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah penciptaan alam semesta yang dapat dihuni.
Persyaratan bagi suatu planet yang layak huni sungguh sangat banyak dan rumit, sehingga mustahil beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan.
Setelah melakukan perhitungan tentang kecepatan mengembangnya alam semesta, Paul Davies berkata : “Bahwa kecepatan ini memiliki ketelitian yang sungguh tak terbayangkan. Perhitungan jeli menempatkan kecepatan pengembangan ini sangat dekat pada angka kritis yang dengannya alam semesta akan terlepas dari gravitasinya dan mengembang selamanya. Sedikit lebih lambat dan alam ini akan runtuh, sedikit lebih cepat dan keseluruhan matahari alam semesta sudah berhamburan sejak dulu. Big Bang bukanlah sekedar ledakan zaman dulu, tapi ledakan yang terencana dengan sangat cermat”.
Stephen Hawking dalam bukunya “The Brief History of Time” menyatakan : Bahwa alam semesta dibangun dengan perhitungan dan keseimbangan yang sangat akurat dari yang dapat kita bayangkan.
Dengan merujuk pada kecepatan mengembangnya alam semesta, Hawking berkata : “Jika kecepatan pengembangan ini dalam satu detik setelah Big Bang berkurang meski hanya sebesar satu per seratus ribu juta juta, alam semesta ini akan telah runtuh sebelum pernah mencapai ukuran seperti sekarang”.
Paul Davies juga menjelaskan akibat tak terhindarkan dari keseimbangan dan perhitungan yang luar biasa akuratnya ini : “Adalah sulit menghindarkan kesan bahwa tatanan alam semesta sekarang yang terlihat begitu peka terhadap perubahan angka sekecil apapun, telah direncanakan dengan sangat teliti. Kemunculan serentak angka-angka yang tampak ajaib ini, yang digunakan alam sebagai konstanta-konstanta dasarnya, pastilah menjadi bukti paling meyakinkan adanya perancangan alam semesta”.
George Greenstein dalam bukunya yang berjudul “The Symbolic of Universe” menyatakan :”Ketika kita mengkaji suatu bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supranatural pasti terlibat”.
Singkatnya saat meneliti tatanan mengagumkan pada alam semesta akan kita pahami bahwa cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang sangat peka dan tatanan yang sangat rumit untuk dijelaskan oleh peristiwa kebetulan. Sebagaimana dimaklumi tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan raksasa. Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah suatu bukti nyata adanya penciptaan supra natural. Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan pencipta beserta ilmu, keagungan dan hikmahnya yang tak terbatas, yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan yang berkuasa mengaturnya tanpa henti. Pencipta ini adalah Allah, Tuhan seru sekalian alam.

By Segala Sumber

 
Leave a comment

Posted by on 12 March 2010 in Nyata dan Keyakinan