RSS

Monthly Archives: January 2010

Abu Sulaiman Ad-Darani; Saksi yang melihat BIDADARI

Bidadari, siapakah dia ?

Selalunya menarik bila membicarakan dunia bidadari. Mereka adalah makhluq yang Allah ciptakan sempurna tanpa cela. Semua orang mengimpikan bisa bersanding dengannya. Hati kan melayang mengangkasa karena kegirangan mendengar keelokannya. Ketaajuban kan membuncah kala membaca sifat-sifat mereka. Serasa ingin hidup bersama mereka dan tak berpisah tuk selamanya. Memandang mereka bisa memancarkan rasa kedamaian. Anugerah kecantikan mereka membuat mata terpana dan terpesona sembari berkata, “Maha suci Allah yang menciptakan kecantikan dan keindahan..”

Semua sifat yang tertera dalam Al-Qur’an dan As-sunah tentang bidadari yang bermata jeli mungkin sudah dideskripsikan dengan jelas oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dan dinukil oleh Asy-Sya’rani dalam bukunya, ‘Tanbih Al-Mughtarrin.” Gambaran yang membuat hati siapa pun menjadi tegang dan berdegup kencang. Beliau mengatakan,

Jika kamu meminta mereka untuk menikah di jannah, mereka itu adalah para perawan yang mengalir pada tubuh mereka darah muda. Seperti bunga mawar dan buah apel yang tidak terbungkus dan seperti buah delima yang mulus. Matahari terbit dari wajahnya yang indah dan kilat menyambar di antara sela-sela giginya ketika tersenyum. Jika dia memeluk suaminya, dia akan memeluk seperti pelukan antara bumi dan matahari. Jika dia berbicara, pmebicaraannya seperti seorang yang bercengkerama dengan kekasihnya. Jika dipeluk, dia melekat seperti dua ranting yang saling bertautan.

Pipinya yang bening bisa digunakan untuk bercermin dan tulangnya yang putih kelihatan dari balik dagingnya, jika kulit dan dagingnya tidak tertutupi. Jika dia melihat dunia, maka antara langit dan bumi akan dipenuhi bau wanginya, sehingga mulut manusia akan senantiasa membaca tahlil, takbir dan tasbih. Apa yang ada di barat dan timur akan berdandan untuknya, dan setiap mata akan melihatnya dan terpejam untuk melihat selainnya. Cahayanya akan meredupkan cahaya matahari seperti matahari yang meredupkan cahaya bintang, dan akan beriman kepada Allah seluruh manusia yang ada di atasnya.

Jilbab yang ada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya, hasrat untuk menikahinya lebih besar daripada segalanya. Semakin lama waktu bertambah, dia akan kelihatan semakin cantik dan indah. Semakin hari akan semakin bertambah cinta dan erat. Dia tidak pernah haidh, melahirkan dan nifas. Suci dari kotoran, air ludah, kencing, air besar dan kotoran lainnya.

Kegadisannya tidak akan pernah hilang dan muda selamanya. Kecantikannya tidak pudar dan tidak ada rasa bosan untuk menggaulinya. Dia hanya ingin melayani suaminya dan tidak pernah tertarik pada selainnya dan sebaliknya, sehingga dia merupakan puncak ketenangan dan hawa nafsu.

Jika melihatnya akan menggembirakan dan jika diperintah untuk taat, dia pun mentaatinya. Jika suaminya meninggalkannya, maka dia akan menjaga diri dan keamanannya. Dia seorang perawan yang sebelumnya tidak pernah tersentuh oleh manusia atau jin, sehingga setiap kali melihatnya akan menimbulkan rasa gembira. Setiap kali berbicara dengannya, seakan di telinga dipenuhi permata yang indah. Jika dia telanjang (upss. Astaghfirullah…), seluruh istana dan ruangan penuh dengan cahaya.

Jika kamu bertanya tentang usia
Dia usianya masih sangat muda
Jika bertanya tentang kecantikan
Pernahkah kamu melihat matahari dan bulan?
Jika kamu bertanya tentang matanya,
Seperti warna paling hitam di tempat yang paling putih (sangat jelita)
Jika kamu bertanya tentang bentuk tubuhnya
Pernahkah anda melihat pohon yang langsing
Jika kamu bertanya tentang buah dadanya,
Ia seperti buah delima yang lembut
Jika kamu bertanya tentang warna kulitnya
Dia seperti yakut dan marjan

Bagaimana bayangan anda ketika wanita tersenyum di hadapan suaminya, maka jannah pun menjadi terang dengan senyumannya. Jika dia pindah dari satu istana ke istana yang lain, anda akan mengatakan matahari berpindah dari satu poros ke poros yang lainnya. Jika suaminya tiba, alangkah mesra sambutannya. Jika ia memeluk betapa hangat pelukannya.

