RSS

Inilah Gambaran Wajah Nabi Muhammad SAW

Manusia yang paling suci dan yang paling mulia ini menampakkan sifat-sifat yang luar biasa, bahkan semenjak masih kanak-kanak. Kendatipun masih dalam usia muda, beliau lemah lembut dan sabar, cinta akan kedamaian dan kesunyian. Dialah Muhammad.

Makhluk Allah yang paling mulia ini dinamakan Ahmad. Nabi Muhammad SAW adalah penghulu segenap makhluk yang paling dicintai oleh Allah, yang paling mulia, rahmat bagi semesta alam, manusia yang paling suci dan penyempurna revolusi zaman.

Muhammad telah dipilih menjadi Rasul dan diuji oleh Tuhan, dibentuk dan disempurnakan, baru kemudian diutus untuk memperbaiki dan membangun suatu masyarakat manusia menurut kehendak Tuhan. baik lahir maupun batin.

Nabi adalah manusia yang paling sempurna, sebagaimana dikatakan dalam salah satu syair Arab sebagai “permata diantara bebatuan”. Karena itu, tidak seorang pun yang bisa melukiskan atau menggambarkan sosoknya karena kesucian dan kesempurnaannya. Keharaman menggambar wajah nabi SAW justru merupakan bukti otentik betapa Islam sangat menjaga ashalah (originalitas) sumber ajarannya.

Larangan melukis Nabi Muhammad Saw adalah keharusan menjaga kemurnian aqidah kaum muslimin. Sebagaimana sejarah permulaan timbulnya paganisme atau penyembahan kepada berhala adalah dibuatnya lukisan orang-orang sholih, yaitu Wadd, Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan Nasr oleh kaum Nabi Nuh As.

Memang pada awal kejadian, lukisan tersebut hanya sekedar digunakan untuk mengenang kesholihan mereka dan belum disembah. Tetapi setelah generasi ini musnah, muncul generasi berikutnya yang tidak mengerti tentang maksud dari generasi sebelumnya membuat gambar-gambar tersebut, kemudian syetan menggoda mereka agar menyembah gambar-gambar dan patung-patung orang sholih tersebut.

Melukis Nabi Saw dilarang karena bisa membuka pintu paganisme atau berhalaisme baru, padahal Islam adalah agama yang paling anti dengan berhala.

Dalam hadits Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyanjungku berlebihan sebagaimana orang-orang Nashrani menyanjung Putera Maryam, karena aku hanya hamba-Nya dan Rasul utusan-Nya.” ( HR. Ahmad dan Al-Bukhori).

Itulah sebab utama kenapa umat Islam bersikeras melarang melukis Rasulullah, yaitu dalam rangka menjaga kemurnian aqidah tauhid.

Dengan tidak dilukisnya Rasulullah, maka tidak mungkin seseorang yang kafir atau fasiq mampu membuat gambaran wajah Rasulullah, karena hanya orang-orang yang benar imannya saja yang bisa melihat beliau.

“Barangsiapa melihatku di dalam mimpinya, sesungguhnya dia benar-benar melihatku, karena syetan tidak mungkin menyerupai bentukku.” (HR.Ahmad, Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud Ibnu Majah dan Ahmad).

Bila demikian keadaannya maka tidak mungkin seorang fasiq apalagi kafir bisa tahu wajah Rasulullah. Andai mereka bermimpi suatu sosok manusia yang mengaku-aku sebagai Muhammad Saw maka dapat dipastikan bahwa sosok itu adalah setan. Karena meski tidak mungkin menyerupai bentuk Rasulullah, tetapi setan bisa saja mengaku-aku sebagai Rasulullah.

Lalu bagaimana kita mengetahui kalau sosok yang mengaku Rasulullah di dalam mimpi kita adalah benar-benar asli Rasulullah? Caranya mencocokkan dengan hadits-hadits syamail yang shohih, yaitu hadits-hadits yang bertutur tentang ciri-ciri Rasulullah.

Adapun karikatur yang digambar oleh orang-orang kafir dan munafiq dan bahkan difilmkan atau divisualkan (seperti yang dilakukan Sutradara Sam Bcile) adalah kebohongan, karena bagaimana mungkin mereka bisa menggambar wajah Rasulullah, sedangkan untuk melihatnya saja mereka tidak mungkin bisa.

Keharaman untuk menggambar Nabi Muhammad SAW dan juga nabi-nabi yang lain, oleh para ulama ditetapkan berdasarkan kemustahilan untuk memastikan bahwa gambar itu benar-benar yang sebenarnya. Mengingat tidak ada satu orang pun orang di dunia ini yang tahu wajah para nabi.

Dan perbuatan berbohong atas apa yang dibawa kaum kafir terhadap nabi merupakan dosa yang amat serius. Ancamannya tidak tanggung-tanggung, yaitu kedudukan di dalam neraka. “Siapa yang berbohong tentang aku secara sengaja, maka hendaklah dia menyiapkan tempatnya di neraka”. (HR Bukhari Muslim).

Diriwayatkan, Rasulullah Saw bersama Abu Bakar RA, Amir bin Fahira dan seorang penunjuk jalan bernama Abdullah bin Uraiqith bergegas meninggalkan Makkah menuju Madinah.

Tanpa perbekalan yang memadai, Rasulullah berangkat menuju Madinah. Sebuah perjalanan yang tak mudah dan tak juga ringan.

Di tengah perjalanan menuju kota Madinah, rombongan Rasulullah melewati sebuah kemah milik seorang wanita tua bernama UMMU MA’BAD di wilayah Qudaid–antara Makkah dan Madinah. Saat itu, Ummu Ma’bad sedang duduk di dekat kemahnya. Lantaran perbekalan yang minim, rombongan Rasulullah pun singgah ke kemah Ummu Ma’bad.

Rasulullah dan sahabatnya ingin membeli daging dan kurma dari Ummu Ma’bad. Namun, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Saat itu, wilayah Qudaid sedang didera musim paceklik. Lalu Rasulullah melihat seekor kambing yang ada di dekat kemah Ummu Ma’bad.

Rasulullah pun bertanya, “Kambing betina siapa ini wahai Ummu Ma’bad?”

Ummu Ma’bad menjawab, “kambing betina tua yang sudah ditinggalkan oleh kambing jantan.”

Rasulullah kembali bertanya, “Apakah ia masih mengeluarkan air susu?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Bahkan ia tak mengandung air susu sama sekali.”

Lalu Rasulullah meminta izin, “Bolehkah aku memerah air susunya?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Jika engkau merasa bisa memerahnya, maka silahkan lakukan.”

Nabi Muhammad SAW pun mengambil kambing tersebut dan tangannya mengusap kantong susunya dengan menyebut nama Allah dan mendo’akan Ummu Ma’bad pada kambingnya tersebut.

Tiba-tiba kambing itu membuka kedua kakinya dan keluarlah air susu dengan derasnya. Kemudian Rasulullah meminta sebuah wadah yang besar lalu beliau memerasnya sehingga penuh. Beliau memberi minum kepada Ummu Ma’bad hingga ia puas, lalu beliau memberi minum rombongannya hingga mereka pun puas.

Dan beliau adalah orang yang terakhir minum. Beliau kemudian memerah susu untuk kedua kalinya hingga wadah tersebut kembali penuh, lalu susu itu ditinggalkan di tempat Ummu Ma’bad dan beliau pun membai’atnya. Setelah itu rombongan pun berlalu.

Tak lama, datanglah suami Ummu Ma’bad dengan menggiring kambing yang kurus kering, berjalan sempoyongan karena lemahnya. Setelah melihat susu, ia bertanya keheranan, “Darimana air susu ini wahai Ummu Ma’bad? padahal kambing ini sudah lama tidak hamil dan kita pun tidak memiliki persediaan susu di rumah?”

Ummu Ma’bad menjawab, “Demi Allah, bukan karena itu semua. Sesungguhnya seseorang yang penuh berkah telah melewati (rumah kita), sifatnya begini dan begitu.” Abu Ma’bad berkata, “Ceritakanlah kepadaku tentangnya wahai Ummu Ma’bad.”

Ummu Ma’bad bertutur: “Aku melihat seorang yang tawadhu (rendah hati). Wajahnya bersinar berkilauan, baik budi pekertinya, dengan badannya yang tegap, indah dengan bentuk kepala yang pas sesuai bentuk tubuhnya. Ia adalah seorang yang berwajah sangat tampan. Matanya elok, hitam dan lebar, dengan alis dan bulu mata lebat nan halus. Suaranya bergema indah berwibawa, panjang lehernya ideal, jenggotnya tumbuh tebal dan sangat kontras lagi sesuai warna rambutnya yang rapi, rata pinggir-pinggirnya. Antara rambut dan jenggotnya bersambung rapi. Jika ia diam, nampaklah kewibawaannya. Jika ia berbicara nampaklah kehebatannya. Jika dilihat dari kejauhan, ia adalah orang yang paling bagus dan berwibawa. Jika dilihat dari dekat, ia adalah orang yang paling tampan, bicaranya gamblang, jelas, tidak banyak dan tidak pula sedikit. Nada bicaranya seperti untaian mutiara yang berguguran. Beliau berperawakan sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Ia bagaikan sebuah dahan di antara dua dahan. Diantara ketiga orang itu, penampilannya paling bagus dan kedudukannya paling tinggi. Ia memiliki banyak teman yang mengelilinginya. Jika ia berbicara, maka yang lain pun mendengarkannya. Jika ia memerintah, maka mereka segera melaksanakannya. Ia adalah orang yang ditaati, tidak cemberut dan bicaranya tidak sembarangan.”

Abu Ma’bad berkata, “Demi Allah, ia adalah seorang dari Quraisy yang sedang diperbincangkan di kalangan kami di kota Makkah. Aku ingin menjadi sahabatnya. Sungguh aku akan melakukannya jika aku bisa menemukan jalan untuk mendapatkannya.”

Sungguh terperinci wajah dan sifat Rasulullah yang dituturkan Ummu Ma’bad. Kisah Ummu Ma’bad sangat masyhur, diriwayatkan dari banyak jalan yang saling menguatkan satu dengan lainnya.

Sementara dari sahabat Ali ra diriwayatkan: “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang perawakannya sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulat, kedua matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, persendian-persendiannya yang pokok besar, bahunya bidang, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan. Telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun, jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paling mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandangnya tentu enggan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.”

Kemudian Ali menambahkan, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”

sumber: forum.muslim-menjawab.com, mimbarjumat.com, masbadar.com, threefirdhaus.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on 27 August 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

KENALI JASAD, JIWA, RUH DAN HATI ANDA

Pada umumnya orang hanya mengetahui manusia itu hanya terdiri dari jasad dan ruh. Mereka tidak memahami sesungguhnya manusia terdiri dari tiga unsur , iaitu:
Jasad, Jiwa dan Ruh.

Ini dapat dibuktikan dalam firman Allah Taala surah Shaad (38:71-73) yang bermaksud:
Ingatlah ketika Tuhan-MU berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah KU-sempurnakan kejadiannya, maka KU-tiupkan kepadanya Ruh-KU. Maka hendaklah kamu tunduk bersujud kepadanya. Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuannya.
Pada ayat yang lain pula, Allah menjelaskan tentang penciptaan jiwa (nafs). Surah Asy Syams (91:7-10) . Firmanya yang bermaksud:
Dan demi nafs (jiwa) serta penyempurnaannya, maka Allah ilhamkan kepada nafs itu jalan ketaqwaaan dan kefasikannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya dan sesungguhnnya rugilah orang yang mengotorinya.

Selain itu, Allah juga berfirman dalam Al Quran tentang proses kejadian jasad (jisim). Surah Al-Mukminun (23:12-14):
Dan sesungguhnya Kami telah menciptkan manusia dari saripati dari tanah, Kemudian jadilahlah saripati itu air mani yang disimpan dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang, lalu tulang-tulang ini Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk berbentuk lain, maka maha suci Allah. Pencipta yang paling baik.

Jasad
Jasad atau jisim adalah angggota tubuh manusia terdiri dari mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan lain-lain. Ia dijadikan dari tanah liat yang termasuk dalam derejat paling rendah. Keadaannya dan sifatnya dapat mecium, meraba, melihat. Dari jasad ini timbullah kecenderungan dan keinginan yang disebut Syahwat. Ini dijelaskan dalam Al Quran Surat Ali Imran, yang bermaksud:
Dijadikan indah pada pandangan manusia , merasa kecintaan apa-apa yang dingininya (syahwat) iaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang bertimbun dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatan ternakan dan sawah ladang, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah tempat sebaik-baik kembali.

Jiwa (Nafs)
Kebanyakan orang mengaitkannya dengan diri manusia atau jiwa. Padahal ianya berkaitan dengan derejat atau kedudukan manusia yang paling rendah dan yang paling tinggi. Jiwa ini memiliki dua jalan iaitu:

Menuju hawa nafsu (nafs sebagai hawa nafsu)
Menuju hakikat manusia (nafs sebagai diri manusia)

Hawa nafsu. Hawa nafsu lebih cenderung kepada sifat-sifat tercela, yang menyesatkan dan menjauhkan dari Allah. Sebagaimana Allah Taala berfirman surah (Shaad :26) yang bermaksud:
….. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, kerana ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah
Kaitan hati dan hawa nafsu.
Hati memainkan peranan yang sangat penting dalam diri manusia ia menjadi sasaran utama kepada Syaitan. Syaitan sedaya upaya menutupi hati manusia dari menerima Nur llahi. Sebagaimana sabda Rasulullah yang bermaksud:

Jikalau tidak kerana syaitan-syaitan itu menutupi hati anak Adam, pasti mereka boleh milihat kerajaan langit Allah
Cara syaitan menutupi hati manusia itu dengan cara –cara tertentu iaitu dengan menghidupkan hawa nafsu tercela dan yang membawa ke arah maksiat. Semuanya sudah tersedia berada adalam diri manusia, ianya dikenali dengan nafsu ammarah bissu, nafsu sawiyah dan nafsu lawammah..
Para ahli tasawwuf mengatakan bahawa syaitan (anak iblis) memasuki hati manusia melalui sembilan lubang anggota manusia iaitu dua lubang mata, dua lubang hidung, kedua lubang kemaluan dan lubang mulut. Buta manusia bukan buta biji matanya tetapi buta hatinya sebagaimana bukti yang dijelaskan dalam Firman Allah dalam surah (Al Hajj :46) bermaksud:
Kerana sesungguhnya bukan mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati di dalam dada.
Mereka juga mengatakan yang membutakan hati ialah kejahilan atau tidak memahami tentang hakikat perintah Allah SWT. Kejahilan yang tidak segera diubati akan menjadi semakin bertimbun. Allah SWT berfirman dalam surah (Al Baqarah:2-9) yang bermaksud:
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka yang menipu diri sendiri, sedangkan mereka tidak menyedarinya.
Demikian bahayanya penyakit hati yang dihembuskan syaitan melalui hawa nafsu manusia. Sehingga Rasulullah pernah berpesan setelah kembali dari perang Badar. Beliau bersabda :
Musuhmu yangterbesar adalah nafsymu yang berada di antara kedua lambungmu (Riwayat Al-Baihaki)
Jihad yang paling utama adalah jihad seseorang untuk dirinya dan hawa nafsunya.(Riwayat Abnu An-Najari)

Diri Manusia
Nafs atau jiwa sebagai diri manusia adalah suatu yang paling berharga kerana ia berkaitan dengan nilai hidup manusia dan nafs yang diberi rahmat dan redha oleh Allah. Sebagaimana firmannya dalam surah (Al-Fajr : 27-30 ) yang bermaksud:
Hai jiwa yang tenang (Nafsu Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, masuklah ke dalam syurgaKu.
Dan lagi dalam surah (Yusuf: 53) yang bermaksud:
Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh ke arah kejahatan, kecuali nafsu yang beri rahmat oleh Tuhanku.

Berkaitan dengan sabda Rasulullah yang berbunyi:
Barang siapa yang mengenal dirinya , maka ia mengenal Tuhannya.

Hadis ini menyatakan syarat untuk mengenal Allah adalah mengenal diri. Diri atau nafs di sini adalah nafs mutmainnah iaitu nafsu yang tidak terpengaruh oleh goncangan hawa nafsu dan syahwat.
Setiap manusia mempunyai nafs yang berbeza. Ada nafs yang menuju jalan cahaya ada nafs yang menuju jalan kegelapan.

Bagi nafs yang menuju kegelapan atau nafs tercela yang tidak sempurna ketenangannya terutama ketika lupa kepada Allah disebut nafsu lawammah. Firman Allah Taala dalam surah
(Al Qiyammah:2) yang bermaksud:
Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat tercela (nafsu lawammah)

Nafsu ini hanya dapat dikenali dan disaksikan dengan kemampuan tertentu manusia iaitu dengan pancaran batin. Sebagaimana firman Allah dalam surah (Al-Araaf:26) yang bermaksud:
Pakaian taqwa yang menjaga mu dari kejahatan itu adalah yang paling baik.

Ruh
Ruh mempunyai dua arah pengertian iaitu :
a. Sebagai nyawa
b. Sebagai suatu yang halus dari menusia (pemberi cahaya kepada jiwa)

Ruh sebagai nyawa kepada jasad atau tubuh . Ia ibarat sebuah lampu yang menerangi ruang. Ruh adalah lampu, ruang adalah sebagai tubuh. Jika lampu menyala maka ruangan menjadi terang. Jadi tubuh kita ini boleh hidup kerana ada ruh (nyawa)

Manakala dalam pengertian yang kedua, Ruh sebagai sesuatu yang merasa, mengerti dan mengetahui. Hal ini sangat berhubung dengan hati yang halus atau hati ruhaniyyah yang disebut sebagai Latifah Rabaniyyah (hati erti kedua)

Dalam Al-Quran kata ruh disebut dengan sebutan Ruhul Amin, Ruhul Awwal dan Ruhul Qudsiyah.
Ruhul Amin yang dimaksud adalah malaikat Jibril. Firman Allah dalam surah (Asy-Syu’ araa:192-193) yang bermaksud:
Dan sesungguhnya Al- Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, Dia dibawa oleh Ar Ruh Al –Amin (Jibril)
Ruhul Awwal yang bermaksud nyawa atau sukma bagi tubuh manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surah (As-Sajdah:9) yang bermaksud:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kedalam tubuhnya Ruh-NYA dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati , tetapi kamu sedikit sekali bersyukur

Ruh Qudsiyah yang dimksud Ruh yang datang dari Allah (bukan Jibril), tetapi yang menjadi penunjuk dan pengkhabar gembira bagi orang-orang beriman. Ini adalah ruh yang disucikan dihadirat Allah. Ia bercahaya apabila nafsu mutmainnah telah sempurna.

Hati
Hati merupakan raja bagi seluruh diri manusia dan tubuh. Perilaku dan perangai seseorang merupakan cerminan hatinya. Dari hati inilah pintu dan jalan yang dapat menghubungkan manusia dengan Allah. Dengan demikian untuk mengenal diri harus dimulai dengan mengenal hati sendiri.
Hati mempunyai dua pengertian:

Hati jasmani iaitu sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, hati jenis ini hewan pun memilikinya.
Hati Ruhaniyyah iaitu sesuatu yang halus. Hati yang merasa, mengerti, mengetahui, dierpinta dituntut. Dinalai juga dengan Latifah Rabaniyyah.

Hati Ruhaniyyah inilah merupakan tempat iman dan tempat mengenal diri . Sebagaimana firman Allah dalam surah (Ar-Ra’d:28) yang bermaksud:
Iaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tanang dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.
Hadis qudsi yang bermaksud:
Tidak akan cukup menanggung untuk-Ku bumi dan langit-KU tetapi cukup bagi-KU hanyalah HATI (Qalb) hambaKu yang nukamin (Riwayat Ad Darimi)

Nafsu Mutmainnah
Bila hati manusia jauh dari goncangan yang disebabkan bisikan syaitan, hawa nafsu dan syahwat , maka ia disebut nafs Mutmainnah, Apabila ia tunduk dan redha kepada Allah sepenuhnya, maka ia disebut nafs mardhiyyah (nafs yang redha)
Namun jika manusia membiarkan hatinya berada dalam pengaruh hawa nafsu dan syahwat, maka ia akan menjadi orang yang tersesat, lama kelamaan tergelicir dan dimurkai Allah, Sebagaimana Firman Allah dalam surah (Jaastsiyah:23) yang bermaksud:

Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu Nya dan Allah telah mengunci mata pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Maka mengapa kamu tidak mengambil iktibarnya.

Ingat hawa nafsu dan syahwat bukan dibunuh atau dihilangkan, tetapi dikawal oleh nafsu mutmainnah. Di mana ada saatnya hawa nafsu ini perlu dikeluarkan. Sebagaimana firma Allah dalam surah (An Nazi’at:40-41) yang bermaksud:
Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan manahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya.
Nah, jika hati kita telah diselubungi oleh nafsu mutmainnah, maka nafsu mutmainnah inmi menajdfi imam (penunjuk) bagi selruh tubuh dan dirinya, sseeunggunya nafsu mutmainnah inilah disebit-sebut sebagai jati diri manusia (hakikat dari manusia). Allah berfirma dalam surah (Al Araaf:172) yang bermaksud:

Dan Ingatlah, ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman : ”Bukakankan Aku ini Tuhanmu”, mereka menjawab :”Bahkan engkau Tuhan kami, kami menjadi saksi”.

Kami lakukan demikian agar di hari akhirat kelak kamu tidak mengatakan: sesunggunya kami adalah oran-orang lalai terhadap keesaaaan-Mu.
Jika hati yang sakit, maka lupa terhadap perjanjian kita dengan Allah yang pernah diucapkan seperti dalam surah Al Araaf ayat 172 di atas.

Tapi di antara sekian banyak manusia, ada yang yang berjaya menyihatkan kembali jiwanya (nafsu mutmainnah). Apabila jiwa kita telah hidup, bercahaya, sihat kembali, maka jiwa ini akan dapat melihat kerajaan langit Allah. Dalam hal ini bila Ruhul Qudsiyah telah menyala dan bersinar , maka jadilah hatinya rumah Allah , orang-orang yang berjaya ini disebut Ahli Al- Bait. Sebagiamana firman Allah dalam surah (Ali Imran:164) yang bermaksud:

Sesunggunya Allah telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihakan jiwa mereka dan mengajarakan mereka al kitab dan al hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Lagi,
sabda Rasulullah yang bermaksud: Hati oarmg-orang beriman adalah Baitullah (Rumah Allah)

Jadi, Ruhul qudsiyah adalah kenyataan Allah dalam diri manusia. Allah Taala adalah sumber cahaya langit dan bumi dan ruhul qudsiyah adalah sumber cahaya yang ada dalam hati yang digambarkan sebagai pelita, Sebagaimana firman-Nya dalam surah (An Nuur:35) yang bermaksud:
…Allah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya adalah seperti sebuah lubang yang tak tertembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita ini di dalam kaca dan kaca ini seakan-akan bintang yang memantulkan cahaya seperti mutiara.

http://kalempauu.blogspot.com/

 
3 Comments

Posted by on 31 July 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

Protected: Pengakuan DIRI

This content is password protected. To view it please enter your password below:

 
Enter your password to view comments.

Posted by on 29 July 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

Protected: Sebuah TABIR : Ungkap Kalimat Syahadat dan SHOLAT

This content is password protected. To view it please enter your password below:

 
Enter your password to view comments.

Posted by on 29 July 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

Protected: RAHASIA MAKRIFAT pada ZAT

This content is password protected. To view it please enter your password below:

 
Enter your password to view comments.

Posted by on 29 July 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

Siapa Saksi Dan Siapa Yang Meyaksikan Syahadah Kita?

PEYAKSIAN KALIMAH SYAHADAH

Dikesepatan ini, saya bercadang untuk membicarakan tentang peyaksian, iaitu apa maksud saksi dan apa makna meyaksikan!. Sebelum berkalimah syahadah, terlebih dahulu marilah bersama-sama kita memohon petunjuk dan hidayah dari Allah s.w.t, agar lafaz yang terkeluar dari kalam bibir kita itu, dipersetujui, diperkenan dan diredhai Allah s.w.t.

Bagi mendapatkan perkenan atau persetujuan Allah s.w.t, hendaklah terlebih dahulu kita tanya kepada diri kita sendiri, apakah kalimah syahadah yang telah berlangsung di kalam bibir kita itu, dihayati dengan sajian ilmu atau berlangsung dengan sekadar dendangan alunan suara bibir?. Hanya hati mereka-mereka yang ditunjuki, dianugerah dan yang dikehendaki Allah s.w.t sahaja yang dapat membuka simpulan iman yang tersembunyi di sebalik kalimah syahadah. Allah s.w.t sahaja yang dapat membuka simpulan iman itu dan hanya Allah s.w.t sahaja yang dapat memberi petunjuk ke arah mengetahui rahsia di sebalik syahadah.

Simpulan iman yang tersimpul di sebalik syahadah itu, teramat sulit untuk dibuka oleh akal. Syahadah itu, tersimpul disebalik simpulan iman. Simpulan iman itu tersimpul di dalam kalimah “tahu“ tetapi tidak “mengetahui” (kenal). Perkataan tahu itu, adalah simpulan yang tersimpul di sebalik khayalan akal atau hanya sekadar angan-angan.

Tanya: Siapa saksi dan siapa yang meyaksikan?.

Jawab: Semasa melafaz dua kalimah syahadah, kita dikehendaki menghadirkan saksi dan mengadakan saksi. Barulah lafazan kita itu diterima pakai, jika kita melafazkan dengan tidak ada saksi, seumpama lafaz seekur burung tiung dan seumpama lafaz dari sebuah radio kaset. Lafaz kita itu tidak ubah seperti lafaz yang keluar dari bibir seorang kanak-kanak yang belum akil baligh.

Sebelum kita melafazkan kalimah syahadah, terutamanya di dalam solat, kita dikehendaki menghadirkan dan menyatakan wajah Allah terlebih dahulu di dalam hati. Setelah wajah Allah itu benar-benar hadir di dalam lubuk hati kita, barulah dua kalimah syahadah yang kita ucapkan itu, ada nilai, ada makna dan ada yang menyaksikannya. Jika Allah tidak dapat kita hadirkan, kepada Tuhan mana hendak kita persaksikan syahadah kita?.

Siapakah saksi dan siapakah yang menyaksikan di kala kita melafazkan kalimah syahadah?. Yang bersaksi (melafaz) kalimah syahadah kita itu, adalah roh, saksinya adalah Allah sendiri dan yang meyaksikannya atau selaku pemerhatinya, adalah anggota zahir dan makhluk alam seluruhnya. Oleh itu sebelum bersyahadah, kita dikehendaki menghadir dan menzahirkan wajah Allah terlebih dahulu, sebagai saksi ucapan syahadah kita. Barulah ucapan kita itu, boleh dikatakan dilafaz melalui saksi.

Jika kita tidak dapat menghadirkan Allah sebagai saksi, siapa lagi yang hendak menjadi saksi kita?. Tidak sah sesebuah kesaksian (perjanjian), bila kita yang melafaz, kita yang menjadi hakim dan kita juga yang menjadi saksinya.

Syahadah yang sah dan yang diterima Allah itu, adalah syahadah yang disertai dengan saksi. Saksi syahadah kita itu, adalah Allah sendiri, tidak ada perantaraan dengan yang lain selain Allah. Seandainya kita tidak mengenal Allah, bagaimana untuk menghadirkan Allah ke dalam hati, sebagai saksi!. Seandainya kita tidak mengenal diri, bagaimana pula untuk menghadirkan roh, bagi menyaksikan perjanjian syahadah kita, ketika mulut melafazkan syahadah?. Selaku orang Islam, jangan kita ambil mudah dan pandang ringan tentang syahadah, ianya adalah payung kepada segala ibadah.

Apabila kedua-duanya tidak dapat kita hadirkan diketika bersyahadah atau diketika sembahyang, apalah ertinya sebuah kalimah syahadah dan apalah maknanya sebuah ibadah sembahyang. Cuba ajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri, apakah ucapan kalimah syahadah dan sembahyang kita itu, sudah dihadiri oleh wajah Allah dan roh?. jika jawapannya memihak kepada tidak, apalah ertinya, gunanya dan nilainya sebuah syahadah atau solat kita itu, tanpa kehadiran keduanya!. Seandainya kita tidak mengenal Allah, kita tidak akan dapat memahami apa ertinya sebuah kalimah tauhid (Laila hailallah). Manakala seandainya kita tidak mengenal diri, kita tidak akan dapat memahami erti sebutan kalimah rasul (Muhamadul Rasulullah). Pokok pangkalnya di dalam sebarang ucapan kalimah syahadah yang kita lafazkan itu, ianya memerlukan kepada perkara mengenal Allah dan Rasulnya terlebih dahulu. Barulah segala ibadah dan segala ucapan yang kita lafazkan itu, penuh makna dan penuh erti serta diterima Allah Taala. Apabila kita melafazkan ucapan dua kalimah syahadah atau bersolat, hati kita hendaklah terlebih dahulu menghadirkan Allah. Setelah Allah itu hadir dengan jelas dan nyata di hati kita, barulah lafaz kita itu dianggap sah dan disertai sekali dengan saksi dan yang menyaksikannya. Barulah syahadah kita itu, diperakui benar oleh Allah Taala.

Kita tidak perlu menghadirkan orang lain selain Allah bagi menjadi saksi dalam berkalimah. Antara kita dengan Allah, tidak ada hijab, dinding, tembok, sempadan atau perantara. Segala makhluk tidak layak untuk menjadi saksi lafazan keramat syahadah, melainkan Allah sendiri. Bagaimana untuk menzahir dan menghadirkan Allah ke dalam hati kita!, cara dan kaedah untuk menzahir dan menghadirkan wajah Allah ke dalam hati, adalah dengan belajar ilmu mengenal Allah (ilmu makrifat). Manakala semasa kita melafazkan kalimah rasul (Muhamad Rasulullah), kita dikehendaki mengenal diri (mengenal roh) terlebih dahulu. Bagi yang tidak mengenal diri, bagaimana untuk menzahir dan menghadirkan roh untuk bersaksi (berjanji). Bagi sesiapa yang tidak dapat menghadir dan menzahirkan roh, siapakah lagi yang layak untuk menyampai dan mengucapan kalimah syahadah kita kepada Allah?.

Anggota zahir seumpama bibir mulut, hanya selaku pemerhati atau selaku menyaksikannya sahaja, tidak lebih dari itu. Diri kita yang zahir ini hanya selaku tukang sebut sahaja, seumpama kuli angkat barang. Selaku kuli, tugas kita hanyalah angkat, angkut dan pikul barang, manakala yang menerima barang itu, adalah majikan kita (roh), selaku tuan yang empunya barang, kita selaku kuli hanya dapat penat dan dapat pandang sahaja, tanpa dapat rasa sedikit pun dari barang yang kita angkut. Inilah nasib kuli dan nasib orang yang kena suruh.

Apalah yang ada pada kita, selaku hamba abdi yang fakir lagi daif untuk menjadi saksi lafaz kalimah Allah Yang Maha Tinggi. Cuba kita gerak-gerakkan bibir orang yang sudah mati, anggota orang mati itu, boleh bergerak bila ianya digerakkan, sebegitu jugalah taraf dan kedudukan diri kita selaku seorang hamba Allah, selaku abdi dan selaku kuli yang fakir. Sudah tentu tidak layak menjadi saksi dan bersaksi dengan Allah, dalam melafazkan kalimah syahadah.

Yang melafazkan ucapan kalimah syahadah itu, adalah diri rohani (roh) yang berkedudukan tinggi dan bukannya lafaz dari sifat anggota diri jasmani yang berkedudukan rendah lagi kotor, apa lagi dari seorang diri yang tidak kenal diri dan mengenal Allah. Diri jasmani tidak ubah seumpama diri orang mati, yang tidak berkuasa melafazkan kalimah Allah Yang Maha Tinggi. Yang akan menyambut kalimah itu nantinya, adalah dari kalangan yang tinggi-tinggi kedudukannya. Apabila yang menyambutnya berkedudukan tinggi, semestinya yang melafazkannya juga, seharusnya dari kalangan yang berkedudukan tinggi juga. Rohani (roh) kitalah sebenarnya yang melafazkan kalimah syahadah Yang Maha Tinggi itu.

Kalimah syahadah yang kita lafazkan itu, apakah bukan sekadar main-main atau sekadar lafazan dari seekor burung tiung atau dari bibir mulut seorang yang hanya tahu menyebut sahaja?. Apabila kedudukan yang melafaz itu berada pada kedudukan tinggi, barulah yang berkedudukan tinggi juga akan menyambutnya. Yang menyambut syahadah kita itu adalah Allah sendiri.

Setiap kali syahadah yang disebut, setiap kali itu juga bergegarnya tiang arash. Seandainya tiang arash Allah yang menjadi pasak bumi boleh bergegar bila mengucapkan kalimah syahadah, inikan pula hati kita yang lembut. Sudah tentu gegaran, getaran serta sentuhan lafaz kalimah syahadah itu, teramat hebat menerjah ke dinding hati.

Tidak ada yang dapat mengegarkan tiang arash Allah, melainkan kalimah syahadah. Letupan gunung berapi dan laungan malaikat Israfil semasa meniup trompet sangka kala di hari kiamat, tidak sediki tpun dapat mengegarkan tiang arash, melainkan hanya kalimah syahadah dari hamba-hambaNya yang mengenal Allah. Begitulah besar, tinggi, hebat serta dahsyatnya ucapan kalimah syahadah itu, bila ianya dilafaz dengan pengetahuan ilmu mengenal Allah, sehingga ianya dapat mengegar dan mengoncang pintu hati dengan rasa yang amat hebat dan dahsyat. Kalimah syahadah yang keluar dari peti suara kita, janganlah sama dengan suara yang keluar dari peti radio kaset atau dari peti suara seekor burung tiung. Untuk membezakan lafaz kita itu, berbeza dengan lafaz kanak-kanak yang belum akil baliqh atau lafaz burung tiung, kita hendaklah mengenal diri (roh) dan mengenal Allah. Barulah lafaz kita itu, benar-benar lafaz kalimah syahadah yang sebenar-benarnya berbeza dari mereka yang tidak mengenal Allah. Barulah lafaz syahadah kita itu ada saksi, bersaksi dan ada yang menyaksikannya.

Kalimah syahadahlah yang menentu dan membezakan apakah kita itu, benar-benar seorang Islam atau tidak. Apabila benar dalam bersyahadah, maka akan benarlah dalam sembahyang dan benarlah juga menjadi seorang Islam muslim yang beriman.

Yang bersyahadah, yang berjanji dan yang bersaksi itu adalah roh. Yang menjadi saksi dan yang menerima penyaksian kita itu, adalah Allah sendiri, tanpa ada makhluk perantaraan. Manakala anggota tubuh dan makhluk sekalian alam ini, hanya bertindak selaku pemerhati dan selaku menyaksikannya sahaja. Ingat itu!.

http://makrifattokkenali.com/2013/07/25/siapa-saksi-dan-siapa-yang-meyaksikan-syahadah-kita/

 
Leave a comment

Posted by on 29 July 2013 in Nyata dan Keyakinan

 

Ketika Sang Wujud (Allah) menampakkan Wajahnya di hadapan para penduduk Syurga.

Allah SWT berfirman: “Wahai hambaku, adakah suatu permohonan yang belum kalian ajukan kepadaku?”Mereka menjawab: Ya, ada wahai Allah. Satu permintaan kami yang belum kami ajukan. Kami belum melihat wajah-Mu ya Allah.

Lalu Allah SWT menyuruh malaikat hijab mengangkat tabir yang berada di depan mereka. Setelah tabir terangkat, seketika itu angin bertiup sepoi-sepoi dari bawah tabir ke arah mereka. Angin itu bukan sembarang angin, sejuk dan nikmat dirasa oleh tubuh mereka (penduduk syurga). Hati dan perasaan mereka merasa tenang dan bahagia. Wajah-wajah mereka menjadi bercahaya dan berseri-seri. Sesungguhnya, jika penduduk bumi diperlihatkan segala apa yang dirasakan oleh penduduk syurga, niscaya seketika itu mereka ingin mati, karena inginnya.

Selanjutnya Allah SWT berfirman: “Wahai malaikatku, cobalah angkat Hijabul-A’zam yang berada di antara Aku dengan hamba-Ku. Setelah Hijabul-A’zam terangkat, Allah SWT mengatakan:
“Siapakah AKU ini?”
AKU-lah Assalam, kalian muslim. AKU-lah Mu’min, kalian Mu’minun. Akulah yang masa dahulu Mahjub dan kalian Mahjubun. Inilah kalamku, maka dengarlah. Inilah Nur dan wajahku, maka pandangilah. Saat ini , AKU beri kesempatan kepada kalian untuk bertemu dengan-KU.
Saat itu, penduduk syurga barulah dapat memandang wajah Allah dengan mata kepala sendiri tanpa dinding aling-aling, tampak begitu tegas dan nyata. Mata penduduk syurga tidak berkedip sedikitpun, karena terpesona memandangi wajah Allah yang begitu rupawan yang tiada bandingannya.

Ketika kita melihat wajah seorang wanita cantik, maka tidak bosan-bosan kita memandanginya. apalagi melihat wajah sang pencipta yang begitu indah dan tiada tara baginya. Walaupun dibandingkan dengan wajah nabi Yusuf sekali pun yang terkenal dengan ketampanannya, yang tatkala itu ada seorang gadis melihatnya tidak terasa jarinya teriris pisau, belum dapat mengalahkan wajah Allah yang begitu rupawan. Wajah Allah memang tidak ada bandingannya.
seperti dijelaskan dalam potongan suratnya “dan tidak ada bagi Allah suatu bandingan” (QS- Al-Ikhlas: 4).

Dikala orang-orang mu’min (penduduk syurga) memandangi wajah Allah SWT, mata mereka tidak berkedip-kedip dan terus memandangi-Nya hingga tiga ratus tahun lamanya. Demikian asyiknya mereka memandangi Allah, sehingga hilang lenyap haus dan lapar mereka. Begitulah kelezatan dan kenikmatan yang dirasakan oleh para penduduk syurga tatkala memandangi wajah Allah SWT.

Penduduk Syurga meminta kepada Allah untuk sujud di hadapan-Nya.
Allah menjawab: “Ketahuilah, bahwa inilah alam yang tiada tempat melakukan sujud dan rukuq. Inilah alam pembalasan atas amal perbuatan kalian semasa hidup di dunia, dan inilah alam yang kekal. Sesungguhnya, sengaja aku mengundang kalian kemari (Arsy-nya Allah) adalah bukan untuk kalian melakukan sujud di hadapan-Ku, tetapi semata-mata untuk menjamu kalian. Demi kemuliaan kalian disisi-Ku, aku izinkan permohonan kalian untuk sujud kali ini dan ketahuilah tidak akan Aku izinkan kalian lgi sujud setelah ini dan seteusnya.
Kemudian dengan serempak mereka sujud kehadirat Allah. Tidak terkecuali, para malaikat dan bidadari pun ikut sujud. Mereka sujud bukan sebulan dua bulan, melainkan sampai empat puluh tahun lamanya. Demikan, nikmatnya mereka sujud di hadapan Allah SWT.

Allah berfirman: “Wahai hamba-hambaku, cukuplah kalian sujud di hadapanku. Angkatlah kepala kalian, ucapkanlah takbir, tahlil, takdis, dan tahmid serta pujian kepada-Ku. Lalu mereka mengucapkan”
“Allohu Akbar”
“Lailaahailallah”

“Subbun Quduusun Robbunaa Warrobbul Malaaikati Warruuh”
“Subhanallah Walhamdulillahi Walaa Ilaaha Illallah Wallahu Akbar”

Kemudian Allah berfirman dengan lemah lembut:
“Assalamu’alaikum yaa asfiyaa-ii”
“Wassalamu’alakum yaa jamaa’atii”

“Wassalamu’alakum yaa auliyaa’atii”

Ya Tuhan kami, apa lagi yang kami cita-citakan melainkan keridhoan-Mu. Itualah yang kami harapkan dari sisi-Mu.
Ya hambaku, dengan sebab keridhoanKu inilah kalian masuk ke dalam syurgaku dan Aku tempatkan kalian berada di sisi-Ku. Aku memberi kesempatan kepada kalian untuk memandangi wajah-Ku. Aku tlah ridho kepadan kalian, dan kalian telah ridho kepada-Ku.
demikianlah percakapan penduduk Syurga dengan Allah SWT.
Keterangan:
Firman Allah SWT yang artinya :”Muka manusia pada hari bercahaya, memandang kepada tuhan-Nya”
Hadist Nabi SAW:
“Sesungguhnya kamu pasti akan melihat Tuhanmu, sebagaimana kamu dapat melihat bulan tanggal empat belas hari (Purnama Raya). Maka, barang siapa yang menyangkal bahwa Allah tidak dapat dilihat pada hari kemudian, berarti mereka telah menyangkal keterangan Al-qur’an dan hadist nabi.

Memandangi wajah Allah di hari kelak adalah sebuah karunia Allah kepada hamba-Nya. Sebagaimana janji-Nya di dalam Al-Qu’ran surat Al-Kahfi yang artinya:
“Siapa ada pengaharapan untuk bertemu kepada Tuhannya, hendaklah berbuat kebaikan dan jangan menduakannya dalam hal beribabadah.”

DIKUTIP DARI BUKU “AKHIR ZAMAN”
http://dhayesamantha.blogspot.com/2012/01/ketika-sang-wujud-allah-menampakkan.html

 
Leave a comment

Posted by on 29 July 2013 in Nyata dan Keyakinan