RSS

Category Archives: Nyata dan Keyakinan

Semua yang terlupa akan muncul kembali

Syaikh Ahmad Al Badawiy RA. – Wali Qutb Al Ghouts

Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar, khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi. Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”. Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya. Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi. Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya. Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi. Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI

http://darisrajih.wordpress.com/2008/03/03/syaikh-ahmad-al-badawiy-ra-wali-qutb-al-ghouts/

 
Leave a comment

Posted by on 27 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

PERTEMUAN SYEKH ABDUL QODIR DAN SYEKH YUSUF AL HAMADANI

Bismillahir Rahmanir Rahiim
PERTEMUAN SYEKH ABDUL QODIR DAN SYEKH YUSUF AL HAMADANI
Cerita pertemuan pertama al-Jailani dengan al-Hamadani berikut ini diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitabnya, Fatâwâ Hadîtsiyyah:
Abu Sa‘id Abdullah ibn Abi Asrun (w. 585 H.), seorang imam dari Mazhab Syafi’i, berkata, “Di awal perjalananku mencari ilmu agama, aku bergabung dengan Ibn al-Saqa, seorang pelajar di Madrasah Nizamiyyah, dan kami sering mengunjungi orang-orang saleh. Aku mendengar bahwa di Baghdad ada orang bernama Yusuf al-Hamadani yang dikenal dengan sebutan al-Ghawts. Ia bisa muncul dan menghilang kapan saja sesuka hatinya. Maka aku memutuskan untuk mengunjunginya bersama Ibn al-Saqa dan Syekh Abdul Qadir al-Jailani, yang pada waktu itu masih muda. Ibn al-Saqa berkata, “Apabila bertemu dengan Yusuf al-Hamadani, aku akan menanyakan suatu pertanyaan yang jawabannya tak akan ia ketahui.” Aku menimpali, “Aku juga akan menanyakan satu pertanyaan dan aku ingin tahu apa yang akan ia katakan.” Sementara Syekh Abdu-Qadir al-Jailani berkata, “Ya Allah, lindungilah aku dari menanyakan suatu pertanyaan kepada seorang suci seperti Yusuf al-Hamadani Aku akan menghadap kepadanya untuk meminta berkah dan ilmu ketuhanannya.”
Maka, kami pun memasuki majelisnya. Ia sendiri terus menutup diri dari kami dan kami tidak melihatnya hingga beberapa lama. Saat bertemu, ia memandang kepada Ibn al-Saqa dengan marah dan berkata, tanpa ada yang memberitahu namanya sebelumnya, “Wahai Ibn al-Saqa, bagaimana kamu berani menanyakan pertanyaan kepadaku dengan niat merendahkanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini!” dan ia melanjutkan, “Aku melihat api kekufuran menyala di hatimu.” Kemudian ia melihat kepadaku dan berkata, “Wahai hamba Allah, apakah kamu menanyakan satu pertanyaan kepadaku dan menunggu jawabanku? Pertanyaanmu itu adalah ini dan jawabannya adalah ini. Biarlah orang-orang bersedih karena tersesat akibat ketidaksopananmu kepadaku.” Kemudian ia memandang kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani, mendudukkannya bersebelahan dengannya, dan menunjukkan rasa hormatnya. Ia berkata, “Wahai Abdul Qadir, kau telah menyenangkan Allah dan Nabi-Nya dengan rasa hormatmu yang tulus kepadaku. Aku melihatmu kelak akan menduduki tempat yang tinggi di kota Baghdad. Kau akan berbicara, memberi petunjuk kepada orang-orang, dan mengatakan kepada mereka bahwa kedua kakimu berada di atas leher setiap wali. Dan aku hampir melihat di hadapanku setiap wali pada masamu memberimu hak lebih tinggi karena keagungan kedudukan spiritualmu dan kehormatanmu.”
Ibn Abi Asrun melanjutkan, “Kemasyhuran Abdul Qadir makin meluas dan semua ucapan Syekh al-Hamadani tentangnya menjadi kenyataan hingga tiba waktunya ketika ia mengatakan, ‘Kedua kakiku berada di atas leher semua wali.’ Syekh Abdul Qadir menjadi rujukan dan lampu penerang yang memberi petunjuk kepada setiap orang pada masanya menuju tujuan akhir mereka.
Berbeda keadaannya dengan Ibn Saqa. Ia menjadi ahli hukum yang terkenal. Ia mengungguli semua ulama pada masanya. Ia sangat suka berdebat dengan para ulama dan mengalahkan mereka hingga Khalifah memanggilnya ke lingkungan istana. Suatu hari Khalifah mengutus Ibn Saqa kepada Raja Bizantium, yang kemudian memanggil semua pendeta dan pakar agama Nasrani untuk berdebat dengannya. Ibn al-Saqa sanggup mengalahkan mereka semua. Mereka tidak berdaya memberi jawaban di hadapannya. Ia mengungkapkan berbagai argumen yang membuat mereka tampak seperti anak-anak sekolahan.
Kepandaiannya mempesona Raja Bizantium itu yang kemudian mengundangnya ke dalam pertemuan pribadi keluarga Raja. Pada saat itulah ia melihat putri raja. Ia jatuh cinta kepadanya, dan ia pun melamar sang putri untuk dinikahinya. Sang putri menolak kecuali dengan satu syarat, yaitu Ibn Saqa harus menerima agamanya. Ia menerima syarat itu dan meninggalkan Islam untuk memeluk agama sang putri, yaitu Nasrani. Setelah menikah, ia menderita sakit parah sehingga mereka melemparkannya ke luar istana. Jadilah ia peminta-minta di dalam kota, meminta makanan kepada setiap orang meski tak seorang pun memberinya. Kegelapan menutupi mukanya.
Suatu hari ia melihat seseorang yang ia kenal. Orang yang bertemu dengan Ibn al-Saqa itu menceritakan bahwa ia bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi kepadamu?” Ibn al-Saqa menjawab, “Aku terperosok ke dalam godaan.” Orang itu bertanya lagi, “Adakah yang kau ingat dari Al Quran Suci?” Ia menjawab, “Aku ingat ayat yang berbunyi, ‘Sering kali orang-orang kafir itu menginginkan sekiranya saja dulu mereka itu menjadi orang Islam’ (Q.S. al-Hijr [15]: 2).” Ia gemetar seakan-akan sedang meregang nyawa. Aku berusaha memalingkan wajahnya ke Ka’bah, tetapi ia terus saja menghadap ke timur. Sekali lagi aku berusaha mengarahkannya ke Ka’bah, tetapi ia kembali menghadap ke timur. Hingga tiga kali aku berusaha, namun ia tetap menghadapkan wajahnya ke timur. Kemudian, bersamaan dengan keluarnya ruh dari jasadnya, ia berkata, “Ya Allah, inilah akibat ketidakhormatanku kepada wali-Mu, Yusuf al-Hamadani.”
Ibn Abi Asrun melanjutkan, “Sementara aku sendiri mengalami kehidupan yang berbeda. Aku datang ke Damaskus dan raja di sana, Nuruddin al-Syahid, memintaku untuk mengurusi bidang agama, dan aku menerima tugas itu. Sebagai hasilnya, dunia datang dari setiap penjuru: kekayaan, makanan, kemasyhuran, uang, dan kedudukan selama sisa hidupku. Itulah apa yang diramalkan oleh al-Ghawts Yusuf al-Hamadani untukku.”
Cerita pertemuan pertama al-Jailani dengan al-Hamadani berikut ini diriwayatkan oleh al-Haitsami dalam kitabnya, Fatâwâ Hadîtsiyyah:

http://tarekatqodiriyah.wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Ashabul Ukhdud

Shuhaib radiyalllahu anhu menerangkan bahwa Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bercerita.

Pada jaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah lanjut usia, ia berkata kepada sang Raja, “Sesungguhnya aku sekarang sudah tua renta. Karenanya, aku minta kepada Tuan untuk mengirim seorang pemuda, nanti dia kuajari ilmu sihir.” Raja lalu mengirim seorang pemuda agar belajar ilmu sihir.

Namun di tengah perjalanan menuju ke tempat tukang sihir, sang pemuda itu bertemu dengan rahib (pendeta). Pemuda itu mendengar sesuatu yang disampaikan oleh pendeta itu kepadanya. Sampai-sampai ia terlambat sampai di tempat si tukang sihir. Ketika sampai di tempat, pemuda itu langsung dihajar oleh tukang sihir. Ia mengadukan hal itu kepada pendeta. Maka sang pendeta berkata, “Apabila kamu takut terhadap tukang sihir, maka katakanlah bahwa keluargamu menahanmu. Jika kau takut kepada keluargamu, maka katakan bahwa si tukang sihir menahanmu.”

Suatu ketika dalam perjalanan, pemuda tersebut menjumpai seekor binatang yang sangat besar. Orang lain pun tidak berani meneruskan perjalanan. Saat itulah sang pemuda itu berkata,”Nah, hari ini aku akan mengetahui tukang sihirkah yang lebih utama daripada pendeta?”

Pemuda itu mengambil batu seraya berkata,”Ya Allah, apabila ajaran pendeta itu lebih Engkau sukai maka matikanlah binatang besar itu agar orang-orang bisa meneruskan perjalanan!” Batu itu dilemparnya dan binatang itu pun tewas. Orang-orang dapat melanjutkan perjalanan mereka. Pemuda itu pun mendatangi sang pendeta dan menceritakan sesuatu yang baru saja dialaminya. Sang pendeta berkata,”Wahai anakku, kamu sekarang lebih utama dariku karena telah menguasai segala yang aku ketahui. Dan ketahuilah bahwa kamu nanti akan mendapat ujian. Namun ingatlah, jika kamu diuji, janganlah menyebut-nyebut namaku!”

Pemuda itu pun dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan berbagai penyakit lain (atas kuasa Allah). Suatu ketika tersiar kabar bahwa kawan sang Raja sakit mata hingga buta. Sudah berobat ke mana-mana namun tidak juga sembuh. Maka penderita mata itu dating ke rumah sang Pemuda dengan membawa berbagai hadiah. “Seandainya kamu dapat menyembuhkan mataku, maka aku akan memenuhi segala permintaanmu!” Sang pemuda menjawab,”Sesungguhnya aku tidak bisa menyembuhkan, namun yang menyembuhkan hanyalah Allah Taala. Apabila engkau beriman kepada Allah pastilah aku akan berdoa kepada-Nya agar matamu sembuh.” Orang tadi lalu beriman dan sembuhlah penyakitnya.

Orang itu mendatangi sang Raja dan duduk bersama sebagaimana biasanya. Sang Raja bertanya,”Siapakah yang menyembuhkan matamu?” Jawab orang itu,”Tuhanku.” Sang Raja bertanya,”Apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku?” Ia menjawab,”Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Maka sang Raja langsung menyiksa orang itu dan memaksa untuk menunjukkan tempat pemuda yang membimbingnya. Dipanggillah sang Pemuda itu. Lalu sang Raja berkata,”Wahai anakku, sihirmu begitu hebat sehingga dapat menyembuhkan orang buta, penyakit belang dan kamu bisa berbuat ini atau itu.” Sang Pemuda menjawab,”Sesungguhnya yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah.” Sang Pemuda lalu disiksa dan dipaksa agar menunjukkan siapa yang mengajarinya. Sang Pemuda terpaksa menunjukkan sang Gurunya itu. Maka dipanggillah sang Pendeta menghadap sang Raja. Raja berkata,”Wahai Pendeta, kembalilah ke agamamu semula!” Namun sang Pendeta tidak mau. Akhirnya sang Raja menyuruh algojo untuk menggergaji tubuhnya mulai dari atas kepala sehingga terbelah tubuh itu menjadi dua. Lalu kawan Raja dipanggil juga, dan dikatakan,”Kembalilah kau ke agamamu semula!” Orang itu menolak, maka ia mengalami nasib yang sama. Badannya digergaji dan terbelah menjadi dua. Lalu sang Pemuda itu pun diminta untuk kembali ke agamanya semula,”Kembalilah ke agamamu semula!” Namun sang Pemuda dengan tegas menolak.

Ia diserahkan kepada pengawal. “Wahai Pengawal, bawalah pemuda ini ke atas gunung. Jika sampai di puncak, paksalah ia agar kembali ke agamanya semula. Kalau menolak, lemparkan dari atas gunung itu agar mampus!” Sang Pemuda dibawanya ke puncak gunung. Sampai di puncak, pemuda itu berdoa,”Ya Allah, hindarkanlah aku dari kejahatan mereka sesuai dengan apa yang Engkau kehendaki!” Tiba-tiba berguncanglah gunung itu sehingga para pengawal justru yang berguling-guling dari puncak gunung. Sementara sang Pemuda lalu mendatangi sang Raja. Sang Raja bertanya kepada sang Pemuda tersebut,”Apa yang diperbuat oleh para Pengawal?” Pemuda itu menjawab,” Allah telah menghindarkan aku dari kejahatan mereka.”

Pemuda itu ditangkap dan diserahkan kembali kepada pengawal yang lainnya dan dibawalah naik kapal agar ditenggelamkan di lautan. Pasukan pengawal membawanya naik kapal. Pemuda itu berdoa,” Ya Allah, hindarkanlah aku dari kejahatan mereka ini sesuai dengan yang Engkau kehendaki!” Seketika kapal yang mereka tumpangi tenggelam. Sang Pemuda kembali menghadap Raja. Sang Raja bertanya,”Apa yang dilakukan pasukan pengawalku terhadapmu?” Sang Pemuda itu menjawab,”Allah telah menghindarkan aku dari kejahatan mereka. Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuh aku sebelum engkau memenuhi permintaanku.” Raja bertanya,”Apa yang engkau inginkan?” Pemuda itu menjawab,”Engkau harus mengumpulkan banyak orang dalam satu lapangan dan salinlah aku di atas sebuah tiang. Lalu ambillah anak panahku dari tempatnya dan pasang pada busurnya, bacakan kalimat “dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini!” Lalu lepaskan anak panah itu ke arahku. Apabila engkau berbuat seperti itu, maka engkau akan berhasil membunuhku.

Raja mengumpulkan khalayak ramai di lapangan dan menyalib sang Pemuda di atas tiang. Lalu menyiapkan panah. Sang Raja membaca,”Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini!” Lalu anak panah dilepaskan mengenai pelipis Pemuda itu sehingga ia meletakkan tangannya pada pelipis yang terluka. Tak lama kemudian meninggal.

Pada saat itu, orang-orang yang serentak berkata,”Kami beriman dengan Tuhan pemuda ini!” Ada seseorang yang menyampaikan hal itu kepada sang Raja,”Wahai tuan Raja, tahukah engkau, ternyata apa yang engkau khawatirkan selama ini telah terjadi. Demi Allah, kekhawatiranmu tidak ada gunanya sama sekali karena orang-orang telah beriman kepada Allah.” Raja lalu memerintahkan agar membuat parit besar di setiap persimpangan jalan. Di dalamnya dinyalakan api. Lalu memerintahkan kepada siapa saja yang tidak mau kembali ke agama semula, agar dilempar ke dalam parit tersebut. Perintah itu dilaksanakan. Ada seorang wanita yang tetap berpegang teguh pada agama yang benar. Ia membawa bayinya dan merasa sangat kasihan terhadap anak itu kalau ikut serta masuk ke dalam api. Namun sang bayi berkata,”Wahai ibu, sabarlah, karena engkau berada dalam kebenaran.”

HR. Muslim

http://noerpamoengkas.wordpress.com/2010/07/11/ashabul-ukhdud/

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Kursi dan Arsy Allah

Kursi adalah tempat kedua qadam Allah SWT menurut pendapat yang paling shahih. Arsy adalah makhluk Allah yang terbesar, yang lebih besar daripada kursi dan dari seluruh makhluk. Di atasnya, Allah SWT beristiwa` sesuai dengan yang patut bagi keMahaAgungan-Nya. Arsy memiliki tiang-tiang yang disangga oleh para malaikat. Kesalahan bila kita menyamakan antara Arsy dan Kursi Allah.

Ibnu Mas`ud r.a. berkata : ”Antara langit dunia (terendah) dengan langit berikutnya adalah lima ratus tahun, jarak antara setiap langit adalah lima ratus tahun, jarak antara langit ketujuh dengan kursi adalah lima ratus tahun, jarak antara kursi dengan air adalah lima ratus tahun, dan Arsy ada di atas air, sedang Allah berada di atas Arsy, tidak ada yang samar atas-Nya segala sesuatu dari amal-amal perbuatan kalian.” (HR. Ibnu Huzaimah dalam at-Tauhid hal 105; al-Baihaqi dalam al-Asma was Shifat hal 104; ad-Darimi dalam ar-Raddu `Ala al Jahmiyyah hal 26; dalam an-Naqd `Alal Murisi hal 73, 90, 105; at-Thabarani dalam al-Kabir no 8987; al-Khatib dalam al-Muwadhdhih, II/47)

Allah SWT berfirman, ”Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) `Arsy yang mulia.” (Q.S. al-Mukminun : 116)

”Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung.” (Q.S. at-Taubah : 129)

”Yang mempunyai `Arsy, lagi Maha Mulia,” (Q.S. al-Buruj : 15)

Imam al-Qurthubi rh berkata : ”Allah SWT mengkhususkan penyebutan `Arsy karena dia adalah makhluk terbesar, hingga masuklah di dalamnya makhluk-makhluk yang lebih kecil darinya” (Tafsir al-Qurthubi, VIII/202,203)

Imam Ibnu Katsir rh berkata : ”Dan Dia adalah Tuhan yang memiliki `Arsy yang agung. Yakni, Dialah Pemilik segala sesuatu dan Penciptanya. Dikarenakan Dia adalah Rabb `Arsy yang agung yang merupakan atap dari seluruh makhluk. Seluruh makhluk seperti : langit, bumi dan yang ada di antara keduanya berada di bawah `Arsy tunduk patuh dengan ketentuan Allah SWT. Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, kekuasaan-Nya menembus segala sesuatu dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (Tafsir Ibnu Katsir, II/405)

Dari Abu Sa`id r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda, ”Pada hari kiamat, manusia akan tersungkur pingsan, dan aku adalah orang yang pertama kali siuman. Maka ketika aku siuman, ternyata aku mendapati Musa sedang memegang salah satu tiang dari tiang-tiang `Arsy. Aku tidak tahu apakah dia siuman sebelumku, ataukah dia sudah diberi balasan dengan pingsan sewaktu di bukit Thur.” (Q.S. al-Bukhari 3217)

Allah berfirman, ”(malaikat-malaikat) yang memikul `Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta meminta ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan):”Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Mu`min : 7)

Dari Jabir ibnu Abdillah r.a. dari Nabi saw, beliau bersabda, ”Aku telah diijinkan untuk menceritakan seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang memikul `Arsy, sesungguhnya jarak antara daun telinga dan pundaknya adalah sejauh perjalanan tujuh ratus tahun.” (HR. Abu Daud (4727))

Ibnu Qayyim rh berkata : ”Sesungguhnya jika Allah SWT adalah mubayin (berpisah) bagi seluruh alam maka bisa jadi Dia meliputi alam tersebut atau tidak meliputi alam tersebut. Jika Dia meliputi alam tersebut maka hal ini mengharuskan ketinggian-Nya atas alam tersebut secara pasti dengan ketinggian yang meliputi alam yang diliputi-Nya. Oleh karena itu karena langit meliputi bumi maka langit tersebut lebih tinggi dari bumi, dan karena kursi meliputi seluruh langit, maka dia secara pasti lebih tinggi daripada langit, dan karena `Arsy meliputi kursi maka dia secara pasti lebih tinggi dari itu semua maka dia lebih tinggi dari itu semua secara pasti. Hal tersebut tidak mengharuskan adanya kesamaan dengan sesuatu yang diliputinya, tidak pula menyerupainya dan mirip dengannya.” (As-shawa`iqul Mursalah, IV/1308)

http://noerpamoengkas.wordpress.com/2008/07/18/kursi-dan-arsy-allah/

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Kisah Tujuh Malaikat Penjaga Pintu-pintu Langit

Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum dia menciptakan langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.

Ibnu Mubarak mengatakan bahwa Khalid bin Ma,dan bin Jabal RA.”Ceritakanlah satu hadits yang kau dengar dari Rasulullah SAW, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut. Hadits manakah yang yang menurut pendapatmu paling penting ? Mu’adz menjawab. “Baiklah akan kuceritakan. Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur,”Hmm, sungguh kangennya hati ini kepada Rasulullah SAW, ingin rasanya segera bersua dengan beliau. Dia melanjutkan, suatu saat aku menghadap Rasulullah SAW. Beliau menuggangi seekor unta dan menyuruhku naik dibelakangnya, maka berangkatlah kami dengan unta tersebut. kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke langit, dan berdoa ” Puji syukur ke hadirat Allah, yang Maha berkehendak kepada makhluq-Nya menurut kehendak-Nya.” Kemudian Rasulullah SAW berkata, ” Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang, apabila engkau hafalkan, akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak dihadapan Allah SWT.”

Amal yang Tertolak.

“Hai Mu’adz! Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu dijaga oleh malaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya. Maka, malaikat hafazhah (malaikat yang memelihara dan mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia, yang menganggap amal orang tersebut itu banyak, mamuji amal-amal orang itu. Tapi sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepada malaikat hafazhah, ” Tamparkanlah amal ini kewajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, akau diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain, jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya.” Keesokan harinya, ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang cahayanya berkilauan, ia juga memuji lantaran begitu banyaknya amal tersebut. Namun malaikat langit kedua mengatakan. “Berhentilah, dan tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. Allah memerintahkanku untuk menahan amal ini, jangan sampai lewat hingga langit berikutnya.” Maka seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit dengan membawa amal hamba Allah yang sangat memuaskan, penuh amal sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhah dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun saat sampai dilangit ketiga, berkata malaikat penjaga pintu langit yang ketiga, ” Tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. Allah memerintahkan untuk tidak menerima orang sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan diri di tengah-tengah orang lain.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah. Tapi ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah. ” Berhentilah, jangan dilanjutkan. Tamparkan amal ini kewajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub (membangga-banggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untu mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub.”

Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu sampai di langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud (dengki,iri hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya.” Kemudian ada lagi mal;aikat hafazhah dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat di langit keenam, malaikat ini mengatakan, “Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila orang lain yang mendapat musibah. ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pintu berikutnya.” Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara’an. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan kilat. Namun tatkala sampai di langit ke tujuh, malaikat penjaga langit ke tujuh mengatakan, ” Aku ini penjaga sum’at (ingin terkenal). Sesunguhnya orang ini ingin dikenal dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul di saat berkumpul, dan ingin mendapat pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkanku agar amal itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah lillahi Ta’ala, itulah yang disebut riya’. Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya’.

Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba : shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlaq yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ke tujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah ke hadirat Allah SWT. Para malaikat itu berdiri di hadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah SWT. Namun Allah befirman, ” Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. Yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak di ikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian (para malaikat hafazhah). Tapi Aku tak’kan tertipu olehnya. Aku ini Yang Paling Tahu akan ha-hal yang ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. Tidak akan tersenbunyi bagi-Ku seetiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan-Ku atas apa yang terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terduhulu sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apa pun yang lebih samar daripada rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk, yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.”Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali. “Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami kepadanya. ” Maka semua yang ada di langit pun mengatakan. ” Tetaplah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.”

“Tahanlah Mulutmu”

Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata. ” Ya Rasulullah, bagaimana aku selamat dari apa yang baru Engkau ceritakan itu?” Rasulullah SAW menjawab. ” Wahai Mu’adz , ikutilah nabimu dalam hal keyakinan !” Mu’adz berkata lagi. ” Wahai Tuan, Engkau adalah Rasulullah. Sedangkan aku ini si Mua’adz bin jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut ?” Rasulullah SAW bersabda. ” Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahan mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekna orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekan orang lain. Jangan mengangkat diri sendiri dengan menekan orang lain. Jangan riya’ dengan amalmu agar diketahui orang lain. Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak brbisik. Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-orang takut akan keburukan akhlaqmu itu. Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat kebaikan. Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing -anjing neraka jahanam, sebagaimana firman Allah. ” Wannaasyithaati nasythaa.”(Di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya). Aku(mu’adz) berkata.” Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini ?” Jawab Rasulullah SAW, ” Wahai Mu’adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah SWT. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri. dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu. Apabila seperti itu, engkau akan selamat, terhindar dari penderitaan itu .” Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan hadits itu dari Mu’adz RA) mengatakan, “Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana ia seringnya membaca Al’Quran, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al’Quran dalam majelisnya.” Arikel ini Dikutip dari “Alkisah”

http://rudhidayat.wordpress.com/2011/11/26/kisah-tujuh-malaikat-penjaga-pintu-pintu-langit/

 
Leave a comment

Posted by on 23 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Alam Jabarut merupakan kelanjutan dari alam Malakut.

Kedua alam ini sama-sama di dalam alam gaib mutlak. Namun, alam Jabarut berada di atas lagi. Tidak semua penghuni alam Malakut dapat mengakses alam tersebut. Hal ini membuktikan, sesama penghuni alam Malakut tidak memiliki kapasitas yang sama di mata Allah SWT. Alam Malakut memiliki penghuni tetap, yaitu para malaikat utama, seperti Jibril, Mikail, Israfil, dan lain-lain. Alam ini lebih dekat dengan “Maqam Puncak”, yang biasa disebut Haramil Qudsiyyah. Dalam suatu pengelompokan, lapisan-lapisan alam dan maqamnya dapat dibedakan pada beberapa tingkatan.
Tingkatan itu adalah Maqam Ahdah yang mencakup alam Lahut dan Martabat Dzat; Maqam Wahdah mencakup alam Jabarut dan Martabat Sifat; Maqam Wahidiyah mencakup Alam Wahidiyah dan Martabat al-Asma”; Maqam Roh yang mencakup alam Malakut dan Martabat Afal; Maqam Mitsal; dan Maqam Insan dan alam syahadah.
Kalau alam Malakut merupakan tahap atau maqam ruhaniah dan taman jiwa yang hakiki serta senantiasa mempertahankan kesuciannya, alam Jabarut sudah masuk dalam wilayah Lahut atau berada dalam hamparan Marifatullah, tempat seluruh elemen dan yang banyak menjadi satu.
Alam Jabarut sudah masuk di dalam dunia rahasia Ilahi, tetapi masih tetap wilayah alam dalam arti alam gaib mutlak. Alam Jabarut sebagai bagian dari alam gaibmutlak agak sulit dijelaskan secara skema-tis karena sudah masuk wilayah antara alam dan Maqam Qudsiyah.
Alam ini berada di antara wilayah aktual dan wilayah potensial yang lazim disebut dengan al-Ayan al-Tsabitah (akan dibahas dalam artikel mendatang). Penghuni Jabarut adalah sesuatu yang bukan Tuhan dalam level Ahadiyyah, melainkan derivasinya dalam level Wahidiyat.
Dalam buku-buku tasawuf, di alam Jabarut ini berlangsung apa yang disebut sebagai Nafakh al-Ruh (peniupan roh suci Allah) yang kemudian mampu manghidup-kan jasad. Itulah sebabnya alam Jabarut biasa juga disebut dengan alam roh. Di alam ini, kita juga mengenal adanya realitas kesamaran antara “sesuatu” dan “bukan sesuatu”.
Juga kesamaran antara “alam” dan “bukan alam” serta antara “sifat” dan “asma”. Di dalam alam Jabarut terjadi proses suatu keberadaan dari keberadaan potensial ke keberadaan aktual. Alam Jabarut adalah suatu alam yang tidak umum dijangkau oleh alam-alam sebelumnya, termasuk alam Malakut.
Ini sebagai bukti, bukan hanya alam Syahadah yang mengalami tingkatan-tingkatan, tetapi alam gaib juga bertingkat-tingkat. Sesama penghuni alam gaib tidak semuanya bisa mengakses alam Jabarut, berkenalan dengan para penghuninya, dan memahami seluk-beluk peristiwa yang terjadi di dalamnya.
Bangsa jin tidak bisa mengenal seluruh perilaku malaikat, meskipun sama-sama sebagai penghuni Malakut. Sesama malaikatpun tidak saling memahami rahasia satu sama lain. Para malaikat adalah makhluk profesional yang mengerjakan tugasnya masing-masing dan tidak saling mengganggu serta mengintervensi sebagaimana diamanatkan Allah.
Di antara para malaikat, ada malaikat utama dan keutamaannya dilihat dari perspektif manusia yang memilah fungsi-fungsi para malaikat. Sementara itu, alam Jabarut merupakan alam paling tinggi karena di atasnya sudah tidak bisa lagi disebut dengan alam dalam arti ma siwa Allah.
Di atasnya, sudah bukan lagi alam, tetapi sudah masuk dalam wilayah Qudsiyyah. Sebagai alam paling tinggi, tentu menjadi objek cita-cita dan harapan manusia. Namun, perlu ditegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak dituntut secara mutlak untuk memasuki alam-alam itu, namun juga tidak dilarang berupaya untuk itu.
Banyak ayat dalam Alquran yang menjelaskan martabat-martabat kehidupan spiritual manusia dan menantang manusia untuk menaiki jenjang derajat yang lebih tinggi. Alquran mencela manusia yang cenderung sef back ke jenjang derajat lebih rendah (asfala safilin).
Kalau manusia dah berupaya menaikkan status ke alam yang lebih tinggi, namun tidak bisa menembus batas-batas alam tersebut, tidak perlu khawatir dan tak perlu dipermasalahkan. Tugas manusia hanya sebagai hamba dan khalifah. Bagaimana menjadi hamba yang lebih baik dan bagaimana menjadi khalifah lebih sukses di muka bumi ini.
Urusan menembus batas atau menying-kap tabir/hijab lalu memasuki alam dan maqam lebih tinggi itu adalah urusan dan hak prerogatif Allah. Apakah Allah mau memberi petunjuk dan siapa yang akan diberi petunjuk untuk itu, semuanya merupakan rahasia Allah.
Upaya manusia meningkatkan martabat spiritual ke jenjang lebih tinggi ditempuh para sufi dan pengamal tarekat. Namun, substansi pendekatan mereka mempunyai benang merah yang sama, yaitu manusia selalu harus melakukan pembersihan diri (tadzkiyah al-nafs) melalui berbagai “exercise” (riyadhah) dan perjuangan batin (mujahadah).
Dalam Kitab Manhalus Shafi disebutkan langkah-langkah konkret yang dilakukan para salik untuk mencapai tujuan spiritu-alnya. Kitab ini memperkenalkan apa yang disebut dengan ilmu martabat tujuh atau ilmu tahqiq.
Ketujuh martabat itu ialah Hadratul Qudsi (puncak dari tempat penyucian diri), Unsi (tempat untuk bermesraan dengan Tuhan), Mufatahah (tempat untuk membuka rahasia Ilahi), Muwajahah (tempat untuk membuka hijab zu.lma.ni lalu menggunakan energi nuraniyah), Mujalasah (sarana untuk memisahkan dan membersihkan diri dari segala macam kemusyrikan), Muhadasah (tempat untuk menyingkap rahasia melalui Dirinya), Mxisyahadah (menyaksikan “wajah” Tuhan melalui seluruh alam ciptaan-Nya), dan Muthalaah (menghayati keberadaan Tuhan melalui hidayah-Nya).
Bagi para salik yang akan menyingkap hijab dan seterusnya melaju ke alam lebih tinggi, menurut buku ini, sangat dimungkinkan. Jika seseorang mampu melewati maqam-maqam tersebut dengan baik, dipersepsikan manusia bisa mengakses alam manapun yang ia kehendaki.
Tentu saja tidak gampang mengakses maqam demi maqam yang berlapis-lapis itu. Peningkatan dari satu maqam ke maqam berikutnya terkadang ditempuh bertahun-tahun. Namun, tidak perlu berkecil hati karena jika Allah menghendaki, tentu tidak ada rintangan berarti bagi yang bersangkutan.
Memang dalam hadis tasawuf sering diungkap bahwa ada sekitar 10 ribu hijab yang menghijab manusia sehingga sulit mencapai mukasyafah (penyingkapan). Namun, tidak perlu takut dan berkecil hati, karena 100 ribu hijab pun dapat ditembus jika Allah menghendaki.
Seorang sufi mempunyai keuletan karena mempunyai tujuan bukan untuk menembus hijab itu tersingkap, tetapi bagaimana mendekatkan diri kepada Allah, tanpa target lain. Jika ada kalangan sufi memiliki tujuan membuka hijab atau memperoleh karamah dalam pencahariannya, boleh jadi dua-duanya tidak diperoleh. Tuhannya tidak didapat dan karamahnya pun hilang.
Para sufi dan salik tidak jarang terkecoh karena terdekonsentras oleh hal-hal yang tidak substansi. Mereka terkecoh oleh sesuatu yang bersifat sekunder lalu meninggalkan urusan primer. Yang primer itu adalah Tuhan yang sekunder itu adalah kelezatan dalam beribadah, kepemilikan karamah di depan jamaah, dan semacamnya.
Mari kita mencari yang substansi dan yang primer tanpa harus terkecoh dengan yang nonsubstansi dan yang bersifat sekunder, agar mikraj kita berhasil.

http://bataviase.co.id/node/624142

 
7 Comments

Posted by on 22 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Wasiat Nasehat Syekh Abdul Qadir Al-Jailany

Ikutilah Sunnah rasul dengan penuh keimanan, jangan mengerjakan bid’ah, patuhlah selalu kepada Allah swt dan Rasulnya, janganlah melanggar. Junjung tinggi tauhid, jangan menyekutukan Allah swt, selalu sucikan Allah swt, dan jangan berburuk sangka kepadanya. Pertahankanlah kebenarannya, jangan ragu sedikitpun. Bersabarlah selalu, jangan menunjukkan ketidak sabaran. Beristiqomahlah dengan berharap kepadanya; bekerja samalah dalam ketaatan, jangan berpecah belah. Saling mencintailah, dan jangan saling mendendam.
• Tabir penutup kalbumu tak akan tersibak selama engkau belum lepas dari alam ciptaan; tidak berpaling darinya dalam keadaan hidup selama hawa nafsumu belum pupus; selama engkau melepaskan diri dari kemaujudan dunia dan akhirat; selama jiwamu belum bersatu dengan kehendak Allah swt dan cahayanya. Jika jiwamu bersatu dengan kehendak Allah swt dan mencapai kedekatan denganNya lewat pertolonganNya. Makna hakiki bersatu dengan Allah swt ialah berlepas diri dari makhluq dan kedirian; serta sesuai dengan kehendaknya tanpa gerakmu; yang ada hanya kehendaknya. Inilah keadaan fana dirimu; dan dalam keadaan itulah engkau bersatu denganNya; bukan dengan bersatu dengan ciptaannya. Sesuai Firman Allah swt :”Tak ada sesuatupun yang serupa dengannnya. Dan dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat”
• Anakku! Pertama-tama nasihatilah dirimu, kemudian nasihatilah orang lain. Perhatikanlah dirimu, jangan mengurusi orang lain, jangan mengurusi orang lain selama dalam dirimu masih ada sesuatu yang harus diperbaiki. Sungguh celaka, engkau mengaku tahu cara menyelamatkan orang lain! Engkau buta, bagaimana dapat menuntun orang lain? Hanya yang memiliki penglihatan tajamlah yang mampu menuntun umat manusia. Hanya seorang perenang handallah yang mampu menyelamatkan mereka dari samudera ganas. Hanya orang yang mengenal Allah swt lah yang dapat mengembalikan manusia ke jalan-Nya. Seseorang yang tidak mengenal-Nya, bagaimana dapat menuntun manusia ke jalan-Nya?
• Hai orang-orang yang lalai! Secara terang-terangan engkau menentang Allah swt. yang Maha Benar dengan bermaksiat kepada-Nya tetapi merasa aman dari siksa-Nya? Ketahuilah tak lama lagi rasa aman itu akan berubah menjadi ketakutan, masa luangmu menjadi kesempitan, kesehatanmu menjadi sakit, kemuliaanmu menjadi kehinaan, kedudukanmu menjadi rendah, kekayaanmu menjadi kemiskinan. Ketahuilah! Rasa aman dari siksa Allah ‘Azza wa jalla yang akan kau peroleh di hari kiamat sesuai dengan rasa takutmu kepada-Nya di dunia ini. Sebaliknya, ketakutanmu di hari kiamat, sesuai dengan rasa amanmu (dari siksa Allah swt ) di dunia.
Sayangnya! Engkau tenggelam di dunia dan terperosok ke lembah kelalaian, sehingga cara hidupmu seperti hewan. Yang kalian ketahui hanya makan, minum, menikah dan tidur. Keadaan kalian ini tampak nyata bagi orang-orang yang berhati suci.
Rasa rakus terhadap dunia, keinginan untuk mencari dan menumpuk-numpuk harta telah memalingkan kalian dari jalan Allah ‘Azza wa jalla dan pintu-Nya.
Hai yang ternoda karena ketamakannya, andaikata kau bersama penghuni bumi bersatu untuk mendatangkan sesuatu yang bukan bagianmu, maka kalian semua tidak akan mampu mendatangkannya. Oleh karena itu tinggalkanlah rasa tamak untuk mencari sesuatu ( rezeki ) yang telah ditetapkan untukmu, maupun yang tidak ditetapkan untukmu. Apakah pantas bagi seorang yang berakal untuk menghabiskan waktunya memikirkan sesuatu yang telah selesai pembagiannya….?
• Empat hal berikut menghapus agama kalian :
1. Kalian tidak mengamalkan apa yang kalian ketahui.
2. Kalian mengamalkan apa yang tidak kalian ketahui.
3. Kalian tidak mau mempelajari apa yang tidak kalian ketahui, maka selamanya kalian bodoh.
4. Kalian mencegah orang lain untuk mempelajari apa yang tidak mereka ketahui.
• Kalian menghadiri majelis ilmu hanya untuk mencari jalan keluar bagi permasalahan duniawi kalian, bukan untuk mengobati penyakit hati. Kalian tidak mendengarkan nasihat para penceramah, tetapi meneliti kesalahan mereka, kemudian menghina dan mentertawakannya, kalian juga bermain-main dalam majelis. Sesungguhnya kalian sedang mempertaruhkan diri kalian kepada Allah swt yang Maha Agung dan Maha Mulia. Segeralah bertobat, jamgan mencontoh musuh-musuh Allah ‘Azza wa jalla. Berusahalah untuk mengambil manfaat dari apa yang kalian dengar.
• Berpuasalah! Tetapi ketika berbuka jangan lupakan faqir miskin. Berilah mereka sedikit makanan yang kau gunakan untuk berbuka. Jangan makan sendiri, sebab orang yang makan sendiri dan tidak memberi makan orang lain, dikhawatirkan kelak akan menjadi miskin dan hidup susah.
Perut kalian kenyang, tetangga kalian kelaparan, tetapi kalian mengaku sebagai Mukmin. Iman kalian tidaklah sah, jika kalian memiliki banyak makanan sisa, keluarga kalian telah makan, tetapi kalian tolak seorang peminta yang berdiri di depan pintu kalian, sehingga ia pergi dengan tangan hampa.
Jika ini kalian lakukan, ketahuilah, tak lama lagi kalian akan mengetahui berita kalian, kalian akan menjadi sepertinya, kalian akan diusir sebagaimana kalian mengusir peminta itu ketika kalian mampu memberinya.
Sungguh celaka dirimu, mengapa engkau tidak segera bangun dan memberikan sesuatu yang kau miliki dengan tanganmu sendiri. Andaikata kalian mau bangun dan memberinya sesuatu, maka kalian telah melakukan dua kebaikan, yaitu merendahkan diri kepada sang peminta dan berderma kepadanya. Lihatlah Nabi kita Muhammad saw, beliau berderma kepada peminta, memerah susu onta dan menjahit pakaian beliau dengan kedua tangan beliau sendiri. Bagaimana kalian berani mengaku sebagai pengikut beliau saw, perbuatan beliau saw. Kalian hanya pandai mengaku, tetapi tidak memiliki bukti….!

• Jika engkau bertemu dengan seseorang, maka yakinilah bahwa dia lebih baik darimu. Ucapkan dalam hatimu: “Bisa jadi kedudukannya di sisi Allah swt jauh lebih baik dan lebih tinggi dariku”
Jika bertemu anak kecil, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Anak ini belum bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan diriku telah banyak bermaksiat kepada-Nya. Tentu anak ini jauh lebih baik dariku.”
Jika bertemu orang tua, maka ucapkanlah (dalam hatimu):
“Dia telah beribadah kepada Allah swt jauh lebih lama dariku, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang berilmu, maka ucapkanlah (dalam hatimu): “Orang ini memperoleh karunia yang tidak akan kuperoleh, mencapai kedudukan yang tidak akan pernah kucapai, mengetahui apa yang tidak kuketahui dan dia mengamalkan ilmunya, tentu dia lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan seorang yang bodoh, maka katakanlah (dalam hatimu): “Orang ini bermaksiat kepada Allah swt karena dia bodoh (tidak tahu), sedangkan aku bermaksiat kepada-Nya padahal aku mengetahui akibatnya. Dan aku tidak tahu bagaimana akhir umurku dan umurnya kelak. Dia tentu lebih baik dariku.”
Jika bertemu dengan orang kafir, maka katakanlah (dalam hatimu):
“Aku tidak tahu bagaimana keadaannya kelak, bisa jadi di akhir usianya dia memeluk agama islam dan beramal saleh. Dan bisa jadi di akhir usia, diriku kufur dan berbuat buruk.”

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2011/03/normal-0-false-false-false.html

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Kisah Nabi Zakaria AS

Ketenangan menyelubungi segala sesuatu, hingga hembusan angin sepoi musim semi juga terdengar. Cahaya redup sebuah lampu yang lemah menerangi kegelapan. Keredupannya lembut menenangkan jiwa. Tempat itu memiliki kemuliaan, wibawa, dan kesucian di dalam hati. Tempat itu adalah MIHRAB seorang Nabi tukang kayu bernama ZAKARIYA alaihissalam.

Di tengah cahaya redup itu tampak bayangan seorang wanita yang sedang beribadah, sujud, dan ruku’ kepada Tuhan-Nya. Seolah-olah cahaya dalam mihrab itu berasal darinya. Seandainya khusyu’ itu adalah seorang manusia, maka dialah si khusyu’ itu. Dialah MARYAM putra Imran, seorang wanita yang dia memeliharanya pada hari di mana pena-pena ditinggikan dengan perintah dari Allah azza wa jalla.

Terdengar langkah-langkah renta lelaki tua berjalan perlahan-lahan ke mihrab itu. Zakariya terkejut karena di mihrabnya telah tersaji buah-buahan dan makanan lezat. Ia heran dan berkata kepada Maryam, “Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” (QS. Ali Imran (3): 37).

Maryam menjawab, “Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab”. (QS. Ali Imran (3): 37)

Zakariya yang renta termakan usia telah kering air maninya. Istrinya juga sudah tua dan mandul. Namun keberadaan makanan di mihrab itu membangkitkan harapannya. Ia masuk ke dalam mihrabnya dan diapun sujud dengan khusyu’ sambil memohon kepada Tuhannya dengan pengharapan yang teramat sangat,
“Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku! Wahai Tuhanku!”

Seolah-olah dia menghampiri Tuhannya, dengan suara lembut penuh ketundukan ia mengadu kepada Tuhannya, bermunajat dengan rasa malu karena meminta kebutuhan duniawi kepada-Nya.

Ia berkata pelan, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku mandul. Maka anugerahkanlah aku dari Engkau seorang putera yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai” (QS. Maryam (19): 3-6)

Lalu ia memperkuat permohonannya dengan berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Zakariya tersungkur dalam khusyu’nya di mihrab itu. Ia menangis ditemani cahaya redup menenangkan jiwa. Lalu datanglah malaikat yang mulia (Jibril) menyampaikan firman Allah kepadanya dengan suara yang lembut. Malikat itu berkata,
“Hai Zakariya, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya YAHYA, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia” (QS. Maryam (19): 7)

Malaikat memanggil Zakariya yang tengah berdiri shalat di mihrabnya, “Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang-orang shaleh” (QS. Ali Imran (3): 39)

Zakariyya terkejut, dan sangat gembira dan senang. Namun ia bertanya heran:
“Bagaimana akan ada anak bagiku, padahal istriku mandul dan aku (sendiri) sesungguhnya sudah mencapai umur yang sudah tua” (QS. Maryam (19): 8 – juga didalam QS. Ali Imran (3): 40)

Malaikat menjawab kepada Zakariya, “Demikianlah, Dia berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku, dan sesungguhnya telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal kamu (diwaktu itu) belum ada sama sekali. (QS. Maryam (19): 9) Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya” (QS. Ali Imran (3): 40)

Maka Zakariya menghendaki suatu tanda atau dalil untuk meraih apa yang dijanjikan Allah kepadanya dari kehamilan istrinya. Diapun berkata, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengandung)”
Tuhannya menjawab dengan berfirman:
“Tanda bagimu ialah kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah nama Tuhan-mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Setelah diberi khabar gembira kepadanya, diapun keluar kepada kaumnya dengan perasaan gembira. Hatinya diselimuti kebahagiaan dan ia memberi isyarat kepada kaumnya agar mereka bertasbih pada pagi dan petang. Dan agar banyak berdzikir di waktu siang dan malam hari.

Semangat hidup kembali tumbuh dari jiwa seorang tua renta dan wanita tua yang mandul. Yahya lahir kemuka bumi guna menghidupkan suasana gembira antara kedua ibu bapaknya sebagai tanda kebesaran Allah SWT dan sebagai bukti tanda kekuasaan Allah azza wa jalla.

HIKMAH KISAH

Ada banyak hikmah dalam kisah ini.
Diantaranya bahwa setiap mukmin tidak boleh berputus asa dalam rahmat dan karunia Allah. Bahwasanya Allah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kita diperintahkan untuk bermunajat dan memohon hanya kepada-Nya.

Firman Allah SWT:
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. al-Mu’min (40) : 60)

Dalam kisah ini juga dicontohkan adab bermunajat kepada Allah dengan memohon kepada-Nya dengan khusyu’ dan sungguh-sungguh sambil merendahkan suara.

Dan Allah mengabadikan do’a Nabi Zakariya (dan juga Nabi Ibrahim as) sebagai contoh do’a yang patut diucapkan oleh seluruh orang tua.
“Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar Do’a” (QS. Ali Imran (3): 38)

Dari kisah ini juga terdapat perintah Allah kepada Zakariya as untuk bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari” (QS. Ali Imran (3): 41)

Sesungguhnya perintah ini tidak hanya diperuntukkan kepada Nabi Zakariya alaihissalam saja. Tapi diperintahkan Allah kepada seluruh kaum muslimin:

Firman Allah:
“Dan sebutlah nama Tuhan-Mu pada (waktu) pagi dan petang” (QS. Al-Insaan (76): 25)

“Maka bersabarlah kamu, karena janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi” (QS. Al-Mukmin (40): 55)

Seorang ulama besar bernama Hasan al-Banna rahimahullah menyusun sebuah kumpulan dzikir pagi dan petang yang lazim (matsur) dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dzikir dan do’a pagi dan petang “al-Matsurat Sughra” bersumber dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih. (Terlalu panjang bila harus dijabarkan di sini, Insya Allah akan kita bahas dilain kesempatan bila Allah memampukan hamba)

Dzikir pagi dan petang ini masuk dalam salah satu keutamaan Shalat Subuh dan Shalat Ashar disbanding shalat fardhu yang lainnya. Dimana, al-Matsurat Sughra ini ditutup dengan sebuah do’a yang sangat indah dan sungguh dalam maknanya. Sebuah permohonan seorang hamba untuk sahabat-sahabat dan saudara-saudara seiman baik yang kita kenal baik atau tidak.

Berikut saya kutip do’a penutup dzikir pagi dan petang al-Matsurat Sughra (yang artinya):

Ya Allah…
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta-Mu
Telah berjumpa dalam ta’at kepada-Mu
Telah bersatu dalam dakwah kepada-Mu
Telah berpadu dalam syari’at-Mu

Teguhkanlah, ya Allah… ikatannya
Kekalkanlah cinta kasihnya
Tunjukilah jalan-jalanya
Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang
Lapangkanlah dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu
Dan indahnya bertawakkal kepada-Mu
Hidupkanlah hati ini dengan makrifah kepada-Mu
Matikanlah ia syahid dijalan-Mu

Sungguh Engkau sebaik-baik Penolong.
Ya Allah kabulkanlah..

Sampaikan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad
Kepada keluarga, sahabat-sahabatnya
Dan juga sampaikanlah salam
Amiin…

Demikianlah, sepenggal Kisah Nabi Zakariya alaihissalam yang bermunajat kepada Sang Penciptanya.
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya untuk selalu beriman dan bermunajat hanya kepada Allah SWT.

Sesungguhnya dalam Kisah-kisah orang terdahulu terdapat hikmah dan pengajaran bagi orang yang berfikir.

Firman Allah SWT:
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf (12) : 111)

Dan sebaik-baik Kisah adalah Kisah yang diabadikan Allah dalam Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW.
Dan ilmu yang terbaik juga ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 

Doa Nabi Sulaiman

Doa Nabi Sulaiman as Untuk Kerajaan Tiada Banding

Nabi Sulaiman dan nabi Daud termasuk nabi-nabi Ilahi yang Allah swt sebutkan dengan baik di dalam al-Qur’an. Karena nabi Sulaiman as memiliki ketertarikan luar biasa kepada kuda, tentara beliau mengatur pertandingan balapan kuda untuk mempersiapkan diri berperang menghadapi musuh dan nabi Sulaiman as menyaksikan pertunjukan tersebut. Pertandingan berjalan lama sementara waktu utama shalat telah berlalu. Allah swt yang hendak menguji nabi Sulaiman as memaparkan sebuah jenazah di hadapan beliau as. Nabi Sulaiman as menghadapkan wajah ke hadirat Ilahi dan mengangkat tangan berdoa dan berkata:

رَبِّ اغْفِرْ لى‏ وَهَبْ لى‏ مُلْكاً لا يَنْبَغى‏ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدى‏ إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”[1]

Allah swt pun mewujudkan keinginan beliau dan menganugerahkan sebuah kerajaan tiada banding kepada beliau as. Setelah ribuan tahun berlalu kisah kerajaan nabi Sulaiman masih tetap dibicarakan dan kebesaran dan keagungannya selalu diingat.
Doa Nabi Sulaiman as Untuk Taufik Mensyukuri Nikmat-nikmat Ilahi

Pada doa sebelumnya telah kita katakan bahwa Allah swt memberikan sebuah kerajaan tiada banding kepada nabi Sulaiman as. Meskipun mayoritas manusia ketika mencapai kekuasaan dan kekayaan melalaikan Allah swt Sang Pemberi nikmat, akan tetapi setiapkali nabi Sulaiman as melihat kenikmatan-kenikmatan material dan spiritual yang dianugerahkan oleh Allah swt kepada beliau as dan sebelumnya kepada ayahanda beliau, nabi Daud as, beliau berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).”[2]

Suatu hari nabi Sulaiman as bersama bala tentara melewati suatu wilayah dan beliau as mendengar bahwa pemimpin para semut berkata kepada semut-semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari. Nabi Sulaiman as yang memahami bahasa seluruh makhluk hidup ketika mendengar ucapan ini tersenyum dengan tertawa dan mengangkat tangan berdoa seraya mengucapkan demikian:

رَبِّ أَوْزِعْنى‏ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الّتى‏ أَنْعَمْتَ عَلَىّ وَعَلى‏ والِدَىَّ وَأَنْ اَعْمَلَ صالِحاً تَرْضيهُ وَأَدْخِلْنى‏ بِرَحْمَتِكَ فى‏ عِبادِكَ الصَّالِحينَ

“Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”[3]

Nabi Daud Dan Sulaiman Ber-“Hamd” Kepada Allah swt

Ber-“hamd” (memuji) dan bersyukur kepada yang membantu dan menolong adalah sebuah perbuatan yang terpuji dan harus. Dan siapakah yang seperti Allah swt memberikan anugerah, pemaafan dan kebaikan! Apa pun kenikmatan, kemampuan dan kesempurnaan yang kita miliki adalah dari Dia. Allah swt menganugerahkan berbagai kenikmatan kepada dua nabi-Nya, Daud dan Sualaiman as dan memberikan sebagian kenikmatan kepada keduanya yang tidak diberikan kepada yang lain. Allah swt memberikan ilmu tentang hukum dan pengadilan dan membuat tembaga menjadi lembut di tangan beliau as dan menganugerahkan kepada nabi Sulaiman as pengetahuan tentang bahasa burung dan binatang-binatang, penguasaan jin, pengendaraan udara dan kerajaan tiada banding. Namun kedua pemimpin kaum muwahhid memuji dan bersyukur kepada Allah swt dan mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذى‏ فَضَّلَنا عَلى‏ كَثيرٍ مِنْ عِبادِهِ الْمُؤْمِنينَ

“Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hamba-Nya yang beriman.”[4]

 
Leave a comment

Posted by on 19 December 2011 in Nyata dan Keyakinan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.