Jika dia bernyanyi, suaranya terasa nikmat di telinga dan mata. Jika dia merayu dan merajuk, rayuan dan rajukannya terasa nikmat. Jika dia memeluk, tidak ada pelukan yang lebih hangat darinya. Dan jika dia memberi sesuatu atau menerima, tidak ada cara sebaik yang dilakukannya.(wah serius banget mbacanya, rehat dulu donk….nah, sekarang lanjutin mbacanya *_* ).

Qiyamullail, mahar bidadari ?

Qiyamullail bukanlah satu-satunya mahar bidadari. Jalan kebaikan menuju jannah beragam bentuknya, dan itu merupakan karunia Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Terlebih bagi para mujahid fi sabilillah, di mana mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka untuk Allah Ta’ala dengan jannah sebagai imbalannya. Terlampau banyak kisah romantis yang menyebutkan pertemuan calon syahid dengan bidadari. Yang paling fenomenal adalah ainul mardhiyah. Bisa dibaca di http://reisonline.webnode.com/news/ainul-mardiyah-sang-bidadari-surga/.

Pun, dengan qiyamullail. Ia merupakan mahar bagi peminang bidadari. Inilah senandung para bidadari yang menyindir orang-orang yang bersemangat banci namun merindukan bersanding dengan mereka yang bermata jeli;

Apakah kamu meminta bidadari sepertiku
Sedangkan kedua matamu tertidur
Tidurnya kekasih bagiku hukumnya haram
Karena kami diciptakan bagi setiap orang
Yang memperbanyak shalat dan shiyam

Azhar bin Mughits Rahimahullah berkata, “Suatu malam aku bermimpi bertemu dengan seorang bidadari yang sangat cantik, lalu aku katakan kepadanya, milik siapa kamu ?” Dia menjawab, “Milik orang yang bangun malam pada musim dingin.”

Sebagian salaf ada yang enggan menghidupkan malam, lalu datanglah seseorang di dalam mimpinya sembari berkata kepadanya, “Bukankah kamu ingin segera meminang, lalu mengapa kamu bermalas-malasan ? Dia menjawab, “Bagaimana caranya ? “ Orang itu menjawab, “Bangunlah kamu di waktu malam, atau tidakkah kamu tahu bahwa orang yang mengerjakan shalat malam, malaikat berkata, “Peminang sudah bangun menemui pinangannya.”

Azhar bin Tsabit At-Taghlibi juga berkata, “Ayahku termasuk orang yang senang bangun malam. Pada suatu hari ayahku bangun malam, aku bermimpi melihat seorang yang wanita cantik yang menyerupai wanita dunia. Aku katakan padanya, “Siapa kamu ?” Dia menjawab, “Bidadari.” Aku bertanya, “Maukah kamu nikah dengan aku ?” Dia menjawab, “Pinanglah aku wahai tuanku, dan berilah maharku ?” Aku bertanya kepadanya, “Apa maharmu ?” Dia menjawab, “Tahajud yang panjang.”

Namun, dari kisah ahlul lail, orang yang sering qiyamullail yang paling indah adalah apa yang pernah dialami oleh tabi’in agung, Abu Sulaiman Ad-Darani. Kisahnya singkat namun kata-kata bidadari yang menegurnya terasakan keindahannya bagi orang yang membaca kisahnya.

Malam indah itu terasa sangat istimewa….

Bisa berjumpa dengan bidadari adalah karunia ilahi. Hanya orang-orang pilihan yang diberi kelebihan ini. Beruntung nian orang yang mendapatkan kemuliaan bertemu bidadari. Di antara mereka adalah Abu Sulaiman Ad-Darani.

Abu Sulaiman Ad-Darani adalah seorang tabi’in yang menjadikan qiyamullail sebagai mahar bidadari. Acapkali ia mendapatkan kenikmatan luar biasa tatkala berkhalwat dengan Allah Ta’ala. Kelezatan munajat itu melahirkan sebuah kebahagiaan dan ketenangan batin yang merupakan puncak segala kebahagiaan. Sehingga pengalaman spiritualnya ini membuahkan kata-kata yang memiliki ruh spirit iman yang akan selalu menghiasi referensi-referensi tentang indahnya qiyamullail. Katanya, “Sungguh kenikmatan yang dirasakan orang yang bermunajat di kegelapan malam jauh lebih lezat dari pada kesenangan yang didapatkan oleh orang yang suka bercanda dan berhura-hura.”

Hingga pada suatu malam, ia bertemu dengan makhluk yang diimpikannya, bidadari yang bermata jeli. Ia menuturkan kisahnya, “Ketika aku sedang sujud dalam qiyamul lail, kantuk menyerangku hingga aku tertidur. Tiba-tiba ada bidadari datang yang menggerakkan kakinya untuk membangunkanku sembari berkata menegur, “Duhai kekasihku…., apakah kedua matamu bisa terpejam padahal Sang Raja, Allah Ta’ala tidak pernah tidur untuk melihat orang-orang yang bertahajud di malam hari ? Alangkah jeleknya mata yang lebih mementingkan tidur dari pada lezatnya bermunajat kepada Dzat yang Maha Perkasa. Bangunlah. Sungguh kematian sudah dekat dan orang yang bercinta bersua dengan orang yang dicinta. Lantas, apa makna tidurmu ini ?”

Bidadari itu melanjutkan kata-katanya, “Duhai kekasihku…., Duhai sayangku….,Duhai permata hatiku…..,Apakah kedua matamu tidur padahal aku selalu menantimu di tempat pingitanku selama sekian tahun lamanya (dalam riwayat lain 500 tahun) ?”

Mendengar teguran seperti itu, Abu Sulaiman Ad-Darani bangun dengan bermandikan keringat dingin karena malu. Namun tutur kata bidadari yang indah nan manis selalu terkenang dan terekam kuat dalam pendengaran dan hatinya, “Duhai kekasihku…., duhai sayangku….duhai permata hatiku….” Kata-kata itu terasa indah dan nikmat bagi orang yang mendengar dari kekasihnya, apatah lagi dari bidadari.

Ah bidadari-bidadari, apakah kalian juga menanti kami seperti engkau menanti Abu Sulaiman Ad-Darani….?

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on 2 January 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Tags:

BAIK SANGKA TERHADAP ALLAH S.W.T

JIKA KAMU BELUM MENCAPAI BAIK SANGKA TERHADAP ALLAH LANTARAN KESEMPURNAAN SIFAT-NYA, MAKA HENDAKLAH KAMU MEMPERBAIKI SANGKA TERHADAP WUJUD-NYA KERANA WUJUD-NYA BESERTA KAMU. BUKANKAH DIA TIDAK MELETAKKAN KAMU MELAINKAN PADA YANG BAIK-BAIK DAN TIDAK MENYAMPAIKAN KEPADA KAMU MELAINKAN NIKMAT-NIKMAT-NYA.

Kita menggantungkan harapan dan hajat kepada sesama makhluk kerana kurangnya pengenalan (makrifat) terhadap Allah s.w.t. Apabila kurang kenal maka kita mengadakan sangkaan-sangkaan terhadap-Nya. Sangkaan dibahagikan kepada dua iaitu sangkaan baik dan sangkaan buruk. Sangkaan baik datangnya dari iman dan sangkaan buruk datangnya dari keraguan. Corak sangkaan terhadap Allah s.w.t itulah menentukan haluan hajat dan harapan. Jika kita menyangkakan ada makhluk yang mampu menyampaikan harapan dan hajat kita maka kita bersandar kepada makhluk. Jika kita menyangkakan makhluk tidak berdaya maka kita tidak bersandar kepada makhluk.

Perkara sangkaan ini masih lagi di bawah persoalan Iradat dan Kudrat Allah s.w.t. Sangkaan baik dibawa oleh malaikat dan sangkaan buruk dibawa oleh syaitan. Kedatangan sangkaan buruk adalah tanda rohani kita masih terikat dengan alam dunia yang diselubungi oleh cahaya syaitan. Syaitan berada di bawah bumbung langit dunia dan rohani kita juga berada di bawah bumbung yang sama, maka syaitan boleh menjadi kawan dan juru nasihat kepada hati kita. Selagi rohani kita tidak melepasi kongkongan langit dunia selagi itulah gerak hati atau lintasan yang dibawa oleh syaitan mengganggu hati kita. Tujuan latihan kerohanian ialah memberi kekuatan kepada rohani agar ia dapat naik melepasi langit dunia, lalu lepaslah ia daripada taklukan syaitan. Lintasan syaitan tidak lagi mengganggu hatinya, sebaliknya hati akan menerima lintasan malaikat.

Apabila kita memahami tentang hakikat sangkaan buruk maka kita akan berusaha membuangnya agar ia tidak melekat di hati kita. Kemudian sangkaan itu digantikan dengan sangkaan baik. Bagi kita orang awam, baik sangka terhadap Allah s.w.t dibina di atas kesedaran terhadap nikmat-nikmat yang Allah s.w.t kurniakan kepada kita. Nikmat yang kita terima daripada Allah s.w.t tidak pernah putus sejak kita mula dijadikan hinggalah ke detik ini. Dalam surah al-Mu’minuun ayat-ayat 12 hingga 14 Allah s.w.t memberi gambaran yang jelas tentang kejadian manusia, supaya manusia menginsafi nikmat yang diterimanya tanpa diminta dan Allah s.w.t memberi nikmat dengan sebaik-baiknya. Maksud firman-Nya itu ialah:
Dan sesungguhnya Kami jadikan manusia dari air yang tersaring dari tanah. Kemudian Kami jadikan dia setitik mani di tempat ketetapan yang terpelihara. Kemudian mani itu Kami jadikan segumpal darah, lantas darah itu Kami jadikan seketul daging. Kemudian daging itu Kami jadikan tulang-tulang. Kemudian tulang-tulang itu Kami baluti dengan daging. Lantas Kami jadikan dia kejadian yang lain. Maha Suci Allah, sebaik-baik Pencipta.

Perhatikan maksud ayat-ayat di atas. Siapakah kita pada peringkat-peringkat tersebut? Apakah kita sudah ada ikhtiar dan usaha? Adakah kita sudah pandai berharap dan berhajat? Tidak, ketika itu kita tidak memiliki apa-apa dan tidak mengetahui apa-apa. Dalam keadaan yang paling lemah dan paling tidak mengerti apa-apa itu adakah Allah s.w.t membiarkan kita? Adakah lantaran kita tidak berusaha dan berikhtiar maka Dia membiarkan kita kelaparan dan kehausan? Adakah lantaran kita tidak mengajukan harapan dan hajat maka Dia tidak memperdulikan kita? Tidak, sama sekali tidak! Allah s.w.t tidak sekali-kali membiarkan hamba-hamba-Nya. Dia memberi perlindungan dan penjagaan tanpa diminta, tanpa diusahakan, tanpa diharapkan dan tanpa dihajatkan. Apakah ketika di dalam perut ibu sahaja Allah s.w.t memberikan kebaikan kepada kita dan menyekatnya apabila kita meluncur keluar kepada alam dunia ini? Tidak, bahkan nikmat kebaikan Allah s.w.t berjalan terus, cuma bezanya ketika di dalam perut ibu kita menerima tanpa kesedaran dan tanpa pengetahuan, apabila kita berada di dunia kita menerima nikmat serta kebaikan itu dengan kesedaran dan berpengetahuan. Kesedaran dan pengetahuan itu membina sangka baik kita kepada Allah s.w.t. Jika Allah s.w.t telah membuktikan Dia sanggup memberi tanpa diminta mengapa ia enggan memberi apabila harapan dan hajat ditujukan kepada-Nya? Hamba yang insaf akan yakin kepada Allah s.w.t dan dia akan bergantung kepada Allah s.w.t dengan baik sangka.

Kesedaran dan pengetahuan terhadap kebaikan yang Allah s.w.t lakukan membuat seseorang hamba mengerti bahawa Allah s.w.t berbuat baik kerana Dia bersifat dengan sifat yang baik-baik. Kesan daripada sifat yang baik muncullah perbuatan yang baik. Apabila kebaikan Allah s.w.t dilihat pada sifat-Nya, aneka ragam perbuatan yang sebahagiannya mengelirukan pandangan, tidak lagi memudarkan sangkaan baik seseorang hamba terhadap Allah s.w.t. Walaupun ada perbuatan Allah s.w.t yang kelihatan menekan hamba-Nya, tetapi Allah s.w.t yang sempurna sifat –sifat-Nya, dan semua sifat-Nya adalah baik belaka, tiada sebesar zarah pun yang tidak baik, mana mungkin boleh lahir perbuatan yang tidak baik daripada-Nya. Jadi, baik sangka yang bersandar kepada sifat adalah lebih kuat daripada baik sangka yang terhenti pada perbuatan. Baik sangka yang bersandar kepada perbuatan masih menyembunyikan keraguan yang samar-samar iaitu rasa kurang senang dengan apa yang berlaku, seperti firman-Nya:

Dan boleh jadi kamu benci pada sesuatu padahal ia baik bagi kamu. ( Ayat 216 : Surah al-Baqarah )

Baik sangka yang bersandarkan kepada sifat akan melahirkan tawakal dan reda yang sebenarnya, sesuai dengan maksud:

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani.
Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai pemerintahan hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) yang kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. ( Ayat 1 – 4 : Surah al-Faatihah ) Allah s.w.t sahaja memiliki sifat ketuhanan yang menguasai dan mentadbir seluruh alam. Sifat ketuhanan-Nya tidak berpisah dari sifat Pemurah dan Penyayang. Apa juga yang Dia lakukan kepada alam dan isi alam adalah dengan kasih sayang dan kasihan belas. Tidak ada kezaliman dan kejahatan pada perbuatan-Nya. Dia mampu menaburkan ke seluruh alam akan kasih sayang dan kasihan belas-Nya kerana Dia memiliki hari Agama, iaitu semua kehidupan, dunia, Alam Barzakh, akhirat, yang diketahui oleh makhluk, yang tidak diketahui oleh makhluk, semua khazanah dan segala-galanya adalah milik-Nya yang mutlak, tidak berkongsi dengan sesiapa pun. Lantaran itu hanya Dia yang disembah dan hanya kepada-Nya diajukan permintaan dan harapan.

 
Leave a comment

Posted by on 2 January 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

JANGAN MEREMEHKAN WIRID YANG LAMBAT KEDATANGAN WARID

JIKA ENGKAU MELIHAT SEORANG HAMBA YANG DITETAPKAN ALLAH S.W.T DALAM MENJAGA WIRIDNYA DI SAMPING BERTERUSAN BANTUAN ALLAH S.W.T, MAKA JANGAN ENGKAU MEREMEHKAN PEMBERIAN ALLAH S.W.T KEPADANYA SEKALIPUN BELUM TERLIHAT PADANYA TANDA ORANG ARIF (AHLI MAKRIFAT) DAN SERI CAHAYA ORANG YANG CINTA KEPADA ALLAH S.W.T (MUHIBBIN), KERANA SEKIRANYA TIDAK ADA WARID TIDAK MUNGKIN ADANYA WIRID.

Wirid dan warid yang telah disentuh pada Hikmat 64 disinggung lagi dalam Hikmat 77 ini. Orang yang berpegang teguh dengan wiridnya menempuh salah satu dari dua jalan. Jalan pertama adalah jalan ahli akhirat dan jalan kedua adalah jalan ahli Allah s.w.t. Ahli akhirat berpegang teguh pada wiridnya sesuai dengan tuntutan syariat kerana dia mengharapkan balasan syurga dan dijauhkan dari azab neraka. Mereka berpeluang memperolehi kurniaan Allah s.w.t untuk mencapai makam Mukmin. Orang Mukmin adalah orang yang terjamin syurga baginya. Mereka bukan sahaja terjamin mendapat syurga di akhirat, bahkan semasa hidup di dunia lagi mereka mendapat berbagai-bagai kurniaan Allah s.w.t seperti keberkatan pada usaha dan ketenangan pada jiwa. Orang Mukmin berada dalam makam asbab. Keberkatan yang dikurniakan kepada mereka menyebabkan mereka dapat menjalankan kehidupan mereka mengikut kedudukan asbab tanpa bercanggah dengan syariat. Kejayaan mengharmonikan berbagai-bagai anasir dalam dirinya di bawah payung syariat menyebabkan jiwanya menjadi tenang.

Jalan kedua adalah jalan ahli Allah s.w.t. Orang yang menjalani jalan ini dinamakan salikin, salik, muridin atau murid. Orang salik mengamalkan wirid bukan kerana berkehendakkan balasan syurga dan bukan kerana mahu mengelakkan seksaan neraka. Tujuannya adalah untuk membersihkan hati dan berharap agar Allah s.w.t mengurniakan kepadanya makrifat. Makrifatullah yang dicari bukan syurga yang dituntut. Apabila memperolehi makrifat dia dipanggil orang arif, iaitu orang yang mengenal Allah s.w.t. Seterusnya, kehalusan adab sopannya dan kehalusan kurniaan Allah s.w.t kepadanya menjadikannya orang yang mencintai Allah s.w.t (muhibbin).

Walau jalan mana yang ditempuh, di sana terdapat mereka yang telah berpegang teguh dengan berwirid tetapi tanda-tanda orang yang berjaya sampai ke puncak tidak kelihatan pada mereka. Mereka tidak mendapat kurniaan Allah s.w.t dalam bentuk pengalaman kerohanian yang halus-halus. Tidak ada tanda ahli makrifat dan tidak ada cahaya ahli muhibbin pada mereka. Kemungkinannya mereka dipandang rendah oleh orang lain. Orang ramai menilai pencapaian berdasarkan kepada apa yang nyata, seperti pembuktian dengan kekeramatan, mulut masin atau kefasihan menyampaikan ilmu makrifat. Pandangan yang demikian merupakan satu kekeliruan. Sebenarnya kesanggupan untuk mengekalkan wirid sudah merupakan kurniaan yang besar daripada Allah s.w.t. Sekiranya Allah s.w.t tidak mengurniakan kepadanya keteguhan hati tentu mereka tidak sanggup mengekalkan wirid. Keteguhan hati dalam menjaga wirid adalah warid yang datang dari Allah s.w.t dan tidak semua orang memperolehinya. Oleh yang demikian janganlah meremehkan orang yang teguh menjaga wirid sekalipun tidak kelihatan tanda-tanda kecemerlangan pada mereka.

 
1 Comment

Posted by on 2 January 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

BERPEGANG KEPADA MAKAM

JANGAN MEMINTA KEPADA ALLAH S.W.T SUPAYA DIPINDAHKAN DARI SATU HAL KEPADA HAL YANG LAIN, SEBAB JIKA ALLAH S.W.T MENGKEHENDAKI DIPINDAHKAN KAMU TANPA MERUBAH KEADAAN KAMU YANG LAMA.

Hal adalah pengalaman hati tentang hakikat. Hal tidak boleh didapati melalui amal dan juga ilmu. Tidak boleh dikatakan bahawa amalan menurut tarekat tasauf menjamin seseorang murid memperolehi hal. Latihan secara tarekat tasauf hanya menyucikan hati agar hati itu menjadi bekas yang sesuai bagi menerima kedatangan hal-hal (ahwal). Hal hanya diperolehi kerana anugerah Allah s.w.t. Mungkin timbul pertanyaan mengapa ditekankan soal amal seperti yang dinyatakan dalam Hikmat yang lalu sedangkan amal itu sendiri tidak menyampaikan kepada Tuhan?

Perlu difahami bahawa seseorang hamba tidak mungkin berjumpa dengan Tuhan jika Tuhan tidak mahu bertemu dengannya. Tetapi, jika Tuhan mahu menemui seseorang hamba maka dia akan dipersiapkan agar layak berhadapan dengan Tuhan pada pertemuan yang sangat suci dan mulia. Jika seorang hamba didatangi kecenderungan untuk menyucikan dirinya, itu adalah tanda bahawa dia diberi kesempatan untuk dipersiapkan agar layak dibawa berjumpa dengan Tuhan. Hamba yang bijaksana adalah yang tidak melepaskan kesempatan tersebut, tidak menunda-nunda kepada waktu yang lain. Dia tahu bahawa dia menerima undangan dari Tuhan Yang Maha Mulia, lalu dia menyerahkan dirinya untuk dipersiapkan sehingga kepada tahap dia layak menghadap Tuhan sekalian alam. Makam di mana hamba dipersiapkan ini dinamakan aslim atau menyerah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Tuhan yang tahu bagaimana mahu mempersiapkan hamba yang Dia mahu temui. Tujuan amalan tarekat tasauf ialah mempersiapkan para hamba agar berkeadaan bersiap sedia dan layak untuk dibawa berjumpa dengan Tuhan (memperolehi makrifat Allah s.w.t). Walaupun hal merupakan anugerah Allah s.w.t semata-mata, tetapi hal hanya mendatangi hati para hamba yang bersedia menerimanya.

Murid atau salik yang memperolehi hal akan meningkatkan ibadatnya sehingga suasana yang dicetuskan oleh hal itu sebati dengannya dan membentuk keperibadian yang sesuai dengan cetusan hal tersebut. Hal yang menetap itu dinamakan makam. Hal yang diperolehi dengan anugerah bila diusahakan akan menjadi makam. Misalnya, Allah s.w.t mengizinkan seorang salik mendapat hal di mana dia merasai bahawa dia sentiasa berhadapan dengan Allah s.w.t, Allah s.w.t melihatnya zahir dan batin, mendengar ucapan lidahnya dan bisikan hatinya. Salik memperteguhkan daya rasa tersebut dengan cara memperkuatkan amal ibadat yang sedang dilakukannya sewaktu hal tersebut datang kepadanya, sama ada ianya sembahyang, puasa atau zikir, sehingga daya rasa tadi menjadi sebati dengannya. Dengan demikian dia mencapai makam ihsan.

Satu sifat semula-jadi manusia adalah tergesa-gesa, bukan sahaja dalam perkara duniawi malah dalam perkara ukhrawi juga. Salik yang rohaninya belum mantap masih dibaluti oleh sifat-sifat kemanusiaan. Apabila dia mengalami satu hal dia akan merasai nikmatnya. Rindulah dia untuk menikmati hal yang lain pula. Lalu dia memohon kepada Allah s.w.t supaya ditukarkan halnya. Sekiranya hal yang datang tidak diperteguhkan ia tidak menjadi makam. Bila hal berlalu ia menjadi kenangan, tidak menjadi keperibadian. Meminta perubahan kepada hal yang lain adalah tanda kekeliruan dan boleh membantut perkembangan kerohanian.

Kekuatan yang paling utama adalah berserah kepada Allah s.w.t, reda dengan segala lakuan-Nya. Biarkan Allah Yang Maha Mengerti menguruskan kehidupan kita. Sebaik-baik perbuatan adalah menjaga makam yang kita sedang berada di dalamnya. Jangan meminta makam yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semakin hampir dengan Allah s.w.t semakin hampir dengan bahaya yang besar, iaitu dicampak keluar dari majlis-Nya sesiapa yang tidak tahu menjaga kesopanan bermajlis dengan Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Oleh yang demikian, tunduklah kepada kemuliaan-Nya dan berserahlah kepada kebijaksanaan-Nya, nescaya Dia akan menguruskan keselamatan dan kesejahteraan para hamba-Nya.

 
2 Comments

Posted by on 2 January 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

HIJAB MENUTUP DIRI DAN ALAM GHAIB

USAHA KAMU UNTUK MENYINGKAP KEAIBAN YANG TERSEMBUNYI DALAM DIRI KAMU ADALAH LEBIH BAIK DARIPADA USAHA KAMU UNTUK TERBUKA BAGI KAMU TIRAI GHAIB.

Sekiranya kita mengamati Kalam-kalam Hikmat yang telah dihuraikan terlebih dahulu, kita akan mendapati bahawa suasana yang terbaik dan kurang baik sering digandingkan. Kita akan lebih tercenderung untuk melihat kepada suasana yang terbaik, dengan itu mengarahkan usaha kita menuju ke arahnya. Tetapi, kita tidak terlepas daripada sifat jahil dan tergopoh gapah. Kita mudah terkeliru dalam memilih jalan serta tidak sabar menanti hasil yang baik. Sebelum kita melencung lebih jauh, Hikmat 40 ini memberi teguran dan petunjuk jalan yang betul. Kita tidak seharusnya hanya asyik memandang kepada mereka yang dipilih untuk sampai kepada Allah s.w.t dan dibukakan kepada mereka ini tabir yang menutup segala keghaiban. Walaupun kita terpesona dengan pencapaian yang telah mereka perolehi, kita tidak sepatutnya mengarahkan semangat dan usaha gigih untuk mencapai keadaan yang serupa. Sudah menjadi kebiasaan untuk sebahagian ahli tarekat mengarahkan amal ibadat dan zikir bagi tujuan menyingkap tabir ghaib. Beberapa jenis zikir diamalkan untuk memecahkan hijab-hijab tertentu. Zikir-zikir secara demikian tidak menyampaikan seseorang hamba kepada Tuhannya. Setelah mereka banyak berzikir namun, hati mereka masih berasa jauh daripada Tuhan, maka mereka mula berasa berputus-asa dan timbullah keraguan di dalam hatinya. Keadaan yang demikian terjadi kepada orang yang menjadikan zikir sebagai alat untuk memperolehi kedudukan.

Ada pula orang yang menjadikan zikir sebagai alat untuk memperolehi kekeramatan. Di tengah jalan mereka mendapat jazbah khadam lalu dibawa ke alam khadam. Terpesonalah mereka dengan berbagai-bagai makhluk halus yang mempamerkan berbagai-bagai keanehan sehingga lupalah mereka kepada Allah s.w.t yang menjadi maksud dan tujuan. Mereka tidak lagi meminta kepada Allah s.w.t tetapi meminta kepada khadam. Bertambah teballah dinding antara mereka dengan tauhid yang hakiki. Kalam Hikmat di atas menarik orang yang baharu dalam perjalanan supaya menetapkan kaki atas landasan yang betul iaitu dengan memerhatikan kepada diri sendiri, memeriksa segala keaiban diri dan memperbetulkannya, sesuai dengan firman Allah s.w.t:

Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mahu melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)? ( Ayat 21 : Surah adz-Dzaariyaat )

Ungkapan yang popular di kalangan ahli tasawuf adalah:

Siapa yang kenal dirinya kenallah Tuhannya. Siapa yang kenal Tuhannya binasalah jasadnya.

Usaha menyingkap keghaiban yang menyelimuti diri sendiri adalah sebaik-baik pekerjaan untuk mencapai tujuan. Kenalilah keaslian diri sendiri yang suci murni. Ia tidak dapat mengeluarkan cahayanya kerana ditutup oleh keaiban dan kekotoran yang melekat di hati. Arahkan usaha dan perhatian untuk mencari keaiban dan kekotoran tersebut, agar dapat dihapuskan dan dibersihkan. Apabila kulit yang membalut keaslian itu sudah terbuang baharulah diri kita dapat memancarkan sinarnya. Allah s.w.t adalah nur bagi langit dan bumi. Apabila Nurullah memancar dari Hadrat Ilahi dan bertemu dengan Nurullah yang memancar dari lubuk hati nurani hamba, maka terjadilah pertemuan Nurullah dari atas dengan Nurullah dari bawah:

Cahaya berlapis cahaya. Allah memimpin sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang dan peraturan-Nya) kepada nur hidayah-Nya itu; dan Allah mengemukakan berbagai-bagai misal perbandingan untuk umat manusia; dan Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu. ( Ayat 35 : Surah an-Nur )

Hamba menyaksikan ketuhanan Allah s.w.t dan Allah s.w.t menyaksikan pengabdian hamba. Inilah makam musyahadah. Sekiranya kita mahu mencapai makam ini berusahalah menyucikan diri sendiri kemudian berserah terus kepada Allah s.w.t. Kuncinya ialah firman Allah:

Katakanlah (kepada mereka): “Allah jualah (yang menurunkannya)”, kemudian, biarkanlah mereka leka bermain-main dalam kesesatannya. ( Ayat 91 : Surah al-An’aam )

Hanya orang yang benar-benar berserah diri kepada Allah s.w.t boleh berkata: “Allah yang berkuasa! Allah yang mengetahui! Allah itu dan Allah ini. Allah segala-galanya”. Kemudian mereka berpegang teguh dengan pengakuan itu dan tidak memperdulikan lagi apa yang terjadi. Allah s.w.t menyambut para hamba yang demikian dengan firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang menegaskan keyakinannya dengan berkata, “Tuhan kami ialah Allah!”, kemudian mereka tetap teguh di atas jalan yang betul, akan turunlah malaikat kepada mereka dari semasa ke semasa (dengan memberi ilham): “Janganlah kamu bimbang (dari berlakunya perkara yang tidak baik terhadap kamu) dan janganlah kamu berdukacita, dan terimalah berita gembira bahawa kamu akan beroleh syurga yang telah dijanjikan kepada kamu”. ( Ayat 30 : Surah Fussilat ) Jalan untuk mencapai keteguhan hati adalah dengan berserah diri kepada Allah s.w.t. Keteguhan hati membawa seseorang kepada syurga semasa hidupnya. Syurga ini dinamakan makrifat dan ia lebih indah daripada syurga akhirat kerana syurga akhirat adalah makhluk sedangkan syurga makrifat adalah Empunya syurga akhirat itu. Jika syurga akhirat itu sangat indah dan sangat sejahtera maka Empunya syurga itu Maha Indah dan Maha Sejahtera. Apalah nilai keindahan di sisi Pemilik yang melahirkan keindahan, semua keindahan adalah pancaran Keindahan-Nya. Inilah nikmat yang Allah s.w.t sediakan kepada hamba-hamba-Nya yang sanggup terjun ke dalam dirinya sendiri dan melupakan yang lain-lainnya, tidak mengejar kemuliaan duniawi dan ukhrawi, tidak mencari kasyaf dan kekeramatan, tidak menuntut sesuatu apa pun kecuali menyerahkan segala-galanya kepada Allah s.w.t dan reda dengan semua keputusan-Nya.

 
Leave a comment

Posted by on 2 January 2010 in Nyata dan Keyakinan

 

Tags